Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*169


__ADS_3

Nino jatuh terhuyung karena tendangan Manu menyebabkan pintu kamar vila jebol.


Tenaga dan amarah yang memuncak membuat kekuatannya bertambah berkali-kali lipat.


Nino memandang Manu dengan wajah panik dan mulai gusar.


"Siapa kau, kenapa bisa ada di sini..?"tanya Nino garang.


"Masih ada hati Lu bertanya kenapa Gue ada di sini heum? mau Lu apakan dia hah?" jawab Manu tak mau kalah .


"Bukan urusan Lu, toh dia bukan istri Lu, dia adalah pelakor yang sudah merusak rumah tangga orang" Nino menjawab dengan percya diri.


Bugh.


Nino terhuyung karena kepalan tangan Manu mendarat manis di rahangnya.


"Sialan, berani-beraninya Lu nyari masalah sama Gue hah"


Nino membalas dengan amukan membabi buta ke arah Manu, namun dengan gesit dan lincah Manu mengelak dari serangan Nino, menghabiskan masa remaja di jalanan dengan tawuran adalah dunianya.


Bahkan Manu sudah memiliki jam terbang tinggi tentu saja itu banyak membantunya.


Nano dan Nono yang mendengar ke gaduhan di dalam vila segera masuk untuk mengetahui apa yang terjadi.


Nino semakin gusar saat Manu tetap terlihat santai meski kedua sahabatnya sudah datang.


"Cih beraninya Lu keroyokan doang" ujar Manu.


Nino tersenyum masam, dia memang sudah terbiasa kerja sama, pantang jika harus melayani one on one, pikirnya.


Brakk.


Manu menyingkirkan kursi kamar dengan satu tendangan, agar memudahkannya melumpuhkan ke tiga pria yang kini sudah mengelilinginya.


"Urusan Gue sama Elu, ayo.." Manu menggerakan telunjuknya ke arah Nino.


Darahnya mendidih saat di lihatnya dada Zara banyak terdapat kissmark.


Nono sebagai anggota yang lebih tua merasa kesal karena anggotanya di remehkan.


"Lu hadapi Gue dulu" ujar Nono penuh percaya diri.


"Sorry Lu belakangan, setelah Gue beri pelajaran pada teman songong Lu ini.."


Bugh.


Nino mengusap sudut bibirnya yang terkena bogem mentah Manu.


"Brengsek..."


Nino membalas membabi buta namun semua pukulannya hanya mengenai tempat kosong, Nono dan Nano pun mulai ikut menyerang.


Serangan ke tiga pria itu tak membuat Manu mengalihkan fokus arah serangannya.


Ia hanya akan menyerang Nino.


Bug bug brakk.


"Aaahhhkk..." pekikan Nino terdengar saat tulang keringnya terkena tendangan telak dari Manu.


Nano dan Nono kian marah, keduanya berusaha menyerang Manu agar terdesak.


Namun serangan mereka tak ada artinya, ia terus mengarahkan pukulan dan tendangan pada Nino, meski kedua sahabatnya mencoba melindungi.

__ADS_1


Bugh.


"Aakkhh." teriakan Nino kembali melengking saat tendangan Manu bersarang di pinggangnya.


"Itulah akibat dari perbuatanmu" ujar Manu sinis.


"Hei brengsek memang apa yang telah aku lakukan..." tanya Nino polos, karena memang dia tak melakukan apapun.


"Sialan kau berani mengelak atas perbuatan bejat mu hah..." hardik manu panas.


Nino mengerutkan alisnya, namun ia harus tetap waspada, Manu masih terus mengincar kelengahannya.


Bugh brakk.


"Aaakhh baji****...." umpat Nino semakin kesal, kini tubuhnya terbanting menimpa kursi membuat tulang rusuknya sakit bukan main.


Nano dan Nono saling pandang, kenapa Manu selalu berusaha menyerang Nino.


"Hadapi Gue brengsek.." bentak Nono.


"Gue harus membuat bajingan ini tanggung jawab" ujar Manu sinis dengan mata menatap tajam ke Nino.


"Apa salah Gue gobl**!!" hardik Nino kesal, seluruh tubuhnya biru lebam terkena amukan Manu.


"Masih saja kau mengelak, apa yang sudah kau lakukan padanya hah...?" tanya Manu sambil mengedikan dagunya ke Zara yang masuh terkulai lemas di ranjang.


Darahnya mendidih melihat dada Zara penuh jejak cinta, untung saja ia segera sigap menyelimutinya.


Nino mengerutkan alisnya karena memang ia belum menyentuh tubuh wanita itu.


"Memang apa yang sudah Gue lakukan?"tanyanya bingung.


"Sialan masih kau mengelaknya brengsek..."


