Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *38


__ADS_3

Andra bergegas melajukan mobilnya menuju apartemen Zara, setelah Dewi memintanya untuk segera datang ke apartemen Zara karena mereka butuh bantuan yang mendesak, dan Dewi pun menekankan kalimatnya bahwa hanya Andra lah yang bisa membantunya.


Meski di liputi tanda tanya, Andra tetap menyetujui, dan datang ke apartemen, walau entah alasan apa ia mau menuruti permintaan sahabat Zara itu.


Bergegas langkahnya menuju lobi apartemen, di mana Dewi sudah menunggunya.


"Apa aku datang terlalu lama Wi?" tanya Andra dengan langkah tergesa.


Ada rasa debar dalam dada nya saat Dewi meminta bantuan untuk menjadi model berpasangan dengan Zara, pastilah Zara yang menyuruh Dewi untuk menghubunginya, pikir Andra dengan hati yang tak dapat ia lukiskan.


"Ehm tidak kak, santai saja, waktu kita banyak, tinggal make over kak Andra sebentar." Dewi berusaha membuat suasana se santai mungkin.


Andra tampak tertegun begitu sampai di apartemen, salah satu sudut ruangan sudah di hias dengan sedemikian rupa hingga terlihat begitu aestetic.


"Siapa yang menghias ruangan ini Wi?"


"Kami berdua kak, untuk menghemat budget, ya kita kreasikan sebisa kita, dan seperti ini lah jadi nya he hee, jangan di bully ya kak, kita gampang baper." kalimat Dewi membuat Andra menarik sudut bibirnya.


"Kak Andra duduk dulu, mau langsung aku make up dikit" titah Dewi.


Andra lalu duduk di kursi yang sudah Dewi sediakan, matanya beberapa kali melirik ke setiap ruangan, berharap melihat sosok Zara.


"Kak Andra usah tampan, jadi hanya perlu sedikit memoles dengan bedak tipis agar menyamakan dengan wajah Zara."


"Ehm di mana emangnya dia sekarang?"Andra yang menemukan celah pun segera menanyakan yang menjadi ganjalan hatinya sejak tadi.

__ADS_1


"Ehm dia masih di kamar, bentar kagi juga keluar."


Ceklek.


Tak selang berapa lama Zara pun keluar dari kamar dengan dandan rapih.


Jaket biru telor asin di padukan dengan celana jeans hitam dengan rambut yang Zara biarkan tergerai tampak pas di tubuhnya.


Netra Andra diam tak berkedip menatap sosok yang baru keluar dari kamar.


Dandanan casual namun tampak begitu indah di pandang.


Orang cakep kalau pake baju apa aja nggak pernah gagal, batin Andra.


"Ehm nggak apa-apa, selagi aku bisa membantu dan waktu ku senggang, apa salahnya, aku hanya berfikir apa kalian tidak salah memilihku sebagai partner model untuk produk jaket ini?"


"Hah mana mungkin kami salah orang kak, menurut ku kak Andra lah orang yang paling pantas jadi model couple an sama Zara."


Dewi berucap antusias, membuat hati Andra melambung ke angkasa.


"Kalau nyanjung orang jangan terlalu tinggi Wi, bikin aku GR aja, mana ada model top di pasangin sama orang receh kaya gue." ucap Andra sadar diri.


"Jee kak Andra nggak nyadar yah, wajah kakak tuh bukannya cocok jadi model aja, jadi artis papan atas juga udah pantas kok suer tak kewer-kewer." Dewi mengacungkan telunjuk dan jari tengah membentuk gari V.


"Ah udah lah, ngelayanin sanjungan kamu mah nggak ada ujungnya, yok kita mulai, cuma pose-pose biasa aja kan Wi?" tanya Andra.

__ADS_1


"Iya kak"


Zara yang memang seorang model tentu bukan hal yang susah bagi nya untuk melakukan pose model apa pun akan terlihat enak di pandang karena memang dia fotogenik, tak beda jauh dengan Andra.


Meski tidak pernah menjadi model apa pun, wajahnya yang good looking dengan tubuh tinggi tegap, sudah menjadi kelebihan tersendiri baginya.


"Huff." Andra menghela nafas lega setelah melewati berbagai macam pose.


Tak sedikit pose yang menampilkan kedekatan dengan Zara, dengan jarak yang hanya beberapa centi, membuat jantung Nadra tak nyaman.


Sialan, kenapa jantung jadi nggak karuan begini, wahh berdekatan dengan dia bikin jantung nggak sehat nih, umpat Andra dalam hati.


Zara mengambil tiga kaleng minuman dingin dari kulkas, juga beberapa potong cake dari buatannya tadi pagi.


Dewi membereskan semua peralatan, karena memang siang ini ia harus bekerja menggantikan teman nya yang absen.


"Kak Andra, Ra aku pamit ya, bye enjoy your time" pamit Dewi dengan mengerucutkan bibirnya dengan gaya bebek.


"Eh kemana Wi?" tanya Andra panik.


"Kerja kak, oiya btw...trima kasih banyak-banyak yah atas bantuannya, untuk bayarannya tar Zara yang TF."


Andra menghela nafas panjang, bukan apa-apa, ia hanya merasa tak nyaman berada satu apartemen dengan gadis itu, ia takut dirinya lepas kontrol seperti malam itu.


Uhukk uhukk.

__ADS_1


__ADS_2