Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*134


__ADS_3

Tak biasanya Gunawan mendapati Manu memiliki wajah aneh pagi ini, wajah tampan rupawan setengah bule nya tak bisa menyembunyikan mata panda yang terlihat jelas.


"Apa kau sakit Nu?" tanya Gunawan heran yang melihat tampilan wajah Manu sungguh tak sedap di pandang.


"Tidak Bos" jawab Manu dengan senyum masam.


"Lalu kenapa wajah tampanmu berubah mengerikan seperti itu?"


Karena putrimu yang membuatku seperti ini Bos, batin Manu.


"Kalau kau kurang sehat, kau bisa ijin" ujar Gunawan bijak.


"Tidak perlu Bos, saya sehat dan baik-baik saja."


Hanya hati saya yang sedang tidak baik, gumam batin Manu.


"Hm bagaimana tentang tawaran iklan salah satu klien kita Nu? Apa putriku menyetujuinya?."


"M maaf Bos, saya belum bertemu dengan Non Zara, mungkin sore nanti."


"Kenapa harus menunggu sore Nu?, apa dia sangat sibuk?"


"Sekarang Non Zara sudah bekerja di salah satu restoran Bos dan baru pulang sore hari."


Gunawan menghela nafas panjang, perjuangan putrinya memang sungguh berat, ia bekerja membanting tulang untuk membiayai hidupnya sendiri.


Pekerjaan menjadi seorang model tentu saja tak bisa menjamin seluruh biaya hidupnya, apalagi di tengah banyaknya saingan para model pendatang baru yang cantik dan penuh talenta.


Andai kau tinggal bersama Ayah Ra, tak akan Ayah membiarkanmu hidup dalam derita, akan Ayah pastikan kau hidup bahagia dan serba kecukupan, kita akan menikmati waktu bersama seperti dulu, kau harus menikmati hartaku, karena kaulah pewarisku satu-satunya.


Tak harus berkeringat untuk mendapatkan sejumlah uang, kau hanya perlu tinggal bersama Ayah nak, kita akan bahagia selamanya, ucap batin Gunawan lirih.


"Aku akan meminta klien untuk merubah jadwal shooting iklan mereka, dan tugasmu, segera hubungi Zara dan temannya itu secepatnya" ucap Gunawan.


"Baik Bos."


Gunawan sengaja memberi persyaratan pada klienya untuk memakai Zara sebagai model iklan mereka jika ingin proposal kerja sama mereka Gunawan setujui.


Dan di resto lah di sana Manu berada kini, dengan penuh semangat ia mendatangi resto di mana Zara bekerja, tentu saja dengan membawa berkas tawaran iklan untuk Zara.


Manu melambai ke Zara yang tengah santai, sengaja ia datang saat bukan jam makan siang, hingga pengunjung tak terlalu ramai.


Zara berjalan mendekati meja Manu.


"Ada apa Nu?" tanya Zara antusias, tak biasanya Manu datang ke tempatnya kerja jika tak ada hal penting.


"Aku ada job besar untuk kamu? Dan bonusnya lumayan."


"Job apa itu Nu?"


Manu menyerahkan berkas perjanjian iklan yang akan Zara kerjakan.


Mata Zara membulat indah sinar bahagia terpancar jelas.

__ADS_1


"Ini mah bukan lumayan Nu, aku akan terima Nu" ujar Zara antusias dan mata berbinar.


Tawaran membintangi sebuah iklan produk furniture dengan bayaran fantastis baru ia dapatkan.


"Baiklah sore nanti datanglah bersama Dewi ke perusahaan ini" Manu menyerahkan kartu alamat perusahaan tersebut.


Manu pun pamit setelah membayar tagihan hidangannya.


Zara melangkah kembali ke ruangannya dengan semangat.


"Mbak, siapa itu ganteng banget kenalin dong" sapa salah satu karyawan gadis.


"Ehm itu temanku namanya Manu" ucap Zara memandang punggung Manu yang menuju keluar resto.


"Sudah punya pacar belum mbak? Kenalin dong" ujar gadis lain tak kalah genit.


"Aku nggak tahu, nanti deh aku tanyain" jawab Zara jengah, melayani para gadis yang genit membuatnya mati kutu.


"Sstt, kerja-kerja jangan ngobrol mulu" Wanto yang muncul memperingati kedua gadis yang tampak riuh karena tingkahnya.


