Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *26


__ADS_3

Zara tersentak saat suara deheman menyadarkan keasikannya dari mengutak- atik ponsel.


"Sudah lama kau menunggu Ra?"tanya Andra, dan Zara menggeleng pasti, karena memang ia baru saja duduk di kursi lobi apartemen untuk menunggu Andra menjemputnya.


Zara saat ini hanya berfokus pada cerita yang telah mereka buat, dan dengan cantik akan mereka mainkan agar tak ada yang menyadari bahwa kisahnya adalah semu.


Begitupun saat ini, entah apa yang Andra janjikan pada sang mommy, hingga Maharani bersikeras menyuruhnya datang ke mansion.


Keadaan yang memaksa mereka harus selalu terlihat bersama.


Di sebuah mall besar, Andra menghentikan mobilnya.


Ada satu bahan masakan yang sulit di dapat di tempat lain, dan di mall inilah buah itu berada.


Beberapa menit Andra mencari sayuran berbentuk bunga yang mommynya maksud, namun setelah menyisir box yang berisi dedaunan hijau dan berbagai sayuran berwarna-warni namun tetap tak di temukan.


"Coba sini kak, akan aku tanyakan pada karyawan mall ini, mungkin saja mereka menyimpannya di tempat khusus" tawar Zara.


Andra lalu menyerahkan ponselnya lalu menunggu di kejauhan.


Zara tersenyum saat seorang karyawan mengenali sayuran yang di maksud dalam ponsel yang Zara tunjukan.


Rupanya benar yang Zara katakan, sayuran berbentuk bunga itu tersimpan di lemasi pendingin bersama buah dan sayur lain yang membutuhkan tempat khusus agar terjaga kesegarannya.


Keduanya melangkah dengan wajah ceria setelah berhasil menyelesaikan misi dari Maharani.


Senyum Zara seketika sirna saat matanya menangkap sosok yang amat ingin di hindarinya.


Sosok yang tengah menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


Andra yang menyadari perubahan sikap Zara pun menoleh mengikuti arah tatapan mata Zara.


Dengan sigap Andra melingkarkan satu tangannya ke arah pinggang Zara saat mengenali siapa yang membuat Zara berubah.


"Bersikaplah yang wajar, tenangkan hatimu, sekarang kita harus memainkan peran kita dengan cantik" bisik Andra dekat di telinganya, bahkan bulu halus di tengkuk Zara kini meremang sempurna.


Zara membiarkan Andra menggenggam erat bahu nya, setelah jarak yang makin terkikis namun Revan masih menatap tajam ke arahnya.


"Ra, tunggu aku ingin bicara sebentar" Revan menghadang langkah keduanya dengan pandangan intens ke arah Zara.


Hatinya bagai tercacah sembilu melihat gadis yang di cintainya kini berada dalam genggaman erat pria lain.


"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi Van, kita sudah tak ada apa-apa lagi, maaf tolong jangan halangi jalanku" ujar Zara tenang.


Bukanlah Revan, jika ia langsung menuruti perintah Zara.


"Bagimu sudah selesai tapi bagiku kau masih menempati seluruh ruang di hatiku, dan aku akan tetap membuatmu tetap berada di sampingku"Revan berucap pasti.


"Tapi hanya kau yang bertahta di hatiku Ra, tak ada yang dapat menggantikanmu" ucap Revan lirih sambil menatap kepergian gadis belahan jiwa nya.


Zara melangkah pergi, tak di hiraukannya teriakan Revan yang memanggil namanya, rasa sakit membuat dadanya terasa begitu sesak.


Bayangan wanita paruh baya yang telah menghancurkan hidupnya seakan menari-nari di pelupuk matanya.


Sampai kapanpun tak akan ia maafkan wanita itu, dan Revan, ternyata dialah anak kecil yang saat itu di tuntun wanita berhati iblis itu, yang pastinya adalah buah dari percintaannya dengan sang ayah, geram Zara.


Derita yang di alami oleh ibu sejak kehadiran wanita ular itu masih membekas di ingatan Zara.


Tak terasa tetesan air mata keluar dari sudut mata indahnya, hatinya hancur sehancur-hancurnya begitupun kepercayaannya pada setiap pria yang mendekatinya.

__ADS_1


"Begitu cinta nya kah kau padanya Ra?" batin Andra, entah kenapa hatinya merasa perih saat air mata itu akhirnya jatuh dari mata indah Zara hanya karena seorang Revan.


Zara mengurai genggaman Andra.


"Kenapa kak Andra diam saja hiks"isak tangis Zara pecah saat di dakam mobil, membuat Andra salah tingkah.


"A aku harus bagaimana?" pertanyaan polos Andra semakin membuat Zara gusar.


"Bukankah kakak yang bilang bahwa kita harus memainkan drama yang kita ciptakan dengan cantik, tapi kenapa kak Andra membiarkan lelaki itu mendekatiku, kau bahkan diam dan tak acuh seakan di sini akulah yang begitu mendamba mu"Zara meluapkan isi hatinya setelah berada di dalam mobil.


"T tapi ku kira kau masih menyukainya" ujar Andra terbata.


"Sama sekali aku tidak menyukainya, hingga akhir dunia pun aku tidak akan pernah mencintainya titik"kalimat Zara penuh amarah.


Entah kenapa hati Andra kini merasa begitu lega.


"Maafkan aku"ucap Andra lirih.


Zara mengusap air mata dengan tisu di atas dashboard.


Andra masih terdiam membiarkan Zara menenagkan hatinya.


"Ra" panggil Andra lirih.


"Hmm"jawab Zara tanpa menoleh ke Andra.


"Maafkan aku"sambung Andra dengan nada merajuk.


"Sudah ayo jalan" tak ingin Zara memperpanjang masalah yang hanya membuat luka di hatinya kembali terasa.

__ADS_1


"Nggak akan ku jalankan mobilnya sebelum kau memaafkan aku"


__ADS_2