
Andra pergi ke kamar kecil dengan waktu sedikit lama, sengaja ia memberi kesempatan Manu untuk mengungkapkan semua isi hatinya.
"Maaf atas kelancanganku, tapi aku sungguh tak bisa menyimpan perasaan ini terlalu lama Ra" Manu berucap dengan tatapan penuh arti.
"Tapi maaf Nu, aku tak bisa membalas perasaanmu."
"Aku tahu, aku datang terlambat, aku hanya ingin agar kau tahu bahwa aku sangat menyukaimu dari pertama kali aku melihatmu dua tahun yang lalu."
Zara mengerutkan alisnya "Dua tahun yang lalu?"
Manu mengangguk jujur karena memang pertama kali ia melihat Zara di sebuah majalah, sejak saat itu hatinya telah terpatri, seorang penggemar yang berharap perasaannya akan terungkap suatu saat.
Kini kenyataan pahit harus ia terima, hati Zara telah berlabuh.
"Sekali lagi maaf kan aku Nu, ku harap kau tak membenciku, aku ingin kita bisa tetap bersahabat baik, meski aku sudah memilih Andra sebagai pendamping hidupku."
"Aku mengerti Ra, meski berat dan hancur hatiku, tapi aku rela asal kau bahagia, tapi yakinlah..aku akan tetap menerimamu jika suatu saat nanti hatimu berubah, aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun."
Zara menatap Manu haru, sinar mata penuh ketulusan yang dapat ia lihat, namun juga ada luka yang dalam tak ber dasar.
"Maaf Ra, aku pamit."
"T tapi Nu, sebaiknya kita makan dulu" ujar Zara karena seorang pelayan datang membawakannya makanan yang sudah mereka pesan.
"Heum aku ada urusan lain, maaf" Manu mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan cafe.
Maafkan aku Nu, ku harap kau bisa mendapatkan gadis lain yang lebih dariku, kau sangat baik, ucap batin Zara, menatap kepergian pria tampan itu.
"Sayang mana Manu?" tanya Andra mengedarkan pandangan.
"Sudah pulang katanya ada urusan penting mendesak."
"Ohh..".Andra hanya ber 'oh' ria dengan hati berbunga, dari tempat persembunyainnya ia sempat mendengar apa yang Manu ungkapkan.
"Sayang kau memesan banyak makanan, apa kau begitu lapar" tanya Zara.
"Hmm tidak, ini bukan hanya untukku, kau pun harus isi perutmu jangan hanya kau isi dengan minuman sari buah, ku lihat di meja makan apartement ada beberapa sandwich yang ku yakin belum kau sentuh, hanya segelas minuman yang itu pun hanya kau teguk setengahnya"jawab Andra.
__ADS_1
"Tapi aku belum lapar Babe."
"Mulai saat ini kau harus menjaga tubuhmu, aku ingin kita hidup lama menikmati hari tua, sampai rambut kita me mutih,sampai anak cucu dan cicit kita lahir, tolong...menua lah bersamaku."
Zara mengangguk haru, Andra begitu perhatain akan kesehatannya, maka tak ada alasan lain untuk menolak apa yang lelakinya pinta.
Andra menatap Zara yang asik mengunyah makanannya, memastikan perut sang kekasih terisi makanan.
"Mau nambah lagi?" tanya Andra penuh harap.
Zara menggeleng pelan karena lambungnya tak terbiasa terisi dengan penuh.
Mereka pulang setelah terjadi perselisihan kecil dengan pihak kasir cafe, saat Andra di tolak hendak membayar karena tagihan sudah ada yang membayarnya.
Andra yang belum merasa membayar pun merasa tak enak hati, mereka baru pulang setelah pihak pelayan menjelaskan bahwa Manu lah yang telah membayar semua pesanan di meja mereka.
Satu jam melewati perjalanan dengan perasaan hati hancur akhirnya Manu menepikan kereta besinya di samping rumah Nardi.
Pria paruh baya itu tampak sedang duduk bermandi keringat dengan kipas anyaman bambu di tangannya.
Manu datang dengan wajah lesu lalu ikut duduk menyandarkan tubuhnya di kursi rotan tua milik Nardi.
Manu tak bergeming bahkan ia kini memejamkan matanya sambil menghirup nafas panjang.
Nardi akhirnya diam tak ingin menganggu kegalauan putra angkatnya.
"Aku telah kehilangannya.." ucap Manu lirih dengan suara tampak bergetar.
Nardi menatap pemuda tampan itu, hatinya ikur merasa sedih, cinta yang begitu besar akhirnya harus pupus, karena suratan takdir tak mempertemukannya dengan Zara.
"Relakanlah dia, jika kau benar mencintainya, kebahagiannya pun adalah kebahagiaanmu juga" ujar Nardi bijak.
"Rasanya berat untuk melepasnya Pak, cintaku begitu besar untuknya."
"Yakinlah, masih ada gadis lain di luar sana yang lebih berhak mendapat cintamu, Zara bukan jodohmu relakan dia bahagia" Nardi menepuk bahu Manu lembut.
"Ayo kita makan bersama, meski hatimu hancur tapi jangan tubuhmu, biarlah waktu yang akan menyembuhkan luka hatimu, aku percaya kau pria tangguh, tak mungkin kalah hanya karena seorang Zara."
__ADS_1
Manu hanya bisa menurut saat Nardi menarik tangannya ke ruang makan.
Bicara tentang cinta dengan seorang lelaki jomblo berpuluh tahun, memang tak ada gunanya, ucap batin Manu kesal.
Berita tentang pernikahan Andra rupanya sudah sampai di telinga Fitri, ia pun mempercepat kepulangannya dari negara S dini hari tadi, Fitri kini mengamuk di kamarnya.
"Nak sudahlah sayang, serahkan semua pada Ayahmu, biar Ayah yang akan mengurusnya nanti, sekarang kau makan lah nak, nanti kau sakit" teriakan sang Ibu dari balik pintu tak di gubrisnya.
Fitri masih melampiaskan amarahnya di kamar dengan membanting semua barang-barang juga peralatan kosmetiknya.
kamar luas nan mewah itu kini bagai kapal pecah, kaca televisi, jam dinding dan beberapa figura yang menjadi sasaran amukan kemarahannya tampak berserakan di lantai, juga peralatan kosmetik dan seluruh bajunya di lemari sudah terbang ke berbagai arah.
Nafas Fitri masih memburu, mukanya merah padam, bahkan ada beberapa bagian kulit tangannya yang tergores pecahan kaca mengeluarkan berdarah.
Semua penghuni rumah hanya bisa berdiri menyaksikan ke kacauan dari balik pintu, tak ada yang bisa menghentikan kemarahannya.
Seorang ajudan datang membawa besi panjang yang akan di gunakan untuk mencongkel pintu, karena kunci cadangan di pegang oleh fitri.
"Sudah cepat kau congkel pintunya" perintah Pak Menteri dengan wajah cemas.
"Pelan- pelan Di, jangan sampai kena tubuh Fitri" ucapan cemas dari seorang ibu yang takut keselamatan putrinya terancam.
"Kamu gimana sii Bu, kalau mereka mencongkel pelan-pelan mana mungkin pintu akan terbuka" ucap Pak Menteri kesal.
"Iya Pak, tapi aku takut nanti pintunya kena anak kita hiks."
"Ini salahmu yang selalu memanjakannya, jadi begini kan, semua keinginanya harus di turuti" jawab Pak Menteri geram.
Fitri memang terlalu di sayang oleh istrinya, maka tak heran jika tingkahnya sangat arogan dan manja.
Lelaki paruh baya itu baru tahu jika ternyata Andra sama sekali tak menyukai putrinya, karena ia sudah memiliki seorang kekasih bahkan mereka sudah meresmikannya dan beberapa hari lagi akan menikah.
Dari rekaman CCTV di rumahnya, dia bisa mengetahui kebenaran yang ternyata Andra hanya menganggap putrinya sebagai seorang sahabat tak lebih.
Fitri yang tidak mau menerima kekecewaan pun marah membabi buta.
Brakk.
__ADS_1
Bersamaan dengan pintu yang berhasil di dobrak oleh dua ajudannya teriakan pilu pun menggema ke seluruh ruangan.
"Fitrii...."