"Aaaakhhh..." lengkingan Nino terdengar nyaring, membuat bulu tengkuk merinding.


Dengan gerakan cepat, Manu berhasil me miting tubuhnya bahkan terdengar bunyi tulang tangannya patah.


"Ahhkk...ampun..ampun" ucap Nino dengan nafas tersengal.


"Hei lepasin dia brengsek..." Nano berteriak nyaring, tak tega melihat temannya tak berdaya di tangan musuh.


"Lu maju satu langkah maka dia selesai..." hardik Manu tegas.


Nano dan Nono saling tatap dan mundur perlahan.


"Ampuun ...sungguh saya tak melakukan apapun pada wanita itu" suara Nino lemah tak berdaya.


"Bohong..."


"Sungguh tanya lah padanya setelah dia sadar, tapi saya tak melakukan apapun"


Manu menatap Nino tajam, tak ada ke bohongan di netranya yang pasrah.


"Sampai kapan kau akan menyembunyikan kebohonganmu hah, sudah jelas tanda yang kau tinggalkan apa kau masih mengelak brengsek ...."


Tangan Manu terangkat tinggi dan beberapa centi lagi tangannya menyentuh Nino yang tak berdaya tiba-tiba...


"Tunggu, hentikan .." semua orang menatap ke arah asal suara.


Manu memandang Andra yang berwajah santai.


"Lihatlah apa yang telah dilakukan pada istrimu" ujar Manu mengedikan dagu ke arah Zara.

__ADS_1


"Apa maksudmu, pria itu bilang tak melakukan apaun pada Zara" bisik Andra karena ia yakin jejak itu adalah hasil karyanya, bukan pria itu.


"Kau percaya dengan apa yang di katakan? Lihatlah ...dada Zara penuh dengan jejak bibirnya."


Andra menggaruk kepalanya dan tersenyum masam, lalu melangkah mendekat ke Manu dan berbisik.


"Itu jejak yang ku buat tadi malam" bisiknya santai.


Glek.


Tenggorokannya bagai tersekat, wajahnya me manas, Manu baru sadar bahwa kini Zara adalah istri sah Andra jadi pelaku yang sesungguhnya sudah tentu adalah suaminya sendiri.


Manu memutarkan pandangannya jengah.


Andra pun bergegas merapi kan baju Zara dan mulai menepuk pipinya lembut.


"Sayang ...bangunlah..." ucapnya lirih.


Andra menatap ketiga pria yang kini terlihat panik.


Rupanya mereka telah di tipu oleh bos yang menyuruhnya untuk merusak wanita yang di anggap pelakor tersebut.


"Siapa yang menyutuh kalian untuk melakukan ini pada istriku hah?" kalimat datar dengan tatapan tajam bagai seekor srigala yang siap menerkam mangsanya ke arah tiga pria itu bergantian.


"K kami tidak tahu Tuan, kami hanya di suruh .."


"Di suruh untuk apa hah ??" hardik Andra dengan suara menggelegar.


Sandy yang kebetulan baru datang di ruangan itu beberapa kali menatap ke arah Manu, ia mengerjapkan matanya, dan penglihatannya tak salah, Manu adalah salah satu asisten dari perusahaan besar yang pernah bekerja sama dengannya.


"D di suruh untuk menggauli wanita pelakor itu" jawab Nano lirih.


"Siapa yang menyuruh kalian?"hardik Andra tak sabar.


Ketiganya menggeleng kompak.


"K kami hanya di suruh, lewatpesan tanpa nomor, dengan bayaran uang banyak T tuan" Nano menimpali dengan jujur.


"Ehm apa dia lelaki atau perempuan?" Sandy tiba-tiba menyela.


Ketiga pria itu saling pandang lalu Nano menyahut.


"W wanita Tuan, karena ia menyuruh kami menggauli pelakor yang telah merebut suaminya."


Sandy Manu dan Andra saling pandang.


"Fitri..." ucap ketiganya kompak.


Andra mengepal tangannya keras, ia ingin membuat perhitungan dengan gadis itu namun ia pun tak tega meninggalkan Zara yang masih dalam keadaan tak sadar.


"Gue tahu dia di mana" ucap sandy.


"Kau urus Zara, biarkan wanita itu yang jadi urusanku" ujar Manu dingin.


Andra mengangguk.


"Dan kalian ..berkumpul kah di situ, sebentar lagi regu tembak akan datang menjemput nyawa kalian" ujar Manu santai lalu melangkah pergi.


"Tuan jangan tinggalkan kami Tuan..."


"Tuan jangan bunuh kami Tuan..ampuni kami tuan ..."


Sandy dan Andra hanya tersenyum puas mendengar kedua pria bertubuh tegap saling berangkulan dengan wajah pucat.

__ADS_1


__ADS_2