Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU 66


__ADS_3

Pagi ini Zara bangun dengan malas, gelegar suara petir saling bersahutan membuat dadanya berdebar.


Dewi pulang kampung mengantarkan keluarganya, tinggallah ia sendiri dalam kesepian di kamar apartemennya.


Perut yang mulai terasa lapar membuat Zara mengacuhkan suara guntur yang menggelegar dan menciutkan nyalinya.


Tak butuh waktu lama karena Zara hanya membuat nasi goreng simpel, cukup untuk mengganjal perutnya di cuaca dingin ini.


Baso dan sosis serta telor sebagai pelengkap cukup untuk menambah protein di nasi gorengnya.


Nggak ada kamu, aku pasti akan mati Wi hiks, batin Zara sedih, teringat sahabatnya yang kini jauh di mata.


Andai ia masih memiliki keluarga tentu lah tidak akan sepi seperti sekarang.


Bahkan mungkin mereka sedang mengadakan pesta kelulusannya karena sudah berhasil menjadi seorang tukang insinyur, batinnya.


Meski nasi goreng ber cita rasa jauh dari sempurna, Zara masih bisa mengucap syukur karena ia terbebas dari rasa lapar yang menyiksa perutnya.


Sementara itu di sebuah ruangan, Revan tersenyum memandang layar ponselnya.


Akhirnya kau telah berhasil Ra, menjadi seorang sarjana adalah impian terbesarmu.


Tok tok tok


"Masuklah"


"Pagi pak, ini bubur ayam yang anda pesan" Roy menaruh sebungkus bubur ayam tanpa kacang seperti yang biasa Revan minta.


Revan tersenyum, dan mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.


"Cantik" ucapnya tanpa sadar.


"Hah" Roy menoleh arah ke bosnya yang masih fokus pada layar ponsel dan belum membuka bungkusan bubur yang ia bawa.


"Bos, di makan buburnya."


"Heum" Revan menjawab dengan deheman singkat.


Roy kembali memutar wajahnya sebelum tuas pintu di tekan.


"Bos, makan sebelum dingin" titahnya lagi.


"Iya Roy, nanti akan ku makan,kau keluarlah, aku sedang ingin memandangnya sampai puas"


Andai saja ia masih bersama Zara, pastilah poto mereka akan terpampang di postingan yang kemarin Zara upload.


Di hari bersejarah kemarin, Zara hanya meng up load poto kebersamaannya dengan Dewi dan keluarganya.


Revan tersenyum senang, ternyata Pria yang meng klaim dirinya adalah kekasih Zara tak ada dalam kebersamaan saat acara wisuda kemarin, bahkan tak ada satu pun poto mereka.


Kau memang masih bisa ku perjuangkan Ra, dan sampai kapanpun aku akan terus berjuang agar kau kembali di sisiku, batinnya.


Tok tok.


"Ya, masuk"


"Bos, apa hari ini kita jadi melihat lokasi pembangunan gedung cabang di kota xx?"


Revan terdiam dan melihat ke luar jendela, gerimis kecil yang mungkin akan menjadi hujan besar karena awan yang begitu pekat.


"Lain waktu saja Roy, hari ini cuaca sedang tidak bersahabat."


"Baik pak."


Roy lalu melangkah ke luar ruangan, dari sudut matanya melihat bungkusan bubur ayam yang sama sekali belum di sentuh atasannya itu.

__ADS_1


"Bos, belum makan."


"Belum."


"Itu..di makan bos."


Revan menatap nanar ke arah bungkusan bubur ayam yang sudah beberapa menit belum di bukannya, dan mungkin sudah dingin.


Revan menatap Roy dingin.


"Kenapa kau tak bilang dari tadi Roy?" Dengan tergesa Revan akhirnya membuka bubur ayam tersebut.


Ya salam, bos, berbusa mulutku ini sudah mengingatkanmu.


Roy keluar dengan umpatan panjang pendek yang hanya di ucapkan dalam hatinya.


Sejak putus dengan gadis model itu, sepertinya membuat salah satu syaraf bosnya itu terganggu.


Sikap absurd membuat Roy sering di landa ke cemasan, terkadang bosnya galak bagai singa, dan tiba-tiba berubah menjadi seekor kucing yang imut dan lucu.


Bagai rollercoaster jika berada dengan atasannya itu.


