Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU* 64


__ADS_3

Wajah Andra kini berubah datar, kedua sahabatnya terlihat semakin akrab dengan mantan Zara.


Juned yang melihat kedatangan Andra dan sang mommy segera bangkit dan menyongsong kedatangan mereka, lalu menyalami Maharani dan Zara.


"Selamat datang tante, silahkan duduk." sapa Juned.


Diego dan Revan pun ikut menyalami wanita paruh baya tersebut.


Revan menatap Zara tajam, beberapa detik tatapan mereka bertemu, Zara memalingkan wajahnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Revan tetap tersenyum ramah meski menyadari bahwa Zara menghindari tatapannya.


"Wah kalian sedang berkumpul rupanya" ucap Maharani.


"Iya tante" Kali ini Diego menjawab.


Tatapan Maharani menelisik Revan dengan intens.


"Kalau Juned dan Diego tante kenal, kalau ini...siapa?"


"Saya Revan tante" Maharani mengangguk.


"Oiya Tan, kata mommy hari ini jadwal tante kontrol ke dokter ya?"


Maharani menautkan alisnya, sementara Andra kini panas dingin, berharap Revan tak mengatakan jika dia adalah putra dari Reni, sahabat mommynya.


"Iya betul, pagi tadi tante habis kontrol, dan dari mana kamu tahu Van?"


"Kemarin ibu rencananya mengajaku jenguk tante, tapi ternyata kita bertemu di sini."


"Ibu, siapa nama ibumu?"


"Reni tante, ibu ku namanya Reni."


Maharani membulatkan matanya.


"Jadi kamu anaknya jeng Reni, waah."


Maharani merasa heran, dari perkataan Reni, putranya di putusin kekasihnya, gadis mana yang tega memutuskan pria se tampan Revan, Batin wanita itu.


"Van, yang sabar ya.."


Revan menaikan alisnya tak mengerti dengan perkataan Maharani.


Andra semakin salah tingkah dengan sikap mommynya yang terlalu perhatian pada rival nya itu.


"Maksud tante gimana ya, aku nggak paham tan?"


"Iya, ibu kamu tuh sedih banget, kamu putus dengan kekasih kamu, padahal dia sudah pengiin banget kalian nikah."


"Uhukk uhukkk" Revan memandang Zara dengan senyum masam.


Sementara Andra semakin blingsatan tak karuan saat tatapan Revan tajam memandang ke arahnya.


Anakmu biang keroknya tante.


"Kami sedang break dulu tante."


Sontak Andra menyipitkan matanya dan menatap Revan tajam, apa pria di depannya masih mengharap kembali pada Zara.

__ADS_1


"Ohh, jadi kalian suatu saat akan bersatu lagi dong?"


Juned dan Diego saling pandang lalu mengalihkan pandangannya ke arah Zara, begitupun Revan.


"Saya harap begitu tante." Revan menjawab dengan penuh oercaya diri.


"Uhukk uhukk"


"Ehmm hhmm"


Suara Diego dan Juned bersamaan.


"Kalian kenapa sii?" Maharani merasa heran pada tingkah kedua sahabat putranya, sementara Andra kini menahan amarah di dadanya, kedua mata tampak merah membara dengan kedua tangan mengepal keras.


Brengsek, sialan, sampai kapanpun kau tak akan bisa merebut Zara kembali dari tanganku.


"Ahh ehmm a anu tante, sebaiknya kita makan dulu" Juned yang membaca situasi yang mulai memanas pun akhirnya mengambil inisiatif.


Dengan gerakan tangan akhirnya beberapa karyawan datang dengan beberapa hidangan makanan ringan mau pun makanan berat.


Maharani memandang dengan binar rasa kagum.


Ternyata meski memiliki konsep cafe modern, mereka masih menyajikan makanan tradisional, pikirnya.


Wanita paruh baya itu mengambil sepotong kue tradisional jadul yang sudah begitu jarang ia jumpai, ada perasaan haru di hatinya, teringat masa-masa remaja di mana belum banyak jenis makanan modern yang sebagian besar berasal dari negara luar.


"Dari mana kau mendapat ide seperti ini Jun?, kau masih membuat makanan jadul di tengah gemouran banyaknya jenis makanan viral anak muda masa kini."


