Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
Thu *44


__ADS_3

Perasaan lega di rasakan oleh mereka bertiga.


Cuaca yang mendung membuat mereka harus segera mrnyelesaikan pemotretan dengan cepat.


Andra hanya dapat berdecak kagum pada kedua gadis di depannya.


Pemotretan berjalan dengan lancar karena sudah ter rencana dengan matang.


Bahkan mereka dapat memangkas waktu dengan penuh perhitungan.


Dengan konsep di luar nalar dan tak biasa Dewi dan Zara membuat pemotretan baju tidur couple di luar ruangan.


Bahkan jika biasanya tempat tidur menjadi properti utama, kedua gadis itu menggantinya dengan pemotretan yang di lakukan di outdoor bahkan di sebuah kebun tanah kosong tak berpenghuni.


Entah konsep dari mana yang mereka terapkan, unik dan eksotik, kalimat yang Dewi ucapkan saat Andra menanyakan konsep pemotretan pada mereka.


"Wi, aku anter kamu dulu baru aku ke apartement" ucap Zara karena hari ini Dewi harus berangkat sift dua.


"Apa nanti kamu nggak cape Ra, kan harus ngedit dulu, soalnya kan waktu kita sedikit dan harus upload nanti malem" jelas Zara.


"Apa aku naik ojek online aja Ra? biar cepet, lagian nggak kena macet lagi"


Jedeerrrrr


"E busett monyong."


Zara tergelak hingga memperlihatkan barisan giginya yang putih.


"Noh hujan bentar lagi turun, lu mau sampai mall baju basah kuyup?" ujar Zara puas.


Dewi terdiam pasrah.


"Lu berangkat pake mobil Zara aja Wi, biar Zara bareng gue, jadi biar mempersingkat waktu."


Andra memberikan alasan yang logis hingga membuat kedua gadis itu saling pandang.


Padahal tujuan utama Andra tak lain tak bukan adalah bisa berdua bersama Zara.


"Ehm bagus juga ide nya." timpal Dewi berbinar.


"Tapi kan elu belum punya SIM Wi?"


"Gampang, tar kalau kena razia tinggal kasih aja KTP."


"Emang kalau d kasih KTP bisa lolos gitu Wi?" Andra heran.


"Ya kita perlu ber usaha, selebihnya biar Maha Kuasa yang menentukan."


Jawaban enteng Dewi membuat Zara dan Andra terdiam.


Ketiganya pun berpisah setelah kata sepakat, Dewi membawa mobil Zara sedangkan Zara ikut naik mobil Andra.


"Kita langsung pulang apa makan dulu Ra?" Andra yang memang sudah menahan keroncongan di perutnya sejak pagi sudah merasa tak dapat lagi menahan laparnya.


"Ehm, terserah kak Andra."


Karena sebenarnya Zara pun beberapa kali mendengar suara yang keluar dari perut pria di sebelahnya berbunyi.

__ADS_1


"Ehm, oke kita ke cafe Juned karena sekalian ada urusan yang harus kami selesaikan."


Zara mengangguk setuju.


Senyuman hangat menyambut keduanya saat Andra dan Zara memasuki cafe.


"Pagi mas, mba...silahkan masuk ke dalam, sudah di tunggu sama mas Zain di dalam." Karyawan yang memang sudah mendengar berita tentang kejadian yang menimpa sahabat bosnya pun mengira jika kedatangan Andra adalah untuk membicarakan masalah tersebut.


Zara menatap Andra intens.


"Apa kak Andra mengatakan pada mereka jika kita akan ke sini?"


Andra menggeleng ringan" Mungkin mereka mengira aku ingin menemui Juned."


Zara membalas anggukan Juned yang menyambut mereka di dalam ruangan pribadinya.


"Bagaimana kelanjutannya bro, lu udah dapat identitas cecu**** itu secara menyeluruh?"


Zara menatap Andra tajam, sedangkan Andra hanya dapat mengusap tengkuknya.


Mulut sahabatnya itu memang tergolong matic, tak ada rem untuk menghentikan ucapannya.


Juned memandang Andra dan Zara bergantian.


"A apa dia tidak ..belum tahu hal ini?" tanya Juned ragu.


Andra mengangguk dengan mencebikan bibirnya.


Sudah tentu dengan kalimat yang Juned katakan Zara pasti sudah merasa curiga.