Zara dan kedua gadis itu pun membubarkan diri.


Tak terasa waktu pun berjalan cepat dan sore pun tiba.


Zara bergegas membereskan pekerjaannya untuk di ganti sift lain, senyumnya terbit saat di lihat Dewi sudah menunggu di area parkir, dengan berlari kecil Zara menuju sahabatnya.


"Ada apaan sii Ra, tumben Lu minta jemput?" tanya Dewi.


Dewi membaca sekilas dan mulutnya membulat.


"Hah...sungguhkah ini?" tanya nya masih tak percaya.


Zara mengangguk pasti.


"Ayo kita sekarang ke alamat ini" ucapnya di sambut Dewi yang langsung menyalakan motor maticnya.


"Lu liat apa To?" tanya Andra saat melihat karyawannya terus memandang ke arah jalan di mana Zara menghilang.


"Itu, tadi pacar Bos seneng banget mukanya, tahu habis dapat apa kali?" jawabnya jujur.


Andra memandang titik ujung jalan di mana Zara memang sudah tak terlihat, ia memang baru datang dari butik sengaja ingin mengajak Zara pulang.


"Memang ke mana dia To?"


"Nggak tahu Bos, cuma tadi siang saya lihat pacar Bos ketemu dengan salah satu pengunjung ganteng dan sejak itu wajah mbak Zara terlihat selalu senyum."


"Ganteng?" Wanto menganguk pasti.


"Iya Bos, ganteng bener, hidungnya mancuuung banget kaya bule, malah para gadis-gadis genit minta di kenalin ke mbak Zara."


"Manu" desis Andra lirih.


"A apa Bos? Manu?"

__ADS_1


Andra mengangguk lalu bergegas menyusul Zara.


"Lu tahu ke mana arah mereka?"


"Nggak tahu bos, tapi mereka melaju ke arah timur, apa Bos a..."


Wanto hanya tertegun saat Andra berlari meninggalkannya tanpa kata.


Dan di depan gerbang sebuah gedung besar nan tinggi menjulang, kini kedua gadis itu berada.


Zara mengamati kartu yang tertera "Iya alamatnya benar Wi, ayo kita masuk."


"Ish tanya satpam dulu."


Zara dengan hormat menanyakan alamat pada satpam sambil memperkenalkan diri.


Dua satpam yang memang sudah di perintahkan untuk segera membawa Zara ke dalam perusahaan pun mengangguk hormat.


Kedua gadis itu dengan langkah pasti berjalan mengikuti satpam penjaga.


Mereka menuju ke sebuah gedung terpisah dari gedung utama.


Rupanya gedung itu khusus di gunakan untuk menerima klien dan para tamu perusahaan.


Ruangan yang tak cukup lebar namun terlihat sangat rapi, furnitur berbahan premiun dengan gaya modern menghiasi ruangan.


Zara dan Dewi terlihat takjub dengan suasana ruangan.


Ceklek.


Pintu terbuka dan muncul dua orang dengan setelan jas hitam memasuki ruangan.


Salah satu pria yang membawa map berisi janji kerja sama dan satunya lagi mungkin CEO atau direktur yang memiliki jabatan lebih tibggi dari pria satunya.


Tak membutuhkan waktu lama, Zara yang memang sudah membaca keseluruhan syarat dan perjanjian langsung menanda tangani kontrak.


Sambutan kedua pria itu sangat ramah dan hangat, tak seperti bayangan kedua gadis itu sebelumnya.


"Baiklah Nona Zara, untuk proses pengambilan gambar bisa di lakukan besok sore dan lokasi nya kebetulan ada di gedung ini dan sudah kami persiapkan sepenuhnya."


Ucap pria penanda tangan kontrak.


"Baiklah Tuan, kami akan datang besok" jawab Zara.


"Jangan panggil saya Tuan, panggil Pak Tama saja."


Zara mengangguk "Baik Pak."


Keduanya pergi dengan hati riang gembira, membayangkan notifikasi transferan yang akan mereka terima.


Sementara sepasang mata di balik kaca jendela mobil memandang dengan mata berembun.


"Begitu keraskah hidupmu nak" sesak dada Gunawan melihat putrinya begitu riang mendapat satu job dengan bayaran yang baginya biasa saja.

__ADS_1


__ADS_2