Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*80


__ADS_3

Roy menatap atasannya tak percaya, ia menatap tajam pria tampan yang di panggilnya bos itu.


Revan membalas tatapan asistennya itu tenang, ia memaklumi keterkejutan Roy karena sudah menyuruh untuk menyelidiki ibunya sendiri.


Masih teringat jelas saat Zara mengatakan bahwa mereka adalah saudara satu ayah, dan Reni yang tak alin ibunya adalah wanita yang telah merebut ayahnya.


Saat mereka masih bersama, Zara tak pernah menceritakan tentang kisah hidupnya, ia hanya mengatakan bahwa ia hidup sebatang kara, kedua orang tuanya telah meninggal.


Dan Revan pun tak pernah bertanya kenapa Zara hanya berziarah ke makan ibu dan neneknya, tanpa sekalipun datang ke makam sang ayah.


Roy termanggu-manggu di tempatnya, baru ia tahu bahwa Zara meminta putus dari bosnya karena mereka ternyata adalah saudara satu ayah.


Roy meremas kepalanya hingga rambut yang selalu tertata rapi kini terlihat acak-acak an.


Dua hari menunggu sang bos di rumah sakit kini membuatnya ikut merasa pusing tujuh keliling.


Selain tugas kantor yang menumpuk karena absen sang bos dari kemarin, kini bertambah lagi dengan tugas menyelidiki Nyonya Reni yang tak lain ibu dari Revan sendiri.


Revan yang sudah berpindah ke ruang rawat kini bisa sedikit lega, ibunya sudah tak lagi terus menempel di sampingnya.


Dengan telaten Reni menyiapkan makanan yang di bawanya dari mansion, sengaja Reni meminta bibi di mansion untuk mbuat makanan yang di sukai putranya.


"Van makan lah dulu, ibu sudah minta bibi untuk masak makanan kesukaanmu nak" ucap Reni sambil menyodorkan sendok ke arah mulut Revan.


Tak ingin membuat sang ibu bertanya-tanya, Revan pun nurut, dengan membuka mulutnya menerima suapan sang Reni.


Wanita yang selalu memberikan kasih sayang tulus untuknya, demikian pula Revan, ia begitu menyayangi sang ibu, bahkan ia tak rela jika wanita itu sampai meneteskan air matanya.


Masih teringat kala ibunya menangis sedih saat ia bertanya tentang sosok sang ayah.


Ayahmu sudah meninggalkan kita nak.


Hanya itu kalimat yang di ingat Revan, tak pernah lagi ia mengulik tentang ayah pada ibunya.


Revan beranggapan sang ayah telah meninggal hingga ibu akan sedih jika ia menanyakan perihal suaminya.


Berpuluh-puluh tahun Revan menahan rasa penasaran akan sosok ayah kandungnya, namun sang ibu selalu menghindar jika ia menanyakannya.


"Sudah bu, aku sudah kenyang" ujar Revan.


Reni pun tersenyum senang, kesehatan sang putra semakin membaik, karena jika kesehatan tetap stabil maka besok di perbolehkan pulang.


Revan melihat ponselnya bergetar di atas meja, lalu meraihnya.


Perlahan ia menggeliatkan tubuhnya, berbaring dua hari di ranjang rumah sakit sungguh sangat tersiksa, tidurnya pun tak lelap.


"Bu, bisakah sore ini kita pulang, tubuhku sudah sangat sehat" bujuk Revan.

__ADS_1


"Tidak nak, kata dokter baru besok kamu di bolehkan pulang, itupun setelah kondisimu stabil, ibu tidak mau kesehatanmu kembali memburuk, jika kau pulang sekarang."


"Tapi aku tak bisa tidur kalau masih di sini bu" rengeknya pada sang ibu.


Reni memaklumi apa yang putranya rasakan,.


"Baiklah, nanti ibu akan coba bicara dengan dokter" ujar Reni pasrah, ia akan lakukan apa pun untuk anaknya tercinta.


Revan menatap ponselnya lalu beralih pada sang ibu yang sedang fokus membaca majalah tentang wanita.


Tak semenit pun Reni meninggalkan putranya, panggilan dari Roy pun terpaksa Revan tolak.