Hanya satu yang bisa menyembuhkan bos Revan kembali ceria seperti semula, batin Roy.


Apa aku harus membuat mereka bersatu kembali, lanjutnya.


Tapi non Zara kini sudah memiliki pria lain yang lebih tampan dari atasannya.


Eh, kata siapa dia lebih tampan, bos Revan bahkan seorang CEO, sedangkan dia hanya seorang anak kesayangan mommynya yang seorang desainer terkenal itu.


Tentu saja bos Revan lebih unggul daripada pria itu, batin Roy dengan seringai lebar.


Tak ada yang lebih pantas mendampingi nona Zara dari pada Bos Revan ha ha ha hahaaa.... ghooeekh, tenggorokan Roy rasanya tercekat.


Apa aku sedang terkena karma karena menggunjingkan orang lain, amit-amit ya Tuhan maafkan hambamu ini.


Revan melihat ponselnya saat satu pesan kini membuat mulutnya terbuka lebar.


Diego sudah berada di front office dan masih menunggu panggilannya.


"Roy, panggil Diego ke ruanganku sekarang juga."


"Diego??" Jawab Roy bingung.


"Iya, pria yang berada di Front office."


"Baik pak."


Roy bergegas menuju Lift ke ruang di lantai bawah.


Ting.


Roy menyisir ruangan yang tampak sepi karena seluruh karyawan sudah mulai bekerja.


Satu sosok yang berada di kursi barisan paling ujung menarik perhatian Roy.


Apa itu pria yang di maksud si Bos, batinnya.


"Ehm hmm, selamat pagi."


"Pagi pak" jawab Diego tenang.


Cih percaya diri juga ni orang, gumam Roy.


"Apa anda yang bernama pak Diego?"

__ADS_1


"Iya betul pak."


"Anda di minta ke ruangan pak Revan sekarang juga."


"Ehm di mana ya ruangan pak Revan pak?"


"Ikuti saya."


Diego mengikuti langkah Roy yang tegap dengan dada membusung.


Ting.


"Sialan lu kutu kupret, sampai berakar gue nunggu duduk di bawah" umpat Diego keras dengan polos, ia tak sadar bahwa saat ini ia berada di bawah kekuasaan pria yang di sebutnya dengan kutu kupret tersebut.


"Pak apa perlu saya lempar tubuhnya lewat jendela ini."


Glekk.


Mampus gue, dasar mulut sialan, nyerocos nggak pake filter, Diego membatin dengan wajah cemas.


Revan tersenyum menahan tangannya di udara.


"Nggak apa-apa Roy, kami berteman."


Berteman si ber teman bos tapi juga harus ber etika sedikit dong, ini di kantor dan bos adalah atasannya, Roy membatin dengan pandangan tajam ke arah Dirgo.


Ngiiikkk.


Sontak tatapan Diego kini tertunduk, tak se garang tadi, kini ia sadar, berada dimana ia saat ini.


"Duduklah, dan Roy tolong kau ambilkan formulir di ruang personalia"


"Baik pak"


"Hufff" Diego bernafas lega setelah punggung Roy menghilang di balik pintu.


"Sorry bro, lupa gue, eh oiya 'pak'..maaf he hee"


"Udah biasa aja kalau lagi berdua, sebut pak kalau di depan orang."


"Ngeri gue, anak buah lu kaya macan."


Revan tersenyum masam.


"Sorry sudah buat lu nunggu lama"


"Ahh baru berapa menit, nunggu balasan perasaan bertahun-tahun juga gue kuat."


"Hah, apa"


"Ah nggak, lupakan"


Tok Tok.


"Masuk.


"Pak ini formulirnya" Roy menaruhnya di atas meja dan lirikan tajam sempat ia layangkan ke Diego membuat nyali pemuda itu kembali menciut bak kerupuk yang di siram air.


Diego menatap kertas putih di mana ia harus mengisi data dirinya.


"Pinjem pulpen, gue lupa bawa" ucap Diego polos, tanpa menyadari satu tatapan liar bak singa lapar yang siap mengulitinya hidup-hidup.


Diego menatap Revan tertegun, karena saat bersamaan Revan pun menatapnya dengan satu kedipan mata isyarat.


"Ahh eh mata lu kenapa"

__ADS_1


Revan menelan salivanya kasar.


Nyawa lu ada di ujung tanduk bro.


__ADS_2