
Andra menyudahi kegiatannya setelah jam kerja Zara usai, di lihatnya gadis manis yang sudah memporak porandakan hatinya itu sedang berkemas.
"Pulang sekarang Ra?"
"Heum" anggukan ringan Zara dengan senyum manis membuat Andra salah tingkah.
Setiap hari Zara selalu membawa mobil atau motor maticnya, itu lah yang membuat Andra kesulitan untuk mengantarnya.
Masa gue harus berdo'a ban motornya kempes, atau mobilnya kehabisan bensin, rasanya kejam banget, batinnya.
"Mau makan malam Ra?" tanya Andra konyol, ngapain ngajak makan malam sementara dia adalah pemilik restoran mewah.
Zara menggeleng pelan "Sudah kenyang kak."
"Apa kita nonton dulu, ada film baru genre fantasy adventure" jelas Andra yang melihat jenis film kesukaan Zara di biodata di sosmednya.
"Lagi nggak mood" ucap Zara menggelengkan kepalanya.
"Lalu moodnya ngapain dong?" tanya Andra dengan wajah melas, entah apalagi yang bisa membuat Zara berada di dekatnya, sedangkan dirinya ingin selalu berdua dengan gadis itu.
"Kak Andra lagi kenapa sii, nggak biasanya lebay gitu" hardik Zara yang jengah dengan sikap menye-menye Andra.
Ish apa kamu nggak tahu kalau aku ingin selalu berada dekat kamu Ra?.
"Kapan kita kencan Ra, kamu selalu sibuk, nggak pernah kita jalan berdua nikmati waktu."
Andra tak habis mengerti, Zara sudah mengatakan bahwa ia akan berusaha untuk mulai menykainya, namun jika ia tetap saja menjaga jarak, bagaimaan rasa cinta akan tumbuh subur, geramnya dalam hati.
Andra tak ingin menyiram tanaman yang telah mati, setidaknya ia ingin bersama-sama berjuang dan meyakinkan bahwa perasaannya selama ini patut di perjuangkan.
"Ehm bagaimana kalau akhir minggu besok, sepertinya aku tak ada acara kak" Zara merasa sedikit bersalah, tak pernah ia sekalipun mencoba membahagiakan pria yang begitu menggilainya setelah begitu banyak perhatian dan kasih sayang yang ia berikan.
Andra membulatkan matanya gembira.
"Oke, aku jemput" ujarnya penuh semangat.
Dengan lambaian hangat Andra melepas kepergian Zara.
Aku akan terus mencoba meluluhkan hatimu Ra.
"Ehm hmm, udah jauh Den, udah nggak kelihatan lagi mbak Zara nya" ucap Wanto di balik pintu dapur restoran di mana ia dapat melihat wajah bosnya yang tampak begitu berat melepas gadis model tersebut pergi.
"Lu ganggu aja."
"Den, apa dia yang berani tolak cinta Den Joy?saya pikir kalian adalah pasangan yang sangat serasi."
"Hmm jika orang lain lihat, mungkin kami adalah sepasang kekasih, tapi sebenarnya Zara masih belum menerima perasaanku To."
"Masa Den, saya lihat mbak Zara menyukai Den Joy."
"Kamu salah To, sayangnya padaku tak sedalam apa yang kau pikirkan, akulah pihak yang selalu memberinya rasa cinta yang tulus dari dasar hatiku, akulah yang selalu menyayanginya tanpa alasan, sedangkan dia, hingga detik inipun aku masih tak tahu, siapa pemilik hatinya."
Wanto menatap atasannya intens.
Wajah se tampan dia masih saja di php, apa kabar wajahku yang bagai kue jipang nggak kemakan, nyempil di pojokan kaleng lebaran hiks, Wanto membatin ngenes.
"Saya do'a kan Den Joy semoga mendapat jodoh terbaik."
__ADS_1
Andra menatap Wanto tajam.
"Jadi elu nggak restuin hubungan gue sama dia heuum?" tanya Andra sinis.
"Lha kan saya sudah do'a kan Den."
"Tapi gue hanya mau jodoh gue adalah dia, bukan yang lain, titik."
Andra melangkah memasuki restoran dengan kesal bahkan ia meremat tangannya keras.
