
"Apa kau tahu Ndra, selama ini aku sudah menunggu waktu lama agar kau sedikit saja melihatku, melihat ketulusan perasaanku padamu, tak sadar kah kau Ndra" teriak Fitri semakin tinggi.
"Iya Fit, aku tahu, aku sadar selama ini kau tulus menyayangiku tapi itu bukan cinta Fit, cinta tak akan pernah memaksakan satu kehendak atas kehendak yang lain , cinta datang untuk menyatukan dua hati yang berbeda Fit..."ucap Andra lirih.
Ia tahu hati Fitri sangat terluka lalu perlahan Andra pun melangkah mendekat fitri dan memeluk gadis itu erat, biarlah pelukan terakhir mungkin bisa membuatnya tenang, batinnya.
Cukup lama Fitri terisak dalam dekapan Andra, tak terasa malam kian larut.
Andra mengurai pelukan Fitri perlahan.
"Maafkan aku Fit, lupakan aku dan biarlah selamanya kita menjadi teman baik."
Fitri menundukan wajahnya, hatinya begitu berat menerima apa yang Andra katakan.
"Aku pulang sampaikan salamku untuk Ayah dan Ibu mu" Andra mengusap rambut Fitri lalu melangkah keluar dari mansion.
Fitri mengangguk dengan wajah tersenyum tipis dengan air mata masih membekas di kedua pipinya.
Pelayan dan penjaga merasa heran karena kunjungan Andra kali ini sangat singkat.
Andra mengemudukan motornya membelah jalanan dengan kecepatan sedang, menikmati angin malam yang menerpa wajahnya.
Hatinya lega setelah menumpahkan semua ganjalan di hatinya.
Suasana mansion tampak hening, Andra melangkah menuju ruang tengah di mana sang mommy selalu menunggunya.
Namun lampu sudah padam, pertanda mommy sudah masuk ke kamarnya.
Andra pun segera merebahkan tubuh setelah mengirimkan pesan selamat malam dan salam rindu pada sang kekasih.
Ingin Andra melepas rindu dengan panggilan vidio, tapi sayang Zara sudah terlalu letih karena aktifitas siangnya, hingga janji saling vidio call pun terpaksa gagal, Dewi yang mengatakan bahwa Zara sudah terlelap lewat pesan yang ia kirim lewat ponsel Zara.
Andra terpaksa menelan kekecewaan setelah menunggu hingga dini hari tapi tak juga Zara online.
Pagi menjelang, pemuda tampan itu terbangun karena ketukan pintu kamar dan teriakan sang mommy yang memanggilnya.
"Joy...bangun nak" panggilnya dari balik pintu.
Andra menggeliatkan tubuhnya perlahan lalu melangkah menuju pintu, ada apa sang mommy membangunkannya pagi-pagi, pikirnya.
__ADS_1
"Ada apa Mom?" tanyanya dengan suara berat.
"Bangunlah dan lihat di resto, entah ada kegaduhan apa di sana."
Andra melihat jam dinding, ternyata memang sudah siang.
Andai saja ia memiliki koneksi dengan Kuasa Sang Pencipta, ingin rasanya ia meminta untuk memperlambatkan laju waktu pagi ini agar tidurnya bisa lebih lama lagi.
Bergegas Andra membersihkan diri, memiliki wajah tampan paripurna banyak menguntungkan baginya, mandi kilat pun tak ada yang akan meragukan ketampanan wajahnya..
Laju motor kencangnya membelah jalanan, dan dari luar pintu resto ia melihat beberapa karyawan bergerombol.
Andra melangkah perlahan sambil mengedarkan pandangan, siapakah biang keladi yang telah merusak paginya.
"Sst To, ada apa?" bisiknya menarik Wanto yang kebetulan muncul dari dapur resto.
"Itu ada Tuan ganteng nyari Bos" jawabnya cepat lalu mengedikan dagu ke arah sosok yang sedang duduk di sebuah kursi yang di sudut resto.
Cih, seganteng apa dia, hingga membuatmu memanggilnya dengan sebutan itu, batin Andra geram merasa ketampanannya tersisih di mata anak buahnya.
Andra hanya bisa menelan ludah kasar, rupanya sosok yang tak lain adalah Revan yang sedang menunggunya sejak pagi.
Tatapan mata tajam menghujam ke arah Andra.
