Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
Thu*122


__ADS_3

Andra mengemudikan mobil menuju ke sebuah tempat di pinggiran kota, ia sengaja tak meminta ijin pada Zara karena sang kekasih mungkin akan menolak dengan seribu alasan.


Zara yang asik dengan ponselnya hingga tak menyadari arah yang ternyata bukan ke apartementnya.


Andra melihat Zara kesal, ternyata keberadaannya tak lebih menarik di banding ponselnya, sementara Zara yang baru mendapat job besar merasa sangat bahagia, ada sebuah toko perhiasan besar yang ingin meng endorse jualannya.


"Kak, kita kemana?" tanya Zara setelah baru menyadari ternyata arah mobilnya bukan ke apartemen.


"Ke tempatku, ada yang harus kita bicarakan."


Zara mengerutkan alisnya, arah mana sebenarnya yang di tuju sang kekasih, karena jalan itu pun bukan menuju ke mansion.


Setelah beberapa menit akhirnya sampailah di sebuah bangunan apartemen yang tampak asing baginya.


"Di mana ini Kak?"


"Apartementku" dada Andra berdesir, memorinya kembali mengingat saat pertama kali membawa Zara ke tempat itu dalam keadaan pengaruh obat panas.


Dan di kamar apartement itulah Andra memuaskan Zara tanpa sepengetahuan gadis itu, dan berhasil menyadarkannya dari pengaruh obat perangsang tanpa merusak mahkota sang kekasih.


Zara hanya diam mengikuti langkah Andra memasuki apartemen mewah tak berpenghuni.


"Ini tempat siapa Kak?"


" Tempatku, tapi jarang aku singgahi."


Zara melangkah ke jendela balkon, matanya menatap takjub pemandangan di bawah sana.


Biasanya apartement yang terletak di deretan atas hanyalah apartement mewah yang hanya bisa di miliki oleh orang yang berkantong tebal.


Apartement ini berukuran beberapa kali lipat dari miliknya.


"Kakak membiarkan tempat ini kosong tanpa penguni?" tanya Zara heran, tingkah orang kaya memang terkadang mengesalkan.


Di antara banyaknya penduduk yang hidup berhimpitan dan berdesakan Andra membiarkan apartementnya yang bisa di huni lima keluarga besar dalam keadaan kosong.


"Ra...aku mau menanyakan sesuatu padamu dan aku ingin kau jujur" Andra memulai pembicaraan.


"Apa itu, akan aku jawab jika memang aku tahu jawabannya" jawab Zara tenang.


Andra melangkah mendekati Zara dan menyodorkan ponselnya.

__ADS_1


"Siapa ini?" tanyanya datar, ia bukan ingin menginterogasi tapi ia hanya ingin kejujuran sang kekasih.


Zara menghela nafas panjang, rupanya ada orang yang selalu mengintai gerak-geriknya.


"Dia temanku, Manu namanya."


"Apa hubunganmu dengannya, kulihat kalian sering menghabiskan waktu bersama."


"Sudah ku bilang dia adalah temanku."


"Kau menganggapnya teman tapi kulihat tidak dengan dia, dia menatapmu dengan sejuta harap, tapi ku harap dugaanku ini salah"


Zara menghela nafas panjang, ada sedikit rasa kesal di hatinya, Andra seakan tak mempercayainya dan mempertanyakan kejujurannya.


"Kalau itu aku tidak tahu, tapi aku hanya menganggapnya sebagai teman tak lebih."


"Bisakah kau menjauh darinya."


Zara menatap Andra tajam.


"Kak, aku sudah mencoba memulai hubungan dengan Kakak, dan aku sudah berusaha menjaga hatiku dari orang lain karena aku hanya menyisakan tempat untuk Kakak, aku sudah menjaga hatiku tapi ternyata apa? Kakak di luar sana selalu menghabiskan waktu dan perhatian Kakak buat orang lain, lalu apa salahku Kak, aku jujur kalau dia adalah temanku, teman yang selalu ada di kala masa sulitku, dia yang menjemputku dari rumah sakit di saat Kakak ternyata sedang menghabiskan waktu denga keluarga Pak Menteri yang memiliki putri cantik itu, dan Manu lah yang menyelamatkan ku dari kerumunan wartawan di mana Kakak malah meninggalkan aku dan pergi dengan gadis itu, dan kini aku mulai ragu, apakah keputusanku untuk melabuhkan hatiku padamu adalah tepat, aku susah payah menjaga hati tapi Kakak masih mempertanyakan kejujuranku."


"Maafkan aku sayang , jika waktuku tak cukup untukmu."


