
Zara membuka pintu apartemen perlahan, malam sudah larut dan tubuhnya begitu penat.
Ceklek.
Dewi keluar dari kamarnya, untuk sesaat keduanya saling menatap terkejut.
"Belum tidur Wi?"
"Baru pulang Ra?"
Sapa keduanya bersamaan, dan senyum pun terbit di bibir kedua sahabat itu.
"Aku baru pulang Wi, habis dari rumah sakit, mommynya kak Andra masuk rumah sakit karena pingsan" jelas Zara.
"Ya ampun lalu bagaimana keadaannya sekarang?."
"Syukurlah sudah membaik dan sudah di pindahkan ke ruang inap."
"Syukurlah."
"Ehm Wi, aku mau minta maaf." Zara menatap Dewi intens.
"Maafkan aku Wi, yang tak menjelaskan padamu tentang bagaimana sesungguhnya hubunganku dengan kak Andra selama ini, aku hanya berfikir belum saatnya mengatakan padamu yang sesungguhnya."
Dewi masih diam dan setia menyimak apa yang Zara katakan.
"Bagaimana jika kak Andra ternyata benar-benar tulus menyukaimu Ra?"
Zara menatap Dewi intens, darimana sahabatnya itu tahu jika Andra memang tulus mencintainya.
"Kak Andra memang mengungkapkan isi hatinya padaku, dia menyukaiku dengan tulus, bahkan mommynya pun sudah menyetujui hubungan kami, karena tante Maharani belum tahu sandiwara kami selama ini."
Dewi mengerutkan alisnya.
"Siapa nama momminya kak Andra?" tanyanya.
"Maharani Wi."
"Maharani, desainer terkenal itu bukan?" wajah Dewi tampak antusias, bekerja di lingkungan sebuah pusat perbelanjaan besar, tentu saja Dewi tahu dengan pasti siapa Maharani itu.
Seorang desainer wanita ternama dengan baju rancangan yang sudah go international.
"Ra andai lu menerima cinta kak Andra sudah pasti masa depan cerah sudah terpampang jelas di hadapanmu, kau tak perlu lagi pusing mencari uang untuk biaya kuliah, dan dunia modelmu akan semakin maju karen ada nama besar tante Maharani."
Zara menggelengkan kepalanya kesal, bagaimana bisa sahabatnya itu menyuruhnya menerima perasaan seorang lelaki hanya karena harta dan tahta.
"Tapi Ra, aku lihat kak Andra sungguh perhatian padamu dan cintanya tulus padamu, apa kau masih tega mempermainkan hatinya dengan menyuruhnya untuk terus berpura-pura bersandiwara, sedangkan rasa dalam hatinya adalah rasa yang tulus."
__ADS_1
"Untuk saat ini biarlah seperti ini Wi, aku hanya ingin Revan akhirnya menyadari bahwa ia harus melupakan aku."
"Lalu kenapa tak kau jelaskan saja pada Revan sesungguhnya bahwa kalian adalah saudara kandung."
Zara menggeleng pelan.
"Aku belum sanggup untuk membuka kembali luka ku Wi, tapi suatu saat aku pasti akan menjelaskan semua pada Revan, namun tidak saat ini, aku akan mengatakan padanya yang sesungguhnya disaat hatiku sudah siap."
"Baiklah, itu terserah padamu, namun aku hanya merasa kak Andra layak mendapat balasan cintamu yang tulus, jangan permainkan dia Ra."
Zara tertunduk, ada rasa bersalah di hatinya, setelah Andra yang begitu baik padanya bahkan sang mommy pun selalu mendukung dan menyayanginya dengan tulus namun masih saja Zara belum memberikan hatinya pada Andra.
"Aku hanya tak ingin melihat pria sebaik kak Andra terluka" sambung Dewi lalu pergi meninggalkan Zara.
Entah jam berapa Zara dapat terlelap, saat alarmnya berbunyi pun, sungguh sepat rasa matanya untuk terbuka.
"Hoeemm, bikin apa Wi?" Zara dengan suara berat muncul dari kamar.
"Hanya ini Ra, gue bangun kesiangan, sorry."
Zara menatap Dewi tajam.
"Wi, seharusnya gue yang minta maaf sama elu, tiap hari selalu lu yang masakin buat kita sarapan, meski kadang badan lu tak sehat, atau pun waktu yang sudah meped, kau tetap sempat kan untuk membuatnya, terima kasih untuk perhatianmu selama ini Wi."
Zara memeluk sahabatnya erat.
Zara mengurai pelukannya.
"Ok, bye Wi, hati-hati di jalan muuuaacchh."
