
Keduanya terdiam selama dalam perjalanan.
Zara yang masih bergelut dengan kekesalan yang masih tersisa di dadanya karena Andra.
Bagaimana mungkin ia masih bisa bersantai dan bercanda dengan sang mommynya, bahkan harapan semu Andra berikan hingga wanita itu berharap pasti pada kelanjutan hubungannya dengan putra kesayangan.
Demikian pun Andra, di penuhi dengan berbagai pertanyaan dalam otaknya.
Apa yang membuat gadis di sebelahnya begitu berkeras hati ingin berpisah dari mantannya yang ternyata adalah seorang CEO, cerita apa yang membuat mereka tak bisa bersatu, Andra membatin.
Zara memandang ke sekitar lobi sebelum pintu mobil di bukannya.
Andra yang menyadari wajah kepanikan Zara,segera turun dan membuka pintu samping agar gadis itu merasa tenang jika ia di dekatnya.
Keduanya melangkah memasuki lobi dan menuju lift, genggaman erat tangan Zara yang mengendur menandakan hatinya kini mulai tenang.
"Terima kasih kak, sudah mengantarkan aku sampai di sini"ucap Zara mengurai genggamannya.
Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ehm, naiklah" jawab Andra datar.
Basa-basi sekedar menawarkan ku agar mampir ke apartemennya pun tidak, nasib pacar setingan, batin Andra lirih.
Memang Andra tak bisa berharap lebih karena hubungannya adalah semu belaka.
Andra membalas lambaian tangan Zara sebelum panel lift menutup.
Dengan langkah pasti, Andra memasuki lift berikutnya.
"Kau sudah pulang Wi?"sapa Zara sesampainya di apartemen dan mendapati Dewi sudah berada di dalam.
"He eum"Dewi menjawab singkat.
"Nggak jadi lembur?"
Dewi menggeleng pelan," Closing nya udah selesai" sambungnya dengan wajah cemberut.
Bulan ini Dewi membutuhkan dana lebih untuk adiknya yang akan masuk ke sekolah menengah, jadi gajih yang ia dapat tanpa tambahan lemburan masih kurang baginya.
"Enak dong Wi, nggak cape?"Zara belum menyadari kegundahan sahabatnya itu.
Dewi hanya tersenyum masam.
__ADS_1
Enak kalau gue nggak punya adik banyak kayak elu Ra, adik-adik gue masih butuh bantuan gue biar mereka bisa meneruskan sekolah dengan tenang tanpa harus di tagih ibu wali kelasnya karena uang bayaran bulanan belum terbayar, ingin Dewi bercerita banyak namun sahabatnya itu sudah terlalu sering menolongnya, tak enak rasanya jika sekarang pun ia masih mengharap bantuan darinya.
Andai gue jadi orang terkenl dan di idolakan banyak orang, tentu gue punya banyak follower dan ada yang endorse ama gue, Dewi membatin lirih sambil memandang punggung Zara.
Dengan wajah segar setelah mandi, Zara keluar dari kamar.
"Hari ini nggak ada acara Wi?"tanya Zara dengan handuk kecil di tangan mengeringkan rambutnya.
Dewi menggeleng.
Semakin ke sini semakin banyak you tuber mau pun para influenser berdatangan, dengan penampilan dan gaya yang fresh serta memiliki segudang prestasi, tentu membuat persaingan semakin ketat.
Jika endorse an Zara menurun maka Dewi pun akan mendapat imbas juga, karena gajih nya sebagai manager, sekaligus asisten juga merangkap sebagai teman curhat akan berkurang.
Untuk kebutuhan kuliah jika hanya mengandalkan gajih dari kerja paruh waktu di sebuah restoran fastfood tentu saja Dewi tak akan sanggup.
Dari gajih yang Zara berikan itulah ia dapat menambah uang saku untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya maupun membantu meringankan biaya adik-adiknya sekolah.
Zara sudah begitu banyak membantunya, tak pantas jika sekarang pun Dewi masih harus meminta pertolongan padanya.
"Ra gue mau ke mini market di bawah, lu mau nitip nggak?"tanya Dewi.
"Ehm tolong beliin pasta gigi ya".
"Ocreh".
Pernah melihat gadis itu namun otaknya tak mau bekerja sama dan memberitahu di mana saat melihatnya.
Diego hanya menautkan alisnya sambil mengingat di mana ia pernah melihat sosok gadis itu.
Diego berjalan menuju ke sebuah mini market yang tak jauh dari gedung apartemen.
Drrt drrtt.
Diego mengambil ponsel yang berada di kantong celananya.
"Ishh" Diego mencibir kesal setelah membaca pesan lalu memasukan lagi ponselnya tanpa membalas pesan Juned.
Sementara di sebuah apartemen lantai sepuluh, Juned bersungut kesal karena pesannya tak satu pun di jawab Diego.
"Kenapa lu?"tanya Andra melihat wajah Juned tampak kesal.
"Tu bocah songongnya permanen, dari dulu nggak sembuh-sembuh" Diego menjawab sarkas.
__ADS_1
"Emang lu pesan apa an?".
"Gue cuma pesen bubur kacang ijo".
Andra mengerutkan kedua alisnya.
"Ya itu mah elu nya yang songong, mana ada bubur kacang ijo di mini market, ada- ada aja lu".
"Maksud gue bukan di minimarketnya, di tukang bubur yang ada di sebrangnya itu Ndra"Juned membela diri.
"Eh Ndra, gimana Zara? Bener nih dia nggak jadi lanjutin kasusnya?"Juned tiba-tiba teringat kejadian beberapa hari lalu.
Andra menggeleng dan mengedikan bahunya.
"Salut gue ama dia, masih memaafkan laki-laki yang hampir merenggut kehormatannya" ujar Juned dengan pandangan menerawang, lalu tiba-tiba beralih memandang tajam ke arah Andra.
"Eh bro, ngomong-ngomong lu gimana nyembuhin Zara, secara mantannya sudah memberinya obat setan itu pada minumannya" Andra memalingkan wajahnya ke arah jendela saat mendengar pertanyaan yang membuatnya mati kutu.
Tak mungkin ia mengatakan bahwa Zara di sembuhkan dengan metode ketrampilan tangan dan lidahnya.
Juned memandang Andra dengan intens.
"Bro, jangam bilang lu telah berbuat tak senonoh saat ia tak sadar" kalimat Juned sungguh bagai anak panah yang tepat mengarah ke ulu hatinya.
Wajah Andra yang kini terlihat pias makin gugup dan salah tingkah.
"Enak aja lu, gue nggak mungkin berbuat se bejat itu, nggak mungkin gue bercocok tanam di kebun yang belum