"Bukan masalah waktu Kak, aku memberi kepercayaan pada Kakak, dan aku selalu mencoba mengerti tentang posisi Kakak, di antara kalian memang sudah menjalin persahabatan lebih lama di banding hubungan kita, namun apakah aku juga harus tetap diam dan masih berharap jika ternyata kekasihku sudah menjadi harapan orang tua lain yang menginginkanmu menjadi pendamping hidup putri mereka, apa aku juga harus tetap diam sementara di luar sana berita tentang Kakak yang mengatakan Kakak adalah calon menantu Pak Menteri itu santer terdengar" Mata bening Zara kini berkabut, dadanya terasa sungguh sesak.


Andra meraih tubuh ramping itu ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku sayang, bukan aku tak mempercayai ketulusanmu, aku hanya ingin waktumu bersama ku, dan tolong, jangan ada prasangka aku akan mendua, berita itu sama sekali tidak benar, kami hanya berteman, hanya para awak media yang memberitakan hal tak benar itu, percayalah sayang" Andra mengecup puncak kepala Zara lembut.


Di balik ketenangan dan sikap nya yang cuek ternyata Zara menyimpan kekecewaan yang ia pendam.


Andra merutuki kecerobohannya, kemandirian Zara membuatnya tumbuh menjadi gadis kuat dan bukan hal besar untuknya saat melihat dirinya menghabiskan waktu bersama keluarga gadis lain.


Perlahan Andra mengurai pelukannya, di tatapnya netra bening Zara, mata yang teduh yang selalu menyimpan kelembutan.


"Maafkan aku atas kecemburuanku ini, aku hanya ingin kau miliku seorang, tak ada lelaki lain yang boleh dekat denganmu."


Zara mencubit bahu Andra.


"Aaawwhh, kenapa cubit?"

__ADS_1


"Kakak jahat, aku tidak boleh mempunyai teman, dan dekat dengan laki-laki lain, sedangkan Kakak malah sudah dekat dengan keluarga calon mertua Kakak" sindir Zara.


"Sayang dengar..di antar aku dan Fitri tidak ada hubungan selain teman titik."


"Tapi Kakak selalu saja memprioritaskannya sedangkan aku di tinggal sendiri di Taman" kembali zara melontarkan kalimat sindiran membuat Andra gemas.


"Maaf, sekali lagi maafkan aku sayang, saat di taman kota aku tak mempunyai kesempatan untuk menemuimu kembali, para reporter selalu mengikutiku, dan saat kucari kau sudah tak ada lagi di tempatmu semula, aku padahal sudah mencari-cari tapi nihil, kau seakan menghilang."


"Huh untung saja ada Manu saat itu yang membawaku pulang, kalau tidak entah sudah bagaimana nasibku saat itu."


"Baiklah, ajak aku bertemu temanmu itu, aku harus mengucapkan terima kasih padanya, karena telah menyelamatkan kekasihku yang cantik ini."


"Ah gombal, putri Pak Menteri bahkan jauh lebih cantik" protes Zara.


"Sstt jangan sebut orang lain di antara kita, tetapkan hatimu hanya untukku, dan kau akan lihat seberapa besar usaha yang akan ku lakukan untuk memilikimu, tetaplah mencintaiku dengan tulus, dan aku oun akan selalu mencintaimu dengan caraku" kalimat Andra yang dalam membuat Zara terdiam.


"Kenapa diam."


Zara menggelengkan kepalanya.


"Ayo pulang Kak" ucap Zara, hatinya pun merasa was-was, berada dalam sebuah apartemen hanya berdua sangatlah berbahaya.


Andra pun melangkah mengikuti Zara namun.


"Ah topiku" ucap Zara meraba kepalanya.


Andra bergegas mengambil topi yang rupanya tertinggal di dekat jendela balkon.


Dengan lembut ia sisihkan anak rambut Zara agar memudahakannya untuk memakaikan topi di kepalanya.


Namun bukan langsung memasangkan topi Andra justru mendekatkan bibirnya ke bibir mungil Zara.


Di kecupnya lembut benda kenyal nan lembut itu.


Zara yang mula nya terkejut mulai merasa tenang, ciuman Andra kali ini sangat lembut dan penuh perasaan untuk beberapa detik bibir mereka saling menyatu dan bertukar saliva, suasan apartemen yang hening membuat Andra dengan leluasa mengeksplor lidahnya, Zara mengurai pelukan andra hingga ciuman mereka pun usai, Zara menunduk malu dengan wajah merona merah.


"Aku mencintaimu muachh" Andra mengecup puncak kepala Zara lalu memakaikan topinya.


"Ayo kita pulang" ucap Andra.


Ia terpaksa menyudahinya sebelum hasratnya tak terbendung dan menghancurkan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2