"Bos, kenapa tidak di angkat?" tanya Roy lewat pesan singkat.


"Ada ibu di dekat ranjang."


"Ya usir dulu bos " kalimat enteng Roy membuat Revan membelalakan kedua matanya, bisa-bisanya sang asisten menyuruhnya untuk mengusir ibunya sendiri keluar ruangan.


"Lu mau di pecat hah???"


"He he maaf bos, lupa."


"Lupa apa?"


"Lupa kalau itu ibu kandung bos."


Revan mengumpat panjang pendek dalam hati, andai saat ini asistennya itu berada dekat dengannya, ingin rasa hatinya melempar Roy dari jendela rumah sakit sekarang juga.


Revan habis akal, ia hanya bisa menelan ludah kasar, ibu nya masih asik dengan majalah kesukannya, mana mungkin ia tanpa alasan mengusir sang ibu dari kamar.


"Ada apa Van, kau terlihat gelisah?" Reni menatap Revan yang tampak duduk tak tenang.


"Ah tidak bu, aku hanya merasa panas pantatku."


"Apa kau mau kita jalan-jalan di sekitar kamar?."


Revan menatap ibunya lalu mengangguk pasrah.


"Bos, gimana? Apa Nyonya sudah bisa anda usir?."


Semakin geram Revan membaca pesan dari asisten laknatnya itu.


"Belum, nggak bisa, sudah besok saja lu laporkan informasi yang sudah lu dapat kalau kita sudah pulang."


Revan akhirnya hanya bisa duduk dan menghela nafas panjang, entah informasi apa yang di dapat oleh asistennya itu hingga bersikeras ingin bicara langsung lewat telepon.


Sementara itu, Zara yang baru menyelesaikan makan siangnya berjalan ke kamar kecil.

__ADS_1


Hm wajahku sudah tak terlihat aneh lagi.


Zara menatap layar cermin di atas wastafel.


Setelah memoleskan bedak tipis dan lipstiknya ia pun kembali melangkah ke ruangannya.


Kini senyumnya penuh percaya diri.


"Non, ini dari Den Andra minuman buat non Zara" salah satu karyawan restoran yang tak lain adalah Wanto, menyodorkan nampan berisi sari buah untuk Zara.


"Oh terima kasih Bang.." Zara menggantungkan kalimatnya.


"Wanto, nama saya Wanto non."


"Oiya terima kasih bang Wanto."


Wanto tersenyum bahagia, baru kali ini ia bisa menikmati wajah cantik Zara begitu dekat bahkan tersenyum manis padanya.


Mungkin hari ini adalah hari keberuntungannya, karena bisa saling bertatap muka dan bertegur sapa dengan seorang model terkenal seperti Zara.


Seringai lebar terbit dari bibirnya, tanganya mengelus dada yang tiba-tiba berdebar keras, sambil berucap dalam hati agar jantungnya tetap bekerja dengan baik karena ia masif berfikir normal, meski inginnya begitu besar namun ia masih sadar diri, Andra bukanlah tandingannya.


"Kenapa lu To, senyam-senyum sendiri?" tanya Andra yang baru datang dari pintu masuk melihat tingkah aneh Wanto terusik.


"Ah tidak ada apa-apa den."


"Lalu kenapa muka lu terang benderang mirip lampu taman baru di ganti" ujar Andra yang ikut tersenyum tipis.


Wanto hanya bisa menggaruk kepalanya.


Kalau saja juragannya tahu ia sedang memikirkan siapa, sudah pasti bukan senyum yang Andra perlihatkan, golok naga geni yang mungkin akan ia tebaskan di leher Wanto.


"Ehm bos.."


"Heum naon."


Wanto menatap Andra dengan tatapan intimidasi.


"Heum kiyeu bos, abdi teh rek nanya, kunaon ari teh Zara panon na rada bareuh?."


Glek.


"Ehmm hmm, Lu nanya apa To gue nggak denger?" tanya Andra dengan wajah gugup, karena menyadari kesalahannya.


"Mangkanna ulah sok balagu, karak bisa sa kata ogeh sotoy maneh teh"


Wanto berucap kesal.

__ADS_1


Blegug sia.


Umpatnya, namun hanya ia ucapkan dalam hati.


__ADS_2