Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*169


__ADS_3

Di ujung telepon Gunawan terdiam, kalimat singkat namun membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


Siapa yang berani bermain api dengannya.


"Di mana terakhir kalian bertemu?" tanya Gunawan.


Pria paruh baya yang masih terlihat tegas itu tampak tegang lalu mematikan panggilannya.


"Nu..."panggilnya pada Manu yang sedang mengikuti rapat di perusahaan.


"Ya Bos.."


"Serahkan urusan perusahaan pada Tim, sekarang juga kau cari putriku."


"K kenapa Zara ?" tanya Manu tak sadar memanggil tanpa sebutan 'Non' seperti biasanya.


"Cepatlah kau ke sini sekarang juga" hardik Gunawan dari ujung telepon.


Manu pun terpaksa menghentikan rapat dan menyuruh tim nya untuk meneruskan tugas-tugasnya.


Tak biasanya Gunawan bersikap keras fan tegas selain urusan kantor, apalagi dari nada suaranya ia tampak sedang panik.


Dengan kecepatan tinggi Manu memacu kereta besinya kembali ke gedung apartement.


Tok tok tok.


Ceklek.


Wajah tegang Gunawan yang sudah tak sabar langsung menyambut.


"Ini titik terakhir Zara di culik dan kau kerahkan semua anak buah kita untuk melacak siapa yang telah berani mencoba mencari masalah denganku, kau retas semua kamera pengawas di mall tersebut, jalan keluar ataupun sudut yang berada di sekitarnya harus kau dapatkan sekarang juga, cepat..." titah Gunawan.


Manu kembali keluar memanggil Do dan kedua temannya.


Sementara itu Zara yang berada di sebuah taxi tampak duduk dengan tenang.


"Pak..di mana tempatnya apa masih jauh?" tanya Zara pada sopir taxi.


"Sebentar lagi Non, di hotel R sekitar sepuluh menit lagi" jawab sang sopir ramah.


"Maaf Pak, apa AC nya bisa di hidupkan Pak?" pinta Zara yang merasa begitu gerah di dalam mobil karena macet dan AC yang mati.


"Wah maaf Non, AC nya sedang rusak maaf .." jawab sopir dengan senyum masam merasa tak enak hati.


"Ahm tidak apa-apa Pak" Zara berucap sambil membuka kaca pintu mobil.


"Kalau Non haus, di situ ada minuman Non, silahkan ambil."


"Baik Pak terima kasih" tangan Zara langsung mengambil sebuat botol air mineral.


Meski taxi tersebut memiliki AC yang rusak tapi layanannya cukup memuaskan, sikapnya ramah dan di sediakan beberapa makanan camilan untuk para penumpang.


Dan tatapan iba sang sopir pun tak di lihat oleh Zara karena ia telah jatuh tertidur pulas di kursi penumpang.


"Maafkan Bapak Non, bapak terpaksa melakukan ini, semoga Non selalu di lindungi Yang Maha Kuasa" ucap sang sopir taxi lirih saat ia memutar balikan arah tujuan.


Empat puluh lima menit taxi yang membawa tubuh Zara pun sampai di sebuah vila sederhana di pinggiran kota.

__ADS_1


Sopir taxi hanya bisa memandang iba saat dua orang bertubuh tegap membopong tubuh penumpangnya.


"T tuan, tolong jangan apa-apa kan Nona ini, kasihanilah dia T tuan" ujar sopir taxi iba.


"Heh apa urusannya sama kamu, sudah pergi sana" hardik pria bertubuh tegap yang mem bopong Zara.


Takut nyawanya terancam, sopir taxi pun melajukan taxi nya keluar dari area vila.


Ancaman dua pria itu membuat hatinya ketar-ketir, meski se gepok uang sudah ia terima tapi hati nuraninya masih memiliki rasa iba.


Dengan entengnya tubuh Zara mereka bawa ke dalam vila dan membaringkan di atas ranjang.


Seringai puas tersungging dari bibir seseorang saat memandang kedatangan pria-pria tersebut, lalu pergi dari vila setelah terlebih dahulu memotret Zara.


"Bagus, letakan di kamar tamu dan kunci rapat semua pintu dan jendela, jangan sampai ia lolos" ujarnya dengan tatapan penuh kebencian.


"Baik Bos."


Ceklek.


Perlahan tubuh Zara mereka baringkan di ranjang di salah satu kamar di vila tersebut.


"Gue mau ke belakang dulu, perut gue mules" ucap salah satu pria.


"Cepatlah sebelum Bos marah besar."


Pria tegap yang berkulit lebih gelap bergegas ke kamar mandi, tinggalah pria satu lagi.


