Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*116


__ADS_3

Zara menggeliatkan tubuhnya saat merasa gigitan kecil di kulitnya.


Matanya membuka perlahan, suasana sudah mulai gelap karena maghrib tiba, otaknya masih belum terkumpul sepenuhnya, dan suasana yang asing membuatnya bingung.


"Sudah bangun Non?" tanya Manu yang sabar dari tadi di sampingnya mengipasi tubuh Zara agar nyamuk tak mendekat.


"Di mana ini Nu?"


"Ini di rumah Bapak saya."


"Ayo kita pulang, sebentar lagi malam" ucap Zara mulai panik.


"Kita makan dulu Non" ujar Manu.


"Ah nggak usah Nu, aku takut nanti Dewi dan Kak Andra mencariku"jawab Zara.


Kruuuukkk.


Manu tersenyum mengetahui jawaban perut Zara.


Sementara gadis cantik itu merutuki perut yang tak mau bekerja sama dengannya.


"Non, silahkan makan dulu, Bapak sudah masak sekedarnya, lumayan buat mengisi perut yang kosong" ucap Nardi yang muncul dari balik pintu.


"A ah t terima kasih Pak" jawab Zara terbata.


"Perkenalkan saya Nardi Ayah Manu" Nardi mengulurkan tangan dan di sambut Zara.


"Zara."


Mereka lalu melangkah ke ruang tengah di mana sudah tersedia hidangan makan sederhana di atas meja.


Ketiganya menikmati makan dengan hidmat, Nardi dengan lembut menyodorkan beberapa hidangan agar Zara mencicipinya.


Meski tersipu tapi Zara tampak menikmati kelezatan masakan yang di buat Nardi, masakan rumahan yang sangat memanjakan lidahnya.


Zara tampak salah tingkah saat Manu melarangnya untuk membereskan sisa peralatan makan.


"Biar saya saja Nona."


Nardi pun mengangguk dan menyodorkan sepiring buah nanas yang sudah terpotong.


"Makanlah buah nanas ini Non, rasanya manis asli dari kebun Bapak di samping" ujar Manu.


Zara mengambil sepotong nanas dan memakannya, matanya berbinar saat manis rasa nanas menyapa lidahnya, begitu segar di tengggorokan.


Drrt drrt.


Zara menoleh ponselnya yang bergetar.


"Ra kamu di mana?maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang" ujar Andra dengan nada penuh sesal.


"Tidak apa-apa Kak, aku pulang naik taxi."


"Oke, nanti aku pulang mampir ke tempat kamu, ada yang perlu aku bicarakan"ujarnya lagi lalu menutup sambungan telepon.


Meski jarak manu tidak terlalu dekat tapi ia sempat menangkap pembicaraan Andra.


"Nu, aku mau minta tolong sama kamu."


Manu mengangguk pasti.


Apapun akan kulakukan untukmu Nona.

__ADS_1


"Tolong antar aku pulang Nu" ucap Zara lirih.


Zara pun meninggalakn rumah sederhana itu setelah berpamitan pada Nardi.


Sepanjang perjalanan Zara tampak membisu, niat hati ingin bertanya siapa sebenarnya Manu, tapi saat ini hatinya sedang tak baik-baik saja, ia ingin menenangkan hatinya.


Siapapun Manu, toh ia pria yang baik dan tulus, tentang identitasnya, bisa ia tanya lain hari, pikir Zara.


Manu pun tahu diri, ia tak ingin mengganggu suasana hati gadis cantik di sampingnya.


"Makasih Nu" ucap Zara tulus, kalau tak ada pria setengah bule itu, entah bagaimana nasibnya tadi.


"Sampai jumpa Nona" angguk Manu lalu pergi meninggalkan Zara dengan berat hati.


Tangan Manu meremat kemudi dengan kencang, masih terlihat jelas rona wajah kecewa Zara.


"Andai kau tak bahagia dengannya, biarkan aku menghapusnya dari ingatanmu" Manu bermonolog sendiri.


Mobil melaju cepat menuju ke rumah Nardi karena Gunawan sudah menunggunya di sana.


Tok tok tok.


Ceklek.


Manu menekan tuas pintu perlahan.


"Dari mana kau dasar asisten kurang ajar."


Gunawan mengumpat sambil memakan sepotong buah nanas di genggamannya.


Manu hanya tersenyum masam, lalu duduk di hadapan atasanya sambil menyaksikan sang bos menikmati buah kesukaannya.


Mereka memang jelas memiliki ikatan darah, kesukaan pun sama, batin Manu.


Mati aku, umpat Manu dalam hati.


Gunawan tak mau berpindah tempat duduk meski ia sudah menyelesaikan makannya.


"Topi siapa ini?" tanya Gunawan yang secara tak sengaja menjatuhkan topi hitam tersebut.


Mani dan Nardi saling pandang.


"Itu topi teman saya bos, tadi kebawa dari kantor" jawab Manu mencoba tenang.