"Salah gue di mana" ucap Wanto sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Setelah membereskan semua pekerjaan di restoran Andra pun menghampiri karyawan yang sering membuatnya naik pitam itu.
"Lu mau bareng gue nggak?" tanyanya dingin.
Wanto celingak-celinguk polos.
Pletakk.
"Aahhk, sakit atuh Den, kenapa jitak kepala saya, salah saya apa?"
"Lagian gue tawarin pulang bareng malah tengak-tenggok nggak jelas."
"Ya kan, Den Joy nggak bilang nama saya, takutnya saya yang cuma ke GR an Den."
Andra menoyor Wanto ringan.
"Udah cepetan sono lu beberes, gue tunggu di parkiran."
"Assiapp bos."
Suasana di dalam mobil tampak hening, Andra menoleh, si biang rusuh rupanya tertidur di sebelahnya.
Nafas yang teratur menandakan pemuda polos tersebut tidur dengan lelap.
Di sebuah pintu gang Andra menghentikan mobil.
Di lihat Wanto masih tampak terlelap bahkan dengkuran berat terdengar dari mulutnya.
Haiss ni anak malah ngorok, awas saja kalau sampai ada air jigong di sandaran jok, geram Andra dalam hati.
Andra pun melajukan kendaraan kembali tanpa membangunkan Wanto.
Empat puluh menit akhirnya mobil memasuki garasi mansion.
Andra membalas anggukan penjaga gerbang.
"To ssttt bangun To."
Tepukan di bahunya tak membangunkan tidur pemuda itu.
Tiiid tiiddd.
"Eh monyong, monyong tobat monyong..." pekikan lucu Wanto membuat Andra terkekeh.
"Sudah sampai Den?" tanya Wanto masih dengan separuh nafasnya.
__ADS_1
"Iya cepat turun."
Wanto mengedarkan pandangan, tempat yang tampak asing baginya, ia mengerjapkan kedua matanya.
"D dimana ini Den?" kini ia menggosok kedua matanya dengan punggung tangan.
Masih sedang mengumpulkan nyawanya, Wanto mengikuti Andra, matanya memindai seluruh bangunan megah yang berdiri kokoh di hadapannya.
Bangunan yang sering di lihatnya di sinetron di layar televisi.
"Bos kita salah jalan bos."
"Nggak, benar kok jalannya."
T tapi ini bukan rumah saya Den."
"Ya siapa bilang ini rumah elu."
"Tapi kenapa kita berhenti di sini Den?"
"Menurut lu ini rumah siapa?"
Glek, Wanto seketika menghentikan langkahnya.
"I ini rumah Den Joy?" tanya Wanto gugup dan takjub.
Sungguh bagai sebuah istana megah, baru sekarang ia memasuki bangunan seluas dan semegah itu.
"Lu tidur di kamar sono noh," tunjuk Andra pada salah satu kamar di lantai atas.
Glek.
"Ah t tidak usah Den, saya mau pulang aja" jawabnya dengan nada melas.
"Terus lu suruh gue anter elu lagi gitu."
"T tidak Den, biar saya pulang sendiri" rona wajah Wanto terlihat panik.
"Eh semprul ini sudah malam, mana ada angkot yang masih jalan, yang ada lu ntar di culik, ginjal, hati sama jantung lu ntar di ambil buat di jual, mau??"
Wanto menggeleng cepat dengan wajah pucat.
"Makanya lu tidur aja di kamar itu, itu kamar kosong kok."
"T tapi saya belum mandi Den, nanti kasurnya bau."
Andra tersenyum, pemuda polos dan sederhana, namun pekerja keras.
"Di dalamnya sudah langsung ada kamar mandi."
Dengan ragu Wanto melangkah dan memasuki kamar, kamar luas dan mewah, dengan ranjang berukuran besar serta furniture dengan bahan premium melengkapi kamar.
Suasana hening dalam kamar membuat Wanto meremang, dengan cepat ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Ia akan segera tidur, meski mungkin butuh waktu lama untuknya memejamkan kedua matanya.
Wanto menghela nafas panjang, setelah mandi, kini otaknya pun mulai bekerja.
__ADS_1
Kamar dengan ukuran beberapa kali lipat dari rumah kontrakannya, ranjang dengan kasur busa nan empuk.
Sungguh bagai di alam mimpi, bahkan dalam mimpinya pun tak seindah saat ini, batinnya.