
Revan melangkah cepat menuju ruang kerjanya, hatinya gundah membayangkan entah bagaimana nasib asistennya saat ini.
Ibu begitu kesal padanya setelah mengetahui putra kesayangan terserang jantung mendadak, namun asistennya justru tak tahu menahu akan hal ini.
Reni berpendapat bahwa Roy seharusnya berada di dekat putranya hingga kejadian fatal itu tak terlalu parah, ia tak perduli apakah saat itu masih dalam jam kantor atau tidak, bagi Reni Roy adalah asisten yang harus selalu memperhatikan kondisi kesehatan atasannya.
Ceklek.
Revan memandang Roy yang masih dengan wajah kaku, rupanya Reni ingin memberikan sedikit pelajaran untuk asisten putranya tersebut.
Tatapan dingin penuh intimidasi membuat nyali Roy menciut.
Meski ia dekat dengan Revan namun sikap tegas ibu suri membuat Roy tak berkutik.
"Bu maaf aku harus membawa Roy dulu dari ibu, ada data yang kurang cocok dengan hasil lapangan, dan hanya Roy yang bisa di mintai keterangan.
Glek.
Mati gue, kenapa malah di saat seperti ini bos, geram Roy lirih.
Revan bagai memancing di air keruh, tatapan mata Reni tentu saja semakin memanas.
Lengkap sudah penderitaanku, batin Roy pasrah.
"Heum, kau ajari asistenmu itu agar tidak semakin besar kepala Van" nada ucapan sinis dari Reni membuat Roy menelan saliva pahit.
Kini perempuan itu seakan mulai menabuh genderang perang dengannya.
Tok tok tok.
"Masuk" titah Revan.
Seorang karyawan bagian engineering masuk, Roy menghela nafas panjang, untuk sementara ia terbebas dari tatapan setajam silet yang Reni arahkan padanya.
"Heum ada apa Go?."
"Ehm, ini saya mau melaporkan kerusakan mesin di ruang produksi A3 pak."
Diego membawa satu unit mesin berukuran sedang lalu di taruhnya di lantai ruangan.
"Ehm.." Diego menatap Revan dan Roy bergantian, rona wajah tegang terlihat pada asisten Roy, Diego pun menyadari saat ini situasi sedang tidak kondusif untuk menjelaskan rincian kerusakan mesin yang terjadi.
"Katakan kerusakan mesin itu Go."
__ADS_1
Revan tak sabar dengan sikap ragu-ragu karyawan barunya itu.
"Saya tadi sudah konfirmasi pada pihak maintenance, ternyata mesin ini mengalami kerusakan fatal, dan jika di perbaiki akan membutuhkan waktu setidaknya tiga hari, dan selama tiga hari tersebut terpaksa bagian produksi di line A3 akan berhenti total, hasil produksi pun sudah pasti akan turun, dan target bulan ini kemungkinan besar tidak akan tercapai pak."
Revan mengelus dagunya, sebenarnya mudah baginya untuk langsung membeli mesin baru, namun ia harus turun langsung untuk terlebih dahulu mengecek kondisi mesin yang akan di belinya, sedangkan saat ini ia ingin urusannya dengan Zara, cepat terselesaikan.
Revan melirik Reni.
"Bu, aku harus ke kota xx untuk melihat model mesin mereka yang tersedia, agar mesin rusak milik kita bisa segera terganti dan produksi tetap berjalan" terangnya pada sang ibu.
Reni menatap Revan ragu.
"Apa kondisi kesehatanmu sudah pulih nak, aku takut di perjalanan nanti kesehatan tubuhmu kembali turun."
"Tenanglah bu, aku akan berangkat bersama mereka, ku pastikan Roy akan menjagaku dengan baik kali ini, benarkan Roy?" Revan menaikkan satu alisnya.
"I iya Nyonya, saya akan menjaga pak Revan sepenuh hati saya, jika memang di butuhkan, jiwa dan raga saya pun rela saya korbankan Nyonya" Roy berucap sungguh-sungguh.
"Baiklah ibu pulang dulu, langsung hubungi ibu kalau terjadi sesuatu."
Reni melangkah keluar dari ruangan.
"Huff akhirnya bisa tenang gue."