"Wangi" ujar Gunawan sambil menghirup topi Zara.


Glek.


Iya lah wangi, orang yang punya bidadari, ucap batin manu.


"Maaf Bos, besok akan saya kembalikan topi ini" ucap Manu sambil tangannya menjulur hendak mengambil dari tangan Gunawan, namun dengan gerakan cepat, pria paruh baya itu menghindar dan menyembunyikan topi di perutnya.


"Bilang saja, hilang" ucapnya spontan.


"T tapi bos."


"Ah kalau tidak Lu beli lagi yang baru dan kasih ke temanmu itu." sambung Gunawan lagi.


Entah kenapa saat ia mencium aroma topi itu, rasa hatinya tak rela melepasnya dan memberikan lagi pada Manu.


Indra penciumannya seakan begitu candu pada wangi aromanya.


jika kedua pria beda generasi tersebut sedang adu argumen merebutkan sebuah topi, berbeda dengan keadaan di apartement.

__ADS_1


Zara duduk termenung di atas sofa ruang tengah, ia sudah berganti baju tidur setelah Andra menghubunginya untuk membatalkan datang ke apartement.


Ia harus mengantar Fitri ke Rumah Sakit karena merasa pusing setelah pulang dari Taman Kota bersamanya.


Alasan logis yang membuat Zara tak bisa berkutik untuk protes.


Tak tok tak.


Ceklek.


"Whuaaaa ...Alamak, semprul , blekok, gelo siaa" umapatan Dewi membuat Zara terkekeh.


Suasana ruang tamu yang gelap membuat Dewi tak menyadari keberadaan Zara yang tengah duduk di ruangan tersebut.


"Eh Nini Lampir, Lu ngapain ngejugrug di situ kaya genderuwo aja"hardik Dewi masih merasa kesal karena jantungnya hampir loss dol.


"Nunggu Elu" jawab Zara singkat.


"Ngapain nunggu Gue, sorry Gue kagak beli nasgor, dah ngantuk."


"Gue juga udah kenyang, Gue habis makan di tempat yang indaaah banget, makannya juga super duper enak lezat dan nikmat muaach."


Dewi mencebik kesal.


"Cih mentang-mentang habis kencan, belagu Lu..." umpat Dewi sambil berlalu ke kamarnya.


Zara hanya bisa menelan ludah kasar.


Andai Lu tahu nasib kencan Gue Wi, ucap batin Zara lirih.


Namun di balik gagalnya kencan kedua dengan Andra, ia pun sedikit terhibur dengan adanya Manu yang telah menolongnya.


Zara terpaksa mengurungkan niatnya untuk curhat dengan Dewi, lalu melangkah ke kamarnya.


Pagi hari di sebuah apartemen luas nan mewah, Gunawan bangun dengan langkah panjang menuju ruang tengah, setelah mandi dan bersiap ke kantor ia menyempatkan untuk menikmati kopi pahit kesukaanya.


Dari kursi tunggal di balik jendela balkon Gunawan melihat suasan pagi yang jarang ia nikmati.


Tok tok tok.


Ceklek.


Manu masuk membawa map berisi berkas yang harus di tanda tangani Gunawan.


"Selamat pagi tuan, ini berkas dari tiga perusahaan klien kita yang harus anda tanda tangan, semua sudah saya cek" ujar Manu menyodorkan ke hadapan Gunawan.


"Ehhm Lu cari apa Nu, matamu jelalatan nggak jelas" ujar Gunawan yang merasa aneh pada tingkah sang asisten.


"Ah t tidak Tuan, saya hanya heran melihat Tuan sudah rapi, apa kita akan berangkat bersama?" tanya Manu mencoba menyembunyikan kecewa hatinya, ia tak melihat topi Zara di ruangan itu, apa sang bos menyimpannya dalam kamarnya, pikirnya dalam hati.


"Iya kita berangkat bersama, bagaimana perkembangan putriku Nu?"


"Baik bos, kemarin Non Zara terpaksa saya bawa kabur karena banyak wartawan yang mendatangi Taman Kota di mana Non Zara berada dengan teman pria nya."


"Apa lelaki itu putra mantan istriku?"


"Bukan Tuan, dia putra dari Desainer terkenal Maharani."


"Bagus, terus awasi dia, aku tak ingin ada lelaki yang mendekatinya bahkan jika sampai menyakiti hatinya, maka dia akan langsung berhadapan denganku."


Manu terdiam membisu, untung saja ia tak mengatakan kejadian di Taman Kota kemarin, di mana Zara di terlantarkan oleh putra desainer itu dan memilih pergi bersama putri Pak Menteri.


Apa Zara benar-benar menyukai putra Desainer itu, pikir Manu.

__ADS_1


Wajahnya terlihat kecewa saat lelaki itu meminta maaf telah meninggalakannya demi sang putra Pak Menteri.


__ADS_2