"A ada apa sebenarnya?"


Zara terdiam, dirinya merasa ikut prihatin pada Diego.


Hasil jerih payahnya lenyap dalam semalam.


Andra mengangguk penuh semangat saat karyawan cafe menghidangkan pesanan sang bos.


Andra menyantap dengan lahap sementara Juned hanya termanggu melihat sahabatnnya itu.


"Heum, ini lokasi perusahaan di mana dia dulu bekerja sebelum masuk bengkel." Andra menyodorkan ponsel ke hadapan Juned.


"PT.Build.Tbk..." ucap Juned mengrenyitkan alisnya, mendengar nama sebuah PT.yang cukup familiar di telinganya.


"Apa...itu perusahaan milik Revan kak, memang ada hubungan apa dengan kejadian ini?" Zara terlihat kaget saat mendengar nama sebuah perusahaan yang Juned ucapkan, karena itu adalah perusahaan milik Revan.


Andra mengambil ponsel di tangan Juned lalu menyerahkan pada Zara.


"Benar kah ini perusahaan milik mantanmu?"


Zara mengangguk pasti, karena ia pun pernah di ajak ke perusahaan itu.


Andra pun menunjukan poto pria yang di curigainya pada Zara, yang kemungkinan besar adalah mantan karyawan Revan.


"Apa kau juga pernah bertemu pria berwajah seperti ini?" tanya Andra.


Zara menggeleng.

__ADS_1


Andra membersihkan bibirnya dari sisa makanan dengan tisu.


"Ehm kita lanjut ntar malem bro, gue mau antar dia dulu."


"Oke."


Keduanya pun keluar menuju mobil sedan yang terparkir di samping cafe.


Andra menjalankan mesin mobilnya menuju ke apartemen Zara.


"Ehm kak, apa aku saja yang akan menanyakan pada Revan, identitas pria yang berada dalam CCTV itu?"


Andra terdiam, sebenarnya hati kecilnya tak rela jika Zara kembali berhubungan dengan pria itu, namun tak ada cara lain yang lebih cepat.


"Apa kau tidak apa-apa jika harus kembali berhubungan dengannya?"


"Tidak apa- apa kak, demi urusan ini cepat terselesaikan."


"Baiklah aku akan mengantarmu untuk menemuinya."


Zara mengangguk setuju.


Dada Andra bergetar saat Zara melambaikan tangan ke arahnya dengan di iringi senyum super manis, setelah turun dari mobil.


"Bye Ra, besok aku jemput."


Zara mengangguk setuju.


Andra melajukan mobil sedan edisi terbatas kesayangannya.


Mobil dengan fitur canggih yang tentu saja sesuai dengan harga yang fantastis yang masih jarang orang di nusantara ini yang memilikinya.


"Mom aku malam ini tidur di apartemen lagi mom, ada satu urusan belum kelar."


Pesan yang Andra kirim lewat ponselnya ke sang mommy.


Tiga puluh menit perjalanan akhirnya sampailah Andra di hunian apartemen miliknya.


Setelah membersihkan tubuh dan berganti dengan outfit rumahan Andra kembali membuka laptopnya, Sementara alunan lagu terdengar lembut dari seorang Ed Sheeran yang menyanyikan lagu perfect.


Suasana apartemen yang tenang membuat Andra lebih fokus pada laman pencariannya.


PT.Build Tbk.


Keluar lah artikel yang di carinya.


Perusahaan besar yang di pimpin oleh seorang pria bernama Revan.


Dada Andra berdesir, tiba-tiba rasa panas menjalar di hatinya saat muncul gambar pria berwajah tampan keluar saat ia mengetik pemilik perusahaan tersebut.


Pemuda tampan ber umur 24 tahun yang menjadi pemilik perusahaan tersebut memang benar Revan.


Pria yang selama ini menjadi andil utama penyebab ia kini dekat dengan Zara.


Karena Revan lah ia terikat perjanjian dengan Zara, dan sampai saat ini belum di ketahui alasan apa yang membuat Zara begitu bersikeras mengakhiri hubungannya dengan pria itu.


Andra pun berdecih kesal melihat deretan prestasi yang Revan dapatkan selama memimpin perusahaan miliknya.

__ADS_1


Nggak iri gue sama elu, buat apa wajah tampan dan prestasi selangit jika akhirnya cewek lu ninggalin elu.


__ADS_2