
Zara masih tak mampu membalas tatapan Dewi.
Sepanjang perjalanan keduanya tetap membisu.
Zara yang tak tahu bagaimana harus mengatakan yang sejujurnya pada Dewi setelah mengetahui kebenaran hubungannya dengan Andra adalah sebuah sandiwara.
Untuk memulai sebuah kalimat terasa begitu berat di rasa oleh mulut Zara.
Apalagi tatapan tajam bagai tombak yang menghujam ulu hatinya.
Dewi melangkah tenang memasuki apartemen tanpa bermaksud untuk memulai percakapan dengan sahabatnya itu.
Sungguh hatinya begitu sakit, ternyata selama ini ia telah di bohongi oleh Zara, sahabat satu-satunya.
Kebisuan masih setia menyelimuti keduanya.
Malam yang telah larut, tak juga membuat keduanya menurunkan ego masing-masing.
Dewi yang masih dengan amarah yang berkecamuk di dadanya karena merasa di khianati sahabatnya sendiri.
Sedangkan Zara berfikir jika ia belum waktunya mengatakan yang sesungguhnya karena ia memang tidak mempunyai niat untuk menjadikan drama antara dirinya dan Andra menjadi sebuah kisah nyata.
Dewi masuk ke kamarnya dan mengunci pintu, hal yang selama ini tak pernah ia lakukan.
Zara masih betah menatap gelapnya malam dari balik kaca jendela apartemennya.
Kekalutan masih menyelimuti kepalanya, jangankan untuk memejamkan mata, melupakan raut wajah penuh kecewa Dewi saja ia tak bisa.
Wajah yang begitu terluka karena kebohongan yang Zara lakukan.
Drrt drrrt.
Beberapa pesan dari Andra sejak tadi tak juga di buka olehnya, hati Zara masih di liputi perasaan shock bahkan tidak percaya jika Andra benar-benar menyatakan perasaan bahwa ia sudah menyukainya.
Andra tak menanyakan jawaban atas perasaanya, pria itu hanya bertanya keadaan Zara, juga mengingatkan Zara untuk tak telat makan, maupun meminta agar jangan tidur terlalu larut.
Pertanyaan receh layaknya anak muda yang sedang di mabuk cinta.
Zara mencebik kesal, kenapa Andra yang biasa bersikap datar dan cool kini berubah seratus delapan puluh derajat.
Bahkan Zara pun belum memberi jawaban apakah ungkapan tentang rasa hatinya di terima atau di tolak, Andra sudah dengan percaya diri merasa bahwa Zara adalah miliknya.
Entah sudah jam berapa Zara baru bisa terpejam.
Bahkan saat matahari pagi sudah terang benderang menerobos jendela kamarnya.
Zara bangun dengan tergesa saat jam dinding sudah di angka delapan lebih tiga puluh menit.
Untung saja ia sedang masa periode nya hingga ia tidak melaksanakan kewajibannya.
Dan benar perkiraan Zara, Dewi sudah sejak tadi berangkat kerja.
Hatinya merasa terharu saat masakan sudah tersedia di meja makan seperti biasa.
Sedang marahpun kau masih memperdulikanku Wi.
__ADS_1
Zara melangkahkan kakinya ke kamar mandi, seluruh tubuhnya selalu merasa kaku dan pegal jika sedang datang bulan.
Hari ini tak ada acara, jadi menghabiskan waktu untuk rebahan rasanya akan menyenangkan, Zara membatin.
Dengan celana jeans pendek sebatas paha dengan kaos putih polos Zara terlihat manis, apalagi dengan rambut yang di kuncir kuda.
Setelah menghabiskan nasi goreng buatan Dewi Zara pun menikmati harinya dengan santai, meski rasa galau masih mengganggu hatinya.
Dewi masih sangat murka padanya, tak biasanya ia pergi tanpa pamit dahulu padanya.
"Haaiiiiisst" Zara mengacak rambutnya hingga anak rambut tak beraturan keluar dari ikatan rambutnya.
Teeeett teetttt.
Dering ponsel Zara terdengar nyaring.
"Ra kamu nggak lagi sakit kan?" tanya Andra di ujung telepon.