Tatapannya beralih ke tubuh Zara yang tergeletak tak berdaya.


Glek.


Mata indah yang terpejam dengan bibir mungil merah merona, bak boneka yang sedang tidur pulas, sungguh pemandangan yang tak pernah ia nikmati seumur hidup.


Pria itu perlahan melangkah mendekat ranjang, tangannya menjulur ke tubuh Zara, dengan lembut ia melepas kancing kemeja baju Zara.


Dada putih mulus dengan dua gundukan indah mulai terlihat.


Glek.


Namun gerakannya terhenti seketika, matanya membulat sempurna, dada indah berwarna putih itu tampak di kelililingi bercak merah, dan ia bukan lelaki polos yang tak tahu tanda apa itu.


Jejak Kissmark memenuhi dada Zara.


Pria itu menggeleng tak percaya.


Wajah cantik tapi sayang tubuhmu kotor, umpatnya dalam hati.


Namun matanya tak pernah lepas menatap bagian dada Zara yang telah terbuka.


Ia menggelengkan kepalanya cepat.


Tak sudi aku menyentuh gadis kotor seperti dia, secantik apapun tubuh kotor tetaplah kotor, ia membatin.


Dengan kasar ia kembali mengancingkan baju Zara dan merapikannya kembali.


Ceklek.

__ADS_1


Satu pria tegap itu mengedikan dagunya memberi isyarat agar segera keluar dari dalam kamar.


"Ayo kita ke luar" ajaknya.


"Lalu bagaimana dengan wanita ini" ucap pria berkulit lebih terang.


"Ehm gadis ini biar nanti Bos yang akan mengurusnya, kita ada urusan lain yang bos suruh."


Keduanya pergi meninggalkan vila bersamaan dengan datangnya sebuah mobil berpenumpang tiga pria bertampang seram memasuki area vila.


Ke tiga nya turun dari mobil dengan penuh semangat, sebut saja Nino, Nano, dan Nono.


Mereka bagai mendapat durian runtuh saat seseorang datang dengan setumpuk uang menyuruh untuk menggauli seorang wanita pelakor di vila tersebut.


"Oke sebagai ketua Gue yang petama kali akan melakukan tugas itu" ucap Nono.


"Heum bukannya kau harus mengalah pada yang lebih muda?" tanya Nano.


"Hei hei di antara kalian akulah paling muda, jadi seharusnya kalian berdua memberi kesempatan padaku dulu.


Ke tiga pria bertubuh kekar itu saling beradu pendapat, masing-masing di antara mereka ingin mendapat bagian pertama yang melakukan tugas menyenangkan itu.


Melihat tubuh Zara yang tergeletak di ranjang kamar dengan pintu sedikit terbuka, membuat mereka seketika menelan air liur.


Tak pernah melihat korban se cantik itu, apalagi dengan upah yang sangat banyak sudah mereka terima.


Akhirnya dengan sebuah koin, keputusan di ambil sebagai kata mufakat.


"Yezz ..." pekikan bahagia dari mulut Nino karena ia mendapat giliran pertama.


Nano dan Nono hanya bisa menggaruk kepalanya pasrah.


Nino dengan senyum penuh percaya diri memasuki kamar lalu menguncinya.


Nano dan Nono menuju pintu belakang, mereka tak ingin mengganggu sahabatnya saat melakukan tugas tersebut.


Mata Nino berbinar terang, beberapa kali ia mengusap sudut bibirnya, melihat Zara tidur dengan pose menantang membuat alir liurnya terasa hendak menetes.


Dengan perlahan ia membuka kancing baju Zara satu persatu, meski sudah berpuluh wanita yang pernah ia gauli tapi baru pertama ini ia melihat tubuh begitu putih dan mulus wajahnya pun bak bidadari.


Decakan kagum keluar dari bibirnya, kancing yang sudah terbuka memperlihatkan belahan dada Zara terpampang nyata.


Glek.


Namun kedua alisnya mengerut saat di lihat dada putih itu penuh jejak cinta.


Glek.


Kalau pelakor model seperti ini mah aku juga mau...,ucapnya dalam hati.


"Hhmm wangi tubuhnya ...." Nino bermonolog sendiri sambil mengendus aroma wangi tubuh Zara.


"Sayang tak usah kau merebut pria yang sudah ber istri, aku masih jomblo dan mau jadi suamimu yang setia, akan ku lakukan semuanya untukmu sayang..." ucapnya mesra.


"Aku akan memberimu kepuasan yang tak akan kau dapatkan dari lelaki lain..."


Brakkkk.

__ADS_1


"Langkahi dulu mayatku...."


__ADS_2