Juned tersenyum puas, ia memang menganggap masa remaja dan anak-anak adalah masa yang paling indah, dengan jajanan tradisional yang tak lekang oleh waktu, Juned berharap Cafe nya bisa di nikmati oleh semua kalangan.


Dari anak-anak hingga kalangan orang tua.


Maharani mengangguk bangga, ternyata masih ada anak muda yang menghargai dan masih melestarikan makanan jaman dahulu hingga sekarang.


"Ayo silakan di makan sepuasnya tante, dan kalau mau akan kami siapkan beberapa bungkus untuk di bawa pulang."


"Waah terima kasih sekali juned, tante senang sekali bisa menikmati makanan kesukaan tante sewaktu kecil, Ra ayo makan, ini makanan waktu tante masih kecil tau, pasti kau belum oernah mencobanya."


Maharani menyodorkan sepotong kue basah pada Zara.


Revan yang melihat interaksi itu merasa hatinya berdenyut nyeri.


Zara mengunyah perlahan makanan manis tersebut, berada satu meja di antara Revan Andra dan Maharani membuat tenggorokannya tercekat, bahkan rasa kue yang seharusnya manis kini terasa pahit di lidahnya.


"Gimana sayang, enak kan?"


Zara mengangguk ragu.


"Kenapa Ra, apa kau tidak suka?"


"A ehm aku tidak terlalu suka makanan manis tante" elak Zara dengan alasan logis.


Bagaimana ia bisa menikmati makanan manis tersebut jika ada dua pasang mata yang tak pernah lepas menatapnya tajam.


Mengetahui ke tidak nyamanan Zara, Revan pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Minum Ra" Andra menyodorkan minuman orange juice pada gadis cantik yang terlihat salah tingkah tersebut.


Dari sudut matanya Revan melirik adegan tersebut.

__ADS_1


Alihkan tatapanmu dari gadisku brengsek, Andra mengumpat dalam hati.


"T terima kasih babe."


Bersandiwaralah sepuasmu Ra.


Revan tersenyum masam.


"Oiya Ra, selamat ya atas keberhasilanmu, sekarang kau sudah menjadi seorang sarjana, seperti apa yang kau impikan".


Zara tergagap mendengar kalimat Revan.


"Jadi kalian saling kenal juga?"


Revan mengangguk tenang.


"Kami berteman tante, lagi pula siapa si yang tidak kenal Zara."


"Terima kasih."Zara menjawab singkat.


Andra masih dengan hati geram menahan amarah di dadanya, masih jelas terlihat di mata Revan, ia masih begitu berharap pada Zara.


Brengsek ni orang, cari gara-gara rupanya.


"Maaf tante, Ra, aku pamit dulu, Ndra, gue cabut."


Revan bangkit dari tempatnya lalu menyalami Maharani dan Zara.


"Oh Van sampein salam tante buat ibumu ya."


"Baik tante akan aku sampein, sampai jumpa tan, Ra."


"Jun, Go ...gue pamit ya, jangan lupa besok jam tujuh harus sudah ada di kantor, bawa sekalian CV lu."


"Siap" Diego menimpali.


Andra menatap Diego bingung.


"Dia nawarin lowongan di perusahaannya, lumayan dari pada nganggur, sekalian buat ngumpulin modal buka usaha" terang Diego.


"Oiya Ra, selamat ya sudah menjadi sarjana he hee" ucap Diego.


"Terima kasih kak" Zara menyambut uluran tangan Diego.


"Wahh ternyata kau sangat gigih, di tengah kesibukan modeling kau masih sempat meneruskan pendidikanmu Ra, selamat ya" Juned pun menyalami Zara dengan genggaman erat.


Zara tersenyum manis.


"Ishh udah nggak usah lama-lama" Andra mengurai tangan Juned.


"Ck dasar posesif, gue temen lu Ndra, mana mungkin gue tega"


"Ck gue tahu moto elu-elu pada' selama janur kuning belum melengkung maka masih bisa di perjuangkan'." Andra berucap lantang.


Maharani tersenyum gemas pada sang putra.


"Makanya, jangan lama-lama pacarannya, nanti di samber orang baru tahu kamu Joy."


"Ish momm amit-amit jangan sampai deh."

__ADS_1


Andra merengkuh Zara lalu mencium puncak kepala gadis itu lembut.


Tak akan ku biarakan orang lain merampasmu dariku.


__ADS_2