Roy berucap santai tanpa mengacuhkan atasannya yang meliriknya tajam.
"K kita pak, apa saya musti ikut juga?" tanya Diego ragu.
"Ya iya lah, lu pikir gue ngerti mana mesin bagus dan mana yang bobrok, lu mau gue beli mesin kaya beli kucing dalam karung?" hardik Revan.
Diego tersenyum masam dan menggaruk kepalanya.
Berdekatan dengan Roy masih belum terbiasa baginya, tatapan Roy masih selalu sinis padanya.
Ketiganya berangkat dengan Roy di balik kemudi sedangkan Revan di belakang,
"Ehm bagaimana dengan urusan kita bos?" tanya Roy.
"Ehm nanti saja Roy, sekarang situasi perusahaan sedang tidak cukup baik, nanti malam saja kita lanjutkan" ucap Revan, karena sebenarnya ia tak ingin banyak yang mengetahui kisah cintanya dengan Zara.
Roy pun mengangguk pelan.
Sementara itu Zara masih fokus dengan tugasnya sebagai kasir.
__ADS_1
Andra yang sesekali melirik ke arahnya dari kejauhan merasa jengah.
Hingga saat ini Zara masih juga menutup rapat kisah dirinya pada Andra, entah apalagi yang harus Andra perbuat agar Zara mempercayai hatinya.
Bukan hal yang biasa saat wajah Zara terlihat bengkak, sudah jelas itu karena efek dari banyaknya air mata yang keluar dari mata indahnya.
"Bos ngelamun aja" Wanto yang memang tengah senggang menyikut bahu Andra.
"Heum bukan ngelamun To, gue cuma sedang berfikir, padahal wajah gue nggak jelek-jelek amat kan? Tapi kenapa cinta gue di tolak."
"Hah yang bener Den, perempuan mana coba, katakan den siapa yang berani menolak pesona Joyandra putra dari seorang desainer terkenal, Nyonya Maharani, seora..."
"Sstt, udah ah brisik lu" hardik Andra kesal.
"He hee sorry bos, saya cuma heran bin bingung, wajah tampan bak sultan dari timur tengah masih saja di tolak cintanya, ahh sepertinya dunia sedang tidak baik-baik saja."
"Puihh kalimat lu To, bukannya puitis, tapi najis gue dengernya."
"Kalau Den Joy mau terima saran saya, mungkin den Joy tidak akan di tolak lagi cintanya" bisik Wanto sambil kedua mata mengarah ke seluruh ruangan, takut ada yang menguping pembicaran mereka.
Andra mengerutkan kening, saat Wanto mendekatkan wajahnya ke telinganya.
"Den Joy, mandi kembang tujuh rupa dan mandi air yang berasal dari tujuh sumur Den, pasti manjur."
"Maksud lu manjur apanya?"
"Ya nggak bakalan lagi ada yang tega menolak pesona den Joy nanti, percaya deh bos, sudah banyak yang membuktikan, dan sembilan puluh sembilan persen berhasil" bisik pemuda lugu tersebut antusias.
"Heh To Wanto, lu tuh seharusnya lebih banyak membaca dan gunain ponsel lu buat baca artikel-artikel yang bisa buat nambah wawasan ilmu pengetahuan elu To, masa di jaman tehnologi canggih seperti sekarang, lu masih saja percaya sama hal-hal kuno begitu." hardik Andra kesal.
"Ya memang saya teh masih percaya bos, dan sampai kapanpun akan tetap mempercayainya" ujar Wanto penuh percaya diri.
"Udah sekarang gini aja To, lu pernah naksir seorang gadis?."
Wanto mengangguk pasti.
"Dan elu udah nembak dia?"
Kembali pemuda lugu tersebut mengangguk.
"Terus cinta elu di terima kagak?"
Wanto kini menggeleng lesu.
__ADS_1
"Nahh kenapa elu nggak mandi kembang tujuh rupa seperti saran elu itu, biar cinta elu pasti sembilan puluh sembilan bakal di terima" sengaja Andra meninggikan nada bicaranya dengan menatap Wanto sinis.
"Kalau itu mah, memang takdir saya Den, saya memiliki semangat di atas rata-rata tapi muka saya di bawah rata-rata" ucapnya lirih.