Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*138


__ADS_3

"Bagaimana masakanku?" tanya Andra antusias, ia mengerahkan seluruh kemampuan memasaknya yang pas-pas an untuk membuat semangkuk sop ayam agar Zara mau memakannya.


Zara mengangguk kecil dengan senyum tipis, rupanya wangi masakan tak menjamin rasanya, ucapnya dalam hati.


"Kenapa nggak di habiskan sayang?" tanya Andra saat Zara menyudahi makannya setelah beberapa suap masuk ke mulutnya.


"Entahlah Kak, perutku rasanya sangat tak nyaman" Zara berucap sambil mengelus perutnya yang terasa bagai di remat.


"Apa sakit banget sayang? Kita ke dokter yuk " Andra mulai panik setelah melihat wajah Zara mulai pucat.


Zara menggeleng cepat lalu bergegas ke kamar mandi di kamarnya.


Andra hanya diam membisu dengan dada berdebar kencang, apakah masakannya bermasalah hingga membuat Zara sampai sakit perut.


Beberapa menit Zara tak juga muncul dari kamar mandi.


Tok tok tok .


"Sayang...kita ke dokter sekarang oke?"


"T tidak usah Kak."


"Tapi kau sakit, akan semakin parah jika di biarkan saja" protes Andra.


"Tidak usah nanti juga sembuh" ujar zara lirih.


"Kalau begitu sekarang kau keluarlah, sudah lama kau di dalam sana, nanti kedinginan."


Suasana hening karena tak ada jawaban dari dalam kamar mandi.


"Sayang....keluarlah jika memang kau tidak apa-apa."


"Nanti Kak."


Zara mulai panik di dalam kamar mandi, ia lupa jika masa periode nya bulan ini belum datang, dan rasa tak nyaman di perutnya adalah tanda-tanda 'tamu bulanan sudah tiba.


Dan yang jadi masalah besarnya saat ini adalah ia sama sekali tak mempunyai persediaan pembalut di kamarnya.


Tok tok tok.


"Sayang cepat keluarlah."


Andra mengetok pintu beberapa kali, berharap Zara segera keluar.


"Iya Kak, tapi aku minta Kakak keluar dulu dari kamarku" ucap Zara pelan, ingin rasanya ia tenggelam ke dasar bumi saat ini, kejadian yang begitu memalukan jika sampai Andra mengetahuinya.


"Kenapa harus keluar sayang, aku hanya ingin tahu apa kau benar baik-baik saja."


"Iya aku baik-baik saja Kak, Kakak cepatlah keluar."


"B baiklah, aku tunggu di ruang makan" jawab andra gugup, baru kali ini Zara membentaknya.

__ADS_1


Meski sudah di ruang makan tetap saja Zara tak menunjukan wajahnya, ia masih belum keluar dari kamarnya membuat Andra gelisah.


Tok tok.


"Sayang keluarlah, katakan ada apa denganmu, jangan buat aku cemas."


Andra terus meremat kedua tangannya dengan langkah panjang mondar-mandir di depan pintu kamar.


"Kak.."


"Heum, ada apa sayang" Andra menjawab cepat sambil mendekatkan wajahnya ke pintu karena Zara masih di dalam.


"A aku .."


"Kamu kenapa? Sakit? Cepat katakan padaku kamu kenapa" berondongan pertanyaan dari Andra membuat Zara semakin salah tingkah.


Bagaimana mungkin ia meminta kekasihnya untuk melakukan hal yang memalukan itu, pastilah harga dirinya akan jatuh, gumam batinnya.


Ceklek.


Andra tak tahan terus di landa kecemasan dan sepontan ia membuka tuas pintu.


Zara berdiri tegak di tengah pintu dengan wajah pucat.


"Sayang kau kenapa, ayo kita kerumah sakit sekarang, kau tidak boleh menolak" Andra menarik tangan Zara namun sekuat tenaga gadis itu menahan dengan memegang sisi pintu.


"Kak, tunggu aku tidak butuh ke rumah sakit aku hanya butuh sesuatu yang sangat penting saat ini" ucap Zara cepat.


"Sesuatu, apa itu" tanya Andra menatap tajam sang kekasih.


"A aku butuh ini" Zara menyodorkan bungkusan plastik pembalut yang sudah kosong.


