
Zara bergegas mengganti baju casual untuk menemui Andra, hatinya meletup penuh rasa gembira.
Meski tak paham apakah gembiranya karena akan pergi bersama Andra atau karena akan makan seblak.
Zara mengulum senyum, pantaskah Andra yang tampan di sejajarkan dengan makanan pedas yang sedang viral.
Setelah memantaskan diri di depan cermin Zara keluar dari kamarnya, secarik kertas berisi pesan untuk Dewi ia tinggalkan di atas meja makan.
Ting.
Pintu lift terbuka, Zara melangkah keluar melewati lobi apartemen.
"Ra, tunggu."
Zara menoleh ke asal suara yang memanggilnya.
Diego tersenyum senang, akhirnya bertemu juga dia dengan gadis idolanya.
"Kak Diego, mau kemana pagi ini" sapa Zara sopan.
"Ehm mau ke bengkel, mau beres-beres" jawabnya.
"Gimana kelanjutan kasus kemarin? Apa kak Diego akan meneruskan ke ranah hukum?" tanya Shanum.
Diego menghela nafas panjang.
"Untuk itu belum aku fikirkan Ra, masih butuh pertimbangan lain lagi."
Zara mengangguk paham.
"Aku pergi dulu kak, ada urusan lain" ucap Zara, lalu meninggalkan Diego.
Diego menatap kepergian Zara yang menaiki mobilnya.
Terbayang jelas manis senyuman Zara saat ia melambaikan tangan dan melajukan mobilnya.
Pemuda jomblo itu hanya dapat menarik nafas panjang, sungguh kenyataan yang sulit di percaya bahwa gadis idolanya ternyata sudah menjadi kekasih sahabatnya yang baru beberapa bulan pulang dari negara x.
Diego melangkah pergi sambil merutuki kebodohannya yang ternyata kalah cepat dengan Andra, atau mungkin kalah dukun, batinnya.
Zara memacu mobilnya menuju tempat yang Andra Sharing lewat ponselnya.
Memang tak terlalu jauh dari apartemen miliknya.
Di sebuah Pusat Jajanan Serba Ada, kini Zara memarkirkan mobilnya di samping bangunan tenda besar yang di pasang berjajar, tempat makan itu sebenarnya sering di lewati Zara, namun tak sekalipun Zara mampir dan mencoba makanan di tempat itu.
Banyak pengunjung yang diam-diam memperhatikan Zara, untunglah topi hitamnya membantu sedikit menutupi wajahnya.
Dan kaca mata hitam yang di pakainya berharap cukup untuk menyamarkan wajahnya.
Bukannya Zara tak ingin menyapa para penggemarnya, tapi saat ini ia sungguh sangat ingin menikmati seblak seperti yang Andra tawarkan tanpa ada gangguan dari mereka.
__ADS_1
Zara melirik ke arah sudut ruangan di mana Andra tengah melambai ke arahnya.
Dengan langkah di buat setenang mungkin Zara mendekat ke arah kursi tempat Andra berada.
Wajahnya tetap tertunduk namun masih dengan kewaspadaan tinggi karena jika ia salah langkah maka kursi pengunjung lain akan terkena tendangan langkah kakinya.
Wajah Andra tersenyum gemas, Zara yang sedang kebingungan melangkah karena letak kursi pengunjung yang tak beraturan dan membuat jalur untuk jalan jadi tertutup.
Andra bangkit dari duduknya lalu mendekat ke arah Zara.
Zara yang masih tertunduk tak menyadari Andra yang kini semakin mendekatinya.
"Aakhh" pekikan Zara tertahan, saat tangan kecilnya di raih oleh tangan seorang pria, yang tak lain adalah Andra.
"Kita pergi dari sini" ujar Andra datar, ia tak ingin Zara menjadi pusat perhatian, Zara adalah miliknya seorang, geram batin Andra.
Banyak pengunjung yang mencuri pandang ke arah Zara yang kebanyakan para lelaki, bahkan saat di samping mereka sang kekasih duduk dengan manis.
Zara membiarkan tangannya berada dalam genggaman tangan kokoh Andra.
Berada di tempat yang membuatnya tak nyaman sungguh menyiksa hatinya.