Bugh.
Tubuh Andra terhuyun ke belakang karena tak mengira akan mendapat sambutan selamat pagi dari kepalan tangan Revan.
"Ku kira kau memang sungguh-sungguh mencintainya, karena itu aku mencoba ikhlas melepasnya untukmu, tapi ternyata kau adalah bajingan...." nada suara Revan bergetar lirih.
Dari rona wajahnya ia sangat menahan amarah yang hendak meluap dari dadanya.
"Apa maksudmu?dan jaga ucapanmu brengsek, atas dasar apa kau mengataiku serendah itu"
Andra mencoba bersabar karena ia tak ingin ikut terbawa emosi, selama ini ia tak merasa ada laku nya yang salah, tapi kenapa Revan terlihat begitu murka padanya.
Revan mendekat ke Andra dan menarik kerah kaos Andra kencang.
"Meski hatiku hancur melepasnya, aku rela jika memang ia akan bahagia bersamamu, tapi apa ternyata hah, kau bahkan bermain hati di saat dia jauh darimu lelaki macam apa kau hah."
__ADS_1
Andra menahan kedua tangannya saat beberapa penjaga akan menarik Revan yang sedang mencengkeram dirinya, rupanya ada kesalah pahaman yang ia pun belum tahu apa itu.
"Tunggu aku minta kau jelaskan dulu apa yang terjadi, jangan pernah coba menguji kesabaranku.." ucap Andra tegas.
Dengan hentakan keras, Revan melepas cengkeramannya dan mengambil ponsel dari saku jas nya.
Andra menatap layar ponsel Revan di mana sedang berputar rekaman saat dirinya memeluk Fitri, pelukan yang begitu erat yang masih di ingatnya, kejadian tadi malam saat ia mencoba menenangkan gadis itu di rumahnya.
"Apa maksudnya ini?" tanya Andra.
"Harusnya Gue yang tanya sama Elu, apa maksudnya vidio ini, saat Zara berada jauh darimu dan kau gunakan kesempatan ini untuk bermesraan dengan gadis lain, bahkan kau mengikatnya dengan pertunangan bertanda sebuah cincin bertahtakan permata, benar-benar bajingan Lu.."
Andra menaikan alisnya, tak ia hiraukan ucapan Revan yang begitu emosi, fokus Andra adalah sebuah artikel tentang berita pertunangannya tadi malam dengan Fitri.
Benar-benar di luar dugaan, rupanya Fitri dengan licik mengedit rekaman CCTV di rumahnya dan merancang berita pertunangan yang indah dengannya.
Andra meremat ponsel Revan kuat.
"Apa kau masih mengelak, atau kau pura-pura lupa kejadian tadi malam dengan gadis itu heum" Revan merampas ponselmya dari tangan Andra.
Jika berita itu sudah tersebat maka pastilah Zara pun sudah melihatnya, dan sialnya ponsel Andra saat ini tertinggal di kamarnya.
"Gue pinjam bentar" tangan Andra tanpa permisi menyambar ponsel yang sedang di genggam Revan.
Pemuda itupun terhenyak,bagaimana mungki pria yang tadi di pukulnya dengan cuek meminjam gadgetnya tanpa ijin.
"Ish ..." desisan kesal Andra saat beberapa panggilannya tak di jawab Zara.
"Dia tak akan menjawab panggilanmu karena itu nomorku" terang Revan.
Andra terdiam beberapa detik.
"Hubungi Dewi" titah Revan datar, dalam hatinya ia pun merasa cemas jika Zara sampai melihat berita yang beredar, tentulah hatinya hancur saat ini, dari respon yang Andra tunjukan, berita itu mungkin hanya sebuah settingan yang di buat oleh gadis dalam vidio.
Andra segera menghubungi Dewi dengan semangat, otaknya yang loading lama pun kembali berputar.
"Halo Van kenapa?" tanya Dewi di ujung telepon.
"Ini aku Wi, Andra ..mana Zara?"
__ADS_1
"K kak Andra.." jawab Dewi terkejut.
"Udah kagetnya nanti aja, sekarang katakan Zara di mana, sedang apa dan dengan siapa"kalimat konyol dari mulut Andra yang mulai panik, membuat beberapa karyawan yang mendengar senyum-senyum gemas, Tuan Muda jika sedang dalam mode panik, sungguh lucu.