Glek.


Andra menghela nafas lega, rupanya yang membuat Zara bersikap aneh karena hal itu.


"Baiklah, tunggu di sini, aku akan membelinya di mini market di bawah" ucap Andra lembut sambil mengacak kepala Zara.


"T tapi Kakak tidak apa-apa?" tanyanya ragu, mana mungkin ia membiarkan seorang pria lajang untuk membeli perlengkapan pribadi wanita.


"Tentu saja, bukan masalah besar bagiku, lagi pula apa salahnya aku melakukannya untuk kekasihku sendiri."


Zara tersenyum lega, sang kekasih begitu pengertian padanya, bahkan tak ada sedikitpun terlihat sungkan.


"Tunggulah, aku akan pulang secepatnya" ujar Andra sambil bergegas pergi.


Zara dengan tubuh berbalut selimut melihat layar ponselnya.


Dewi menerima job lagi untuknya, pemotreran untuk peluncuran sebuah baju merk ternama.


Meski penat tubuhnya masih terasa jelas namun Zara tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

__ADS_1


Ting.


Zara membuka pintu lalu tersenyum lega, Andra membawa bungkusam berisi pesanannya.


Dengan cepat Zara membawa ke kamarnya meninggalkan Andra yang hanya bisa menggarukan kepalanya.


Bisikan karyawan mini market tadi sempat ia dengar, tentang bahagianya mereka jika mendapat suami yang sangat perhatian pada istri seperti dirinya.


Ah membayangkan saja sudah membuatku bahagia, bagaimana nanti jika kita sudah menjadi suami istri Ra, bisik hati andra.


Ceklek, Zara muncul dengan senyum manis, meski wajahnya masih tersipu malu.


Andra mengerutkan alis, wajah Zara kini tampak lebih berseri.


"Sudah mendingan sakitnya?" tanyanya.


Zara mengangguk pasti.


"Kenapa ku lihat kau sangat bahagia sayang?"


"Aku dapat job lagi lusa."


Jawaban enteng Zara membuat Andra terdiam, dua hari saja tidak berjumpa dengan Zara, suasana hatinya sudah sangat buruk, bahkan semua karyawan sudah menjadi korban keresahannya.


Ia tak akan rela Zara ijin lagi dan sudah tentu ia tak akan bisa bertemu beberapa hari kedepan.


Tapi untuk melarangnya, Andra sama sekali belum berhak pada.


Tak ingin mengganggu suasana hati sang kekasih Andra pun hanya bisa tersenyum masam, menahan gundah gulana yang kini menyerangnya.


Dengan berat hati akhirnya pria tmpan itu pulang meninggalkan Zara sendiri, ada hal penting yang harus ia lakukan.


Aku berharap kalian bisa kembali bersatu, tapi kenapa malah kau berniat menjauhkan kami.


Andra meremat kemudinya, informasi yang di dapat dari anak buah yang di utusnya membuat dadanya sesak.


Rupanya di balik kesibukan Zara beberapa hari ini karena campur tangan Gunawan.


Sementara di sebuah apartement, Manu tersenyum puas dengan hasil kerja orang kepercayannya.


Akan ku buat kau menjauh sejauh mungkin dari lelaki yang tak menghargaimu itu Ra, kau akan selalu di dekatku dan bila saat nya tiba, kita akan hidup bersama selamanya, ujar Manu dalam hati.


Gunawan sudah menyiapkan banyak rencana untuk menjauhkan putrinya dari Andra, tanpa tahu bahwa Andra lah orang yang paling berharap agar ia bisa bersatu kembali dengan sang putri.


Rencana yang sangat menguntungkan di pihak Manu, tanpa harus bekerja keras iapun bisa melancarkan tujuannya, yaitu mendekati Zara.


Andra sudah mengerahkan seluruh anak buahuntuk mencari Gunawan, ia tak bisa menemukan pria itu jika wajahnya pun ia belum melihat sekalipun.


"Do ke apartement ku sekarang juga."pesan Andra lewat ponsel.


"Siap Bos."

__ADS_1


Tak ingin membuang waktu percuma, Andra ingin secepatnya agar bisa bertatap muka secara langsung dengan calon mertuanya.


Ia akan meminta restu agar menyetujui Zara untuk menjadi istrinya.


__ADS_2