Di tempat parkiran Andra melepas genggaman tangannya, mengajak Zara ke Pusat Jajanan Serba Ada ternyata adalah keputusan yang salah.
Andra sama sekali tak berfikir jika wajah Zara tentu akan menjadi sorotan banyak orang karena kecantikannya yang menonjol, meski sudah dengan rapat Zara menutupi wajahnya namun masih saja membuat perhatian para pengunjung berpusat padanya.
"Kak, kenapa kita pergi, aku bahkan belum merasakan seblaknya" Zara berucap protes.
Andra menatap intens.
"Kita delivery order saja." jawab Andra singkat.
"Mana mobilmu?" tanyanya lagi.
Zara menunjuk mobil kesayangannya.
Andra meraih kunci mobil di tangan Zara lalu menarik kembali tangan ramping itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Aku yang bawa" ujar Andra lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
"K kak kita mau kemana?" Zara mulai panik, rencana makan seblak seperti dalam angannya kini bagai menguap setelah Andra tiba-tiba mengajaknya meninggalkan pujasera tersebut.
"Kita ke bengkel Diego, ada rapat darurat" jawab Andra datar.
Zara heran dengan sikap Andra yang kini berubah seratus delapan puluh derajat.
Sikap hangat nan lembut jika berdua dengannya kini hilang berganti dengan ketegasan dan rona wajah dingin.
Setelah beberapa menit, sampailah di bengkel Diego, dimana sudah berkumpul kedua sahabatnya itu.
Diego menatap Zara penuh selidik, rupanya keberangkatan Zara yang tergesa-gesa karena hendak bertemu Andra, ia membatin.
__ADS_1
Zara duduk berhadapan dengan Diego, sepersekian detik mereka saling bertemu tatap.
Diego hanya menundukan kepalanya saat Zara menyapa dengan senyum manis.
Ingin rasanya Diego membungkusnya rapat dan membawanya pulang dan menjadikannya sebagai hak milik pribadinya.
Namun Diego sadar, ia tak akan berbuat sepicik itu, ia tak akan mengambil yang sudah menjadi milik sahabatnya, meski status mereka masih tahap pacaran jadi masih sah untuk di perjuangkan.
Diego harus tetap sadar jika senyum Zara bukan untuknya.
"Ra sudah ku pesan," bisik Andra menunjukan layar ponselnya, ia masih merasa sedikit bersalah karena mengajak Zara meninggalkan pujasera.
Tatapan Zara penuh dengan rasa kecewa saat meninggalkan tempat makan yang terdapat makanan seblak keinginannya.
Zara mengangguk namun tak bersemangat, masih terbayang pujasera yang penuh pengunjung tadi, mereka sebagian besar memesan seblak.
Jika warung tersebut laris maka di pastikan seblaknya tentu enak.
Dan seblak pesanan online Andra tentu bukan dari warung tersebut, karena letaknya yang lumayan jauh dari bengkel Diego.
"Kamu sudah nggak mau makan seblak lagi?" tanya Andra karena wajah Zara tampak biasa saja tak se antusias tadi.
Zara mengangguk.
"Masih pengin kak"
"Tapi kenapa wajahmu murung?"
Zara menggeleng pelan, tak mungkin jika ia mengatakan bahwa ia ingin seblak yang di warung pujasera tadi.
Diego merasa dadanya bagai teriris melihat kedekatan keduanya.
Hati jomblonya bagai meraung merutuki nasib ngenesnya.
"Bentar lagi dia datang" ucap Juned setelah membaca pesan di ponselnya.
Andra menatap Juned " siapa?"
"Revan."
Andra memutar matanya jengah karena mendengar satu nama yang membuat kupingnya tiba-tiba terasa panas.
"Naahh tuh datang, panjang umur dia."
Kini Andra menatap tajam Juned.
Tega-teganya mendo'akan panjang umur pada orang lain, giliran gue yang lagi ulang tahun malah ucapannya, minta traktiran, dasar teman durhaka, maki Andra dalam hati.
Revan datang dan menyalami ketiga pemuda di hadapannya.
Tatapannya berubah dingin saat bersitatap dengan Andra.
__ADS_1
Namun berubah selembut kapas saat ia menatap ke arah Zara.
Sialan ni cecunguk, masih ngarep sama Zara, hmm langkahin dulu mayat gue.