Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*79


__ADS_3

Meski sudah berapa jam Zara mengompres kedua matanya dengna irisan buah mentimun, juga es batu yang ia aplikasikan di atas wajahnya untuk mengurangi sembab tetap saja wajahnya masih terlihat aneh.


"Gimana dong Wi, nggak kempes juga bengkak di mataku" ujar Zara lirih.


"Makanya kalau nangis nggak osah sampai ngabisin tisu berapa box, yang ada wajah elu tuh jadi aneh mirip Zombi habis di keroyok ibu-ibu komplek" Dewi tertawa terkikik.


Zara mendesis kesal, paginya berubah menjadi petaka saat ia bangun dari tidur dengan wajah bengkak.


Hampir Zara menjerit ketakutan melihat wajahnya begitu mengerikan.


Untunglah di kulkas Dewi selalu menyediakan berbagai buah dan sayur.


Dan ia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat semua timunnya telah berhasil di mutilasi Zara menjadi irisan tipis- tipis untuk mengompres matanya.


Merasa hasilnya belum cukup memuaskan Zara beralih pada es batu yang ia bungkus dengan sapu tangan lalu di tempelkan di seluruh wajahnya.


Zara tak rela jika di hari pertamanya kerja di resto akan muncul dengan wajah bengkak bagai tersengat koloni lebah.


Waktu yang tipis memaksa Zara menyudahi kompresannya.


Ia bergegas mengganti baju karena Andra beberapa menit lagi akan menjemputnya.


Dengan polesan bedak tipis serta lipstik orange sedikit menyamarkan wajah anehnya.


Berkali-kali Zara memalingkan wajahnya ke samping kiri dan kanan, berharap bedak bisa menutupi bengkak matanya.


Dengan topi Zara menutup sebagian wajahnya juga kacamata hitam agar mata bengkaknya tak terlihat.


Andra yang menunggu di lobi tak menyadari ke anehan tingkah Zara karena memang gadis itu sering mengenakan topi, namun memakai kacamata hitam saat berangkat kerja mungkin bukan hal yang wajar, pikir Andra.


"Ra kenapa pagi-pagi pakai kaca mata hitam?" Andra melirik dari balik kemudi.


"Ehm aku lagi pengin pakai kacamata ini kak, lama aku tidak memakainya, sayang pemberian orang jarang di gunakan."


Andra hanya memandang Zara sekilas kemudian tersenyum.


"Apapun yang kau pakai dan kapanpun itu, akan tetap terlihat manis Ra"


Zara tersenyum masam.


Andai kau tahu apa alasanku memakai kaca mata ini kak.


Disebuah parkiran restoran mewah,Andra memarkirkan mobilnya.


Zara membuka pintu mobil setelah Andra berhasil me markirkan.


Brakk.


Beberapa alat make up dan ponsel terjatuh berserakan saat tak sengaja Zara menjatuhkan tas selempangnya.


pletakk.

__ADS_1


Kini berganti kaca mata yang di pakai Zara terjatuh saat Zara menundukan kepalanya.


"Ish, mengesalkan" rutuk Zara lirih.


"Kenapa Ra?" Andra mendekat ke arah Zara yang masih sibuk memungut barang-barangnya yang terjatuh berserakan.


"Ini Kak, tas ku jatuh, pada keluar semua kan jadinya" jawab Zara.


"Ayo Kak, kita masuk."


"Ra...kenapa dengan matamu?" Andra menatap Zara dengan seksama.


Kini ia tahu kenapa gadisnya bersikap aneh dengan memakai kacamata hitam pagi-pagi seperti ini.


"Hah a anu kak, semalam aku habis mandi mata kena shampo, jadi bengkak deh" Zara mengalihkan wajahnya ke arah lain karena Andra terus menatapnya tajam.


Andra tak sebodoh itu, yang begitu saja mempercayai penuturan Zara.


"Makanya kalau mandi tuh hati-hati" ujarnya tenang lalu menggandeng tangan kecil Zara, matanya sesekali melirik Zara yang kini memakai kembali kacamata hitamnya yang sempat terlepas.


Ada apa denganmu Ra.


Zara dengan seksama memperhatikan apa yang Andra jelaskan, untunglah jurusan yang di ambil tak beda jauh dengan hitung menghitung jadi ilmu perkasiran tak terlalu sulit baginya.


Andra memandang Zara takjub, hanya beberapa menit gadis manis itu sudah berhasil menguasai apa yang di ajarkannya.


Memang tak salah aku memilihmu untuk menjadi ibu yang akan melahirkan anak-anaku kelak.


"Ra aku ke belakang dulu, mau briefing in anak-anak."


Zara mengangguk pelan.


"Sst bos Neng Zara kerja di sini?" bisik wanto sambil menarik agar Andra menjauh dari ruang kasir.


"Heum, napa? Awas ya lu kalau macem-macem sama dia" ancam Andra.


"Ish bos, saya juga kalau naksir orang ngaca dulu, mana mau dia sama ganjelan pintu kayak saya Bos" ucap Wanto polos.


"Oiya sorry ya To, tadi nggak bisa jemput lu berangkat, soalnya gue harus jemput dia dulu, mommy nyuruh berangkat awal agar bisa ngajari Zara dulu."


"Iya bos no problemo, jadi neng Zara sekarang yang gantiin di bagian kasir?" tanya Wanto masih penasaran.


"Iya To, lu kagak percayaan amat si, dia gantiin si Embak untuk sementara, jadi selama ada dia lu harus jaga mata, awas aja kalau ketahuan lu nyuri-nyuri pandang, gue pecat lu."


"Iya bos."


Andra pun berlalu setelah memperkenalkan Zara yang sekarang bekerja menggantikan posisi kasir,pada karyawan lain.


Pukul sembilan pengunjung mulai berdatangan.


Biasanya pagi hari mereka menikmati kopi atau sarapan di restoran mewah tersebut.

__ADS_1


Untunglah di hari pertama Zara tak menemui kesulitan, bahkan karyawan lain menyambutnya dengan hangat dan ramah.


Sebagian besar di antara mereka yang sudah mengenal Zara tampak bersikap hangat dan ramah.


"Ra makan dulu, biar aku yang gantiin kamu kalau ada pembeli."


Karena waktu istirahat siang sudah di mulai Andra memasuki ruang ketja Zara.


"Ah ehm iya kak" Zara mengalihkan wajahnya, ia masih merasa tak percaya diri karena sembab di matanya belum sepenuhnya hilang.


"Ra apa aku bawa saja makanmu di sini?" Andra bertanya penuh selidik, entah apa yang di sembunyikan gadisnya hingga ia masih berusaha menghindari tatapannya.


Zara tak sadar menatap Andra gembira, dengan makan di ruangannya tentu saja memberinya kesempatan untuk menghindar dari tatapan karyawan lain yang akan bertanya-tanya tentang wajah anehnya.


"Apa boleh makan di sini Kak?"


"Boleh, kan aku yang suruh."


Zara tersenyum haru, memang perhatian tulus Andra sudah tak di ragukan lagi, mana ada gadis yang akan menolak jika di perhatikan oleh kekasihnya, apalagi wajah yang tentu saja bisa membuat para gadis antri untuk jadi kekasihnya.


"Kamu mau makan apa? Nanti aku ambilin?"


"Ehm apa saja Kak, kalau ada pakai sambel yang banyak ya he hee."


Gemas Andra melihat wajah polos Zara yang menatap dengan wajah sedikit sembab.


"Baiklah, tunggu sebentar."


Sementara itu di ruangan rumah sakit, Revan sudah di pindahkan ke ruang rawat.


"Roy kenapa lu ke sini, siapa yang akan menyelesaikan urusan kantor?" tanya Revan pada Roy sang asisten.


"Maaf pak, hari ini kebetulan tak ada meeting, hanya rapat direksi nanti siang, saya datang ke sini ingin tahu keadaan bos gimana, maaf ..."


Revan menatap asistennya pasrah, memang siapa yang tak akan terkejut jika mendengar berita dirinya yang tiba-tiba kena serangan jantung, padahal ia selalu rutin memeriksakan kesehatannya.


"Bos..ehm sebenarnya bos sakit apa?" Roy bertanya ragu.


Revan menatap Roy intens lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang tertutup, pagi tadi ibunya pamit untuk pulang ke mansion untuk membersihkan tubuh dan berganti baju.


"Roy, aku mau minta bantuan padamu."


"Siap bos apa itu, apa mau di bawain makanan, kalau urusan kantor, bos tenang saja, semua sudah saya handle."


"Ini rahasia di antara kita berdua Roy, jangan sampai bocor, bahkan lu harus pertaruhkan hidupmu untuk tugas ini."


Roy tercekat, urusan sepenting apa yang membuat atasannya itu bahkan meminta bayaran nyawa atasnya.


"Elu selidiki semua identitas tentang Nyonya Reni."


"Ohh baik bos, saya akan lakukan tugas dari bos, menyelidiki secara detil tentang Nyonya Re ...hah maksud bos, R e n i ."

__ADS_1


"Sstt, iya Nyonya Reni, ibu gue."


__ADS_2