
Sebelum baca tolong tinggalin jejak dulu ya...
Like, koment, dan vote jangan lupa, kopi dan bunga juga boleh banget 😘😘😘😘
Jaga kesehatan and Happy reading.
💦💦💦💦💦💦
"Puihh, bilangnya sibuk, tapi ternyata lu yang pertama datang" kalimat sindiran Juned menyerang Andra telak.
Andra hanya memandang sekilas ke arah Juned dengan meng acungkan jari tengahnya.
"Bha ha ha haaa"gelak tawa Juned.
"Mana Diego?"tanya Andra lalu duduk di hadapan Juned.
Di setiap cafe atau restorannya sengaja Juned menyiapkan tempat privat untuk tempatnya berkumpul dengan sahabatnya.
Dan Zara yang kemarin menghubunginya meminta bertemu, untuk membicarakan kelanjutan cerita beberapa hari yang lalu yang telah menimpanya.
Tentu saja Zara mempunyai nomor kontaknya, karena Juned pernah meminta Zara menjadi tamu special saat pembukaan cafe nya.
"Tuh datang "Andra menoleh mengikuti arah pandangan Juned.
Hatinya mencelos saat melihat Diego yang tengah berjalan dengan wajah sumringah menuju ke arah mereka.
Apa-apaan ini, kenapa jantungku berdebar nggak karuan hanya karena nunggu dia, gumam batin Andra.
"Belum datang dia"Diego memandang ke arah Jujed, yang di maksud adalah Zara.
"Ngapain lu nanyain dia, dia aja dari tadi diem".
Juned melirik ke arah Andra dengan senyum smirk, bukannya ia tak tahu jika entah sudah beberapa puluh kali ia memergoki Andra tengah melihat ke arah pintu masuk.
Andra menghela nafas panjang, status pacar settingan tapi kenapa dadanya terasa sesak jika ada pria lain mengaguminya.
"Ahh tuh dia"ucapan Juned sontak membuat kedua pria di hadapannya menoleh ke arah pintu masuk.
__ADS_1
Jika salah satu pri berstatus sebagai pacar setingan, maka pria lain adalah pengagum setia.
Zara datang dengan wajah ceria seperti biasa, penuh pesona tentunya.
Andra tersenyum salah tingkah, bukan pacar sungguhan tapi hati deg-deg an.
Sementara Diego sibuk membenarkan tatanan rambutnya agar tampil paripurna.
"Heh lu ngapain malah sibuk nata muka, pacarnya tuh die"Juned mengedikan dagunya ke arah Andra.
"Ahh selama janur kuning belum melengkung masih milik bersama"Diego menjawab santai, membuat Andra membulatkan matanya.
"Halo, maaf telah membuat kalian lama menunggu"sapa Zara dengan senyum manis, membuat cuping hidung Diego kembang-kempis.
Andra dengan gesit memanggil pelayan.
"Minum apa ?"tanya nya.
"Ehm jeruk anget aja deh kak"Andra membelalak matanya ke arah Zara.
Kenapa malah panggil 'kak', geram batinnya.
Zara salah tingkah setelah menyadari bahwa panggilan yang di sematkannya untuk Andra salah.
"Ehhm aku sudah makan tadi, maaf".
"Nggak apa-apa Ra, kita juga maklum, kamu kan seorang model ya harus jaga makan dong" timpal Diego yang terdengar panas di telinga Andra.
Juned menghubungi Zara bukan tanpa alasan, ia ingin masalah yang menyangkut Zara tuntas, karena kejadian dan saksi berada di cafe nya juga menyangkut salah satu karyawannya karena ikut andil dalan kejadian kemarin.
Sebenarnya Zara tak ingin memperpanjang masalah ini, meski pun bukti dan saksi sudah sangat kuat dan bisa di jadikan barang bukti untuk menyeret Irfan ke balik jeruji besi.
Juned sudah menyerahkan semua pada Zara dan ia pun tak keberatan jika Zara akan memprosesnya dan melanjutkan ke ranah hukum.
Begitupun Andra yang sudah siap dengan pengacara, andai sewaktu-waktu Zara membutuhkan bantuannya.
"Entahlah kak, sebenarnya aku tak ingin memperpanjang masalah ini, karena dia sudah beritikad baik untuk minta maaf padaku meski baru lewat telpon, karena Irfan masih di rumah sakit karena kakinya belum bisa di gerakan dengan bebas"ucap Zara.
__ADS_1
Juned mengangguk pelan dan memandang Andra dengan tajam.
Apa yang sudah lu lakukan pada kaki nya semprul?, tanya Juned lewat tatapannya ke Andra.
Gue cuma ngasih pelajaran sama dia, lagian tulang keringnya cuma gue sleding dikit, Andra membalas lewat tatapannya.
Mana ada sleding dikit bikin kaki orang retak, tatapan Juned semakin menghujam ke Andra.
Kini Andra hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hmmm jadi dia masih di rumah sakit?"tanya Andra dengan wajah mode polos minta di tabok.
Zara mengangguk perlahan.
"Bagaimana kalau tuh cowok nuntut elu Ndra"tanya Diego.
"Ya gue tuntut balik lah, toh semua bukti ada di tangan gue, buat nyeret dia ke penjara mah keciiil"Andra me nunjukan jari kelingkingnya ke Diego.
"Tapi benar kamu nggak akan memperpanjang masalah ini Ra?"tanya Juned.
Zara menggelengkan kepalanya pasti.
"Aku cuma minta agar dia tidak lagi mengangguku?"
"Dan apakah dia akan menempati janjinya padamu babe?".
"Entahlah semoga saja dia bisa pegang janjinya"
"Tenang kalau dia macam-macam lagi, tinggal kita tunjukin bukti perbuatannya pada polisi"timpal Juned.
Setelah berbincang cukup lama akhirnya Zara pamit.
"Sudah semakin larut kak, aku pulang ya".
"Aku antar babe"Andra menawarkan diri.
" Tapi aku bawa mobil, b babe" Andra tersenyum melihat kegugupan di wajah Zara saat memanggilnya dengan sebutan 'babe', begitu menggemaskan.
__ADS_1
Tuhan, jangan sampai aku jatuh cinta beneran sama mahluk satu ini, gumam batin Andra.
Entah kenapa ia selalu berdebar jika memandang Zara.