"Enggak"
"Lalu kenapa pesanku nggak di bales, semaleman aku nunggu balesan kamu Ra, aku takut kamu kenapa-napa" kalimat receh Andra memberondong Zara dan rasanya memekakan telinga gadis manis itu.
Ish kenapa dia jadi lebay begini.
Zara merasa bulu halus tengkuknya meremang, membayangkan Andra yang berubah seperti itu sepertinya tidak pas untuknya.
Badan tegap dengan sorot mata tajam namun sikapnya hello kity.
Membayangkan saja Zara jadi merinding.
"Ya setidaknya balas dulu pesanku biar aku tenang."
"Maaf."
Zara memutar bola matanya jengah.
"Kamu sekarang lagi di mana Ra?"
"Di kamar"
"Benar?"
Zara menautkan alisnya, sikap Andra benar-benar membuatnya ilfil.
Kemana sosok Andra yang kemarin terlihat penuh wibawa dan dingin.
Bahkan teriakan histeris para cewek pun ia tak terpengaruh, batin Zara.
"Ra, kita keluar yuk?"
"Aku lagi mager kak, lagi nggak enak badan."
Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal, otaknya berfikir keras, alasan apa yang bisa membuat gadis itu keluar dari apartemennya, pikir Andra.
"Kamu lagi sakit?" Andra memastikan.
__ADS_1
"T tidak sakit kak, bukan itu, lagi a ada tamu."
Sontak Andra terdiam, tiba-tiba dada nya bergejolak.
Siapa yang berani datang pagi-pagi ke apartemennya, geram Andra.
Sepengetahuan Andra, Zara tak pernah menerima tamu masuk ke apartemennya selain dirinya, saudara pun ia tak punya, ibu dan nenek, sudah meninggal, dan ayah tak tahu rimbanya.
"Sudah ya kak, aku mau tidur" ucap Zara hendak menutup ponswlnya.
"T tungu" Andra termanggu, jika saat ini ada tamu, kenapa dia malah mau tidur.
"Ra kau benar sedang ada tamu?" ucap Andra polos.
"I iya kak."
"L lalu kenapa malah kamu mau tidur, apa kamu mau tidur bareng tamunya?"Andra bertanya dengan dada yang mulai memanas.
Zara mencebik kesal, rupanya pria di seberang telponnya belum sadar tentang 'tamu' yang di maksud Zara.
"Kak, maksudku 'tamu'itu...tamu langganan yang datang tiap bulan."
Andra melongo, untuk sesaat kesadaraannya bagai delay tertutup awan hitam.
Jadi 'tamu' yang di maksud Zara adalah haid.
Hati Andra mencelos merutuki kebodohannya.
Namun tiba-tiba ia teringat makanan kesukaan wanita jika sedang mengalami datang bulan.
Makanan yang sedang viral dan hilir mudik di aplikasi tak-tok.
"Ehm Ra, kamu mau seblak nggak, teman Juned ada yang jualan dan katanya enak banget" terpaksa Andra menjadi pengarang deskripsi dadakan demi melancarkan siasatnya mengajak sang pujaan hati keluar.
Zara tampak berbinar, meski tubuh nya terasa remuk dan otaknya sedang begitu malas berfikir namun saat telinganya mendengar kata seblak perut dan mulutnya seakan kerja sama untuk segera meng iya kan ajakan suara di seberang telefon.
"Ehm boleh."
Iyezz, akhirnya , seblak emang salah satu kelemahan cewek, batin Andra tersenyum girang.
"Oke aku jemput sekarang."
"Hah sekarang kak, aku belum rapi."
"Nggak apa-apa nggak usah ganti baju, pakai apapun kamu tetap cantik dan manis."
Sungguh Andra mengeluarkan semua jurus rayuan gombal yang di pelajarinya secara singkat dari mbah buyut online nya.
"Sungguk tidak apa-apa kalau aku seperti ini pun."
Andra mendekatkan layar ponselnya hingga gambar yang Zara kirim terlihat jelas.
Haisss kenapa malah semakin imut sih kamu Ra.
Poto dengan rambut di kuncir atas dengan rambut yang acak-acakan hingga rambut halusnya tersulur bebas.
__ADS_1
Tak membuat kecantikannya berkurang, bahkan Andra di buat gemas olehnya.