Dewi hanya mencebik jengah dengan tingkah Zara yang baginya terlalu lebay, Zara hanya tersenyum gemas, Dewi memang cewek yang tegar dan tomboy, jauh dari sikap romantis apalagi menye-menye seperti sikap kebanyakan gadis lain.
Mungkin karena kisah hidupnya yang keras dengan ke tiga adik yang masih kecil, dan ayah yang hanya berprofesi sebagai petani dan ibu sebagai rumah tangga yang tentu saja mereka hidup dalam kesederhanaan.
Gajih paruh waktu di restoran fastfood hanya cukup untuk bayar kuliah dan biaya hidup sehari-hari, ia baru bisa mendapat uang sampingan dari hasil endorse an kerja sama dengan Zara.
Biaya hidup di kota sangatlah mahal, bersyukur ia memiliki sahabat seperti Zara yang mau menampungnya di apartemen miliknya dengan cuma-cuma.
Bahkan kebutuhan makanan sehari-hari sebagian Zara yang mengeluarkan biaya.
Jadi, sekedar untuk membuat sarapan adalah hal yang mudah baginya, di sebut sebagai balas budi rasanya itu belum pantas.
Dewi mengemas makanan ke dalam kotak untuk bekal makan siangnya, lalu berkemas untuk segera berangkat.
Apartemen kembali hening Zara yang sudah terlihat segar dengan bedak tipis dan lipbalm yang di aplikasikan pada bibir tipisnya, terlihat alami dan segar.
Di lihatnya jam di pergelangan tangannya, matanya seketika membelalak lebar.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Tante..." pekiknya lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju.
Dengan baju casual Zara melangkah ke area parkir, di lajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit di mana tante Maharani di rawat.
Setelah terlebih dahulu Zara membeli dua porsi bubur ayam dan buah-buahan segar untuk mengisi perut Andra.
Pintu lift terbuka perlahan, ruangan di mana Maharani di rawat adalah VIP jadi Zara tak harus menunggu jam besuk.
Andra menatap ke arah Zara dengan mata berbinar, di saat seperti ini kehadiran Zara sungguh sangat berarti baginya.
"Bagaimana kak, apa Tante sudah ada kemajuan?" bisik Zara pelan agar suaranya tak mengganggu Maharani yang masih terpejam.
"Kata dokter mommy sudah membaik dan mungkin hanya perlu istirahat Ra, terima kasih sudah menyempatkan waktumu pagi-pagi ke sini." Andra berucap lembut dan netra beningnya menatap Zara tajam membuat Zara salah tingkah.
"Ehm tidak apa-apa kak, aku juga hari ini tak ada acara, ini aku bawain bubur untuk kak Andra sarapan, maaf aku nggak sempat masak dulu."
Andra tersenyum dengan penuh haru, lalu meraih sebungkus bubur ayam dan segera melahapnya, Diego yang dari tadi pamit untuk membelikan makanan sampai sekarang belum juga kembali, sedangkan perutnya sudah berdemo sejak pagi.
"Teeima kasih Ra, kaulah penyelamat hidupku." Andra berucap lebay.
Zara tersenyum senang, Andra begitu lahap dengan buburnya.
Dari sudut matanya Zara melihat pergerakan tangan Maharani.
"Tante, tante sudah bangun?" Zara mendekat ke arah ranjang pasien di mana Maharani terbaring.
"Bagaimana keadaan tante? Mana yang masih sakit Tan?" Zara bertanya dengan antusias dan tangannya mengusap punggung tangan Maharani dengan lembut.
"Tante sudah agak baikan sayang, terima kasih sudah jenguk Tante pagi-pagi."
"Syukurlah tante, oiya aku bawain bubur ayam, apa tante boleh makan bubur?" tanya Zara.
Maharani mengangguk pelan.
"Boleh Ra, tante boleh makan apapun asal jangan asam dan pedas."
"Oh siap Tan, ini bubur di pisah kok sambelnya, aku suapin ya."
Bergegas Zara membuka bungkusan bubur dan menyiapkan sendok, sementara Andra menaikan tuas Ranjang agar sedikit lebih tegak.
Dengan sabar Zara menyuapi Maharani, di usapnya lelehan bubur yang mengenai sisi bibir wanita paruh baya itu, hingga habis setengah mangkuk dan tangan Maharani menahan agar Zara berhenti menyuapinya.
"Sudah cukup Ra, Tante sudah kenyang."
Zara pun mengelap bibir Maharani dengan tisu basah dan menyodorkan segelas air bening bahkan menuntun sedotan ke arah mulutnya.
Andra menatap dengan penuh rasa haru, kehangatan Zara yang merawat mommynya begitu sabar dan telaten.
__ADS_1
Tuhan, jadikanlah dia menantu mommyku.