
Masih belum menyadari perubahan wajah sang Bos, Do dengan tenang meninggalkan rumah Nardi sedangkan Andra yang pergi berlawanan arah dengannya.
Sore ini Andra akan mengantar Zara pulang, ia terpaksa melewatkan moment kebersamaannya weekend besok, karena Zara akan berangkat ke luar pulau untuk melakukan pengambilan gambar dengan klien baru nya.
Zara tiidak melakukan protes saat ternyata Andra melajukan motornya bukan menuju apartement.
Di hatinya terdalam pun sebenarnya Zara ingin menikmati waktu berdua dengan bebas, ia merasa waktunya tak cukup untuk sang kekasih karena selalu di sibukan dengan mencari materi dunia.
Lebih dari satu jam perjalanan yang mereka tempuh, di sebuah restoran mewah yang berdiri tak jauh dari pantai Andra menepikan motornya.
Suasana lampu resto terlihat ramai karena lampu- lampu cantik menghiasi sepanjang gerbang jalan memasuki rumah makan luas itu.
Dan gazebo yang terbuat dari bambu menyebar mengelilingi bangunan utama, beberapa gazebo sudah terisi pengunjung yang kebanyakan sepasang muda-mudi.
"Ayo kita ke dalam" Andra menggandeng Zara memasuki gerbang rumah makan, ruang utama sudah mereka lewati namun Andra masih terus berjalan menelusuri jalan setapak yang berlokasi lebih masuk ke dalam melewati deretan gazebo bagian luar.
"Kak, kita kemana" tanya Zara yang tangannya terus dalam genggaman Andra.
Andra mrnutup mulut dengan jari telunjuk mengisyaratkan agar Zara diam.
Akhirnya sampailah keduanya di sebuah gazebo yang terletak lebih tersembunyi, dengan penataan beberapa tanaman merambat dan tumbuhan bambu kuning yang sengaja di tanam sebagai penyekat gazebo tersebut hingga tidak terlalu jelas jika di lihat sekilas.
Zara memandang takjub, gazebo mungil yang langsung mengarah ke pantai sungguh sangat mengagumkan, suasana malam yang banyak bertabur bintang menambah suasana kian romantis dengan suara debur ombak yang menerpa karang bebatuan.
"Kak dari mana kau tahu tempat ini" tanya Zara begitu ia memasuki Gazebo dan memandang indahnya malam berhias beribu bintang.
"Rumah makan ini milik temanku yang tinggal di Xx, kami berteman baik dan aku sering datang ke sini, pernah ia menginap di mansion selama beberapa kali."
Dia selalu menyuruhku untuk main atau sekedar mampir ke rumah makan miliknya ini, dan ini kunjunganku yang ke dua kali, dan di gazebo ini lah kami selalu berkumpul.
"Letak gabebo ini sangatlah strategis, bisa memandang lautan dan melihat langit malam begitu luas, apalagi jika pada siang hari, pastilah pemandangannya akan sangat indah" ujar Zara.
Andra mengangguk pasti" kapan-kapan kita ke sini saat siang" ucapnya.
Zara mengangguk antusias.
Seorang pelayan datang membawakan minuman dan kue camilan.
"Terima kasih" ucap Andra.
"Silahkan Den, dan kalau ada reques lagi silahkan panggil kami" ujarnya ramah, rupanya sang pemilik rumah makan sudah menghubungi mereka untuk menjamu Andra dengan baik, hingga tak perlu memesan pun hidangan sudah datang.
"Rupanya kalian begitu dekat" ucap Zara.
"Heum, bahkan dia pun menyediakan kamar khusus jika kita mau menginap."
"Oh di sini juga ada sewa kamar juga?"
"Khusus hanya untuk kita" Andra berucap sambil senyum smirk.
__ADS_1
"Aaawh" Andra menatap Zara dengan tangan mengusap pinggangnya yang panas terkena cubitan sang kekasih.
"Makanya jangan suka berfikiran mesum" sewot Zara.
"Siap yang mikir mesum, aku kan cuma bilang kalau kita mau, kalau nggak mau ya udah, lagian aku juga nggak maksa kamu nginap di sini sayang, kita hanya akan tidur bersama setelah ada tanda tangan kita di buku nikah nanti" Andra menatap Zara dalam.
"Maukan nikah sama aku?" pertanyaan polos yang membuat Zara gemas.
"Aku akan menunggumu melamarku" jawab Zara spontan.
"Benarkah?"
Zara mengangguk pasti.
"Ehumm hmm, sayang...apa kau tidak ingin bertemu dengan Ayahmu?" tanya Andra lirih.
Zara menatap sang kekasih intens, dalam hatinya ia sungguh merindukan pria cinta pertamanya, bahkan ia sering membayangkan bertemu kembali dengannya, bercanda bahagia seperti dahulu.
Zara kadang merasa sedih, semenjak pergi dengan Reni, tak pernah sekalipun Zara bertemu kembali dengan sang Ayah.
Meski rasa sakit hati masih terasa namun Zara tetap merindukan sosok sang Ayah, di tengah kesendiriannya Zara ingin ada seseorang yang tulus menyayangi dan melindunginya.
"Entahlah akupun tak tahu dimana sekarang,."
"Andai kau bertemu lagi dengan Ayahmu apakah kau akan memaafkannya?"
"Kenapa Kak Andra menanyakan hal itu, aku tidak tahu di mana sekarang Ayah berada, bagaimana keadaannya, bahkan masih hidup atau sudah meninggalpun aku tidak tahu hiks" Zara terisak pilu, sakit di hatinya tak bisa menutupi bahwa dirinya begitu merindukan sang Ayah.
Andra memeluk Zara erat.
"Maaf, maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membuat kau mengingat kembali luka hatimu" ujar Andra lirih sambil mengusap puncak kepala sang kekasih.
Zara menggeleng pelan.
"Aku memang masih sakit hati atas perbuatan Ayah, tapi aku juga rindu padanya, aku rindu memeluknya, dan aku sangat.. sangat rindu melihat kembali senyumannya hiks hiks."
"Sstt sudahlah sayang, nanti kita cari bersama Ayahmu oke" ucap Andra dengan seringai tipis.
"Benarkah" Zara menengadahkan wajahnya.
Andra mengangguk pasti.
"Kita akan mencari Ayahmu, dan aku akan meminta restu padanya untuk melamarmu."
"Terima kasih Kak" Zara memeluk Andra lebih kencang.
"Heum tentu saja itu tak gratis sayang" ucapnya lirih.
"Maksudnya?"
__ADS_1
Cupp.
Tepat saat Zara menengadahkan wajahnya saat itulah Andra mendaratkan ciumannya ke bibir Zara.
Sontak Zara menutup mulut dengan tangannya.
"Ish kau pelit sekali ternyata" Andra mencebikan bibir lalu mengurai pelukannya, wajahnya berubah muram.
Andra melangkah kembali ke kursinya lalu meneguk minuman hingga tandas, di balik sikapnya merajuk, ia sungguh sedang menahan gejolak dadanya yang memanas, bibir lembut Zara begitu manis ciuman ringannya saja sudah membuat darahnya panas.
"Kak Andra marah?" Zara menghampiri Andra yang kini berdiri memandang laut dengan suara deburan ombak yang menggelegar membentur karang.
Andra diam sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aku jadi ragu, apakah selama ini aku sendiri yang mencintaimu begitu besar, sementara kau anggap perasaanku ini angin lalu" ucapan kalimat Andra yang dalam dengan helaan nafas panjang menyiratkan hatinya sedang gundah.
"Tidak, kau salah Kak, akupun mencintaimu, aku tidak pernah mempermainkan perasaan orang apalagi orang yang aku sukai" cerca Zara tak rela jika perasaannya di ragukan sang kekasih.
Sungguh saat ini Andra merasa menjadi orang paling bahagia di dunia, ungkapan perasaan cinta dari mulut Zara tak pernah ia bayangkan.
Di balik sikap datar dan acuhnya, Zara kini mengungkapkan dengan lantang dan jelas.
Masih dengan rasa tak pecaya, Andra berusaha tetap tenang menahan jantungnya yang kini berpacu kencang karena hatinya begitu bahagia.
Dengan perlahan Zara mendekat Andra.
"Kak...maafin aku" ucapnya penuh sesal.
Namun Andra tak bergeming dan masih asik dengan sandiwaranya.
"Kaakk...jawab dong" rengek Zara sambil tangannya menggoyangkan lengam Andra yang masih acuh.
Meski hatinya bersorak riang Andra masih bertahan dalam diam.
"Kakak bener marahnya? Maafin aku Kak."
"Mau maaf, tapi ada syaratnya."
Kalimat Andra bernada tenang dan serius.
"Apa?"
"Jangan panggil aku Kakak" jawab Andra singkat.
Zara diam membeku.
"Kau bisa panggil sayang, cinta, honey, babe, pilih salah satu."
Ultimatum Andra datar, ia tak ingin lagi Zara mendebatnya dengan sebutan mas, abang atau apapun yang membuatnya agak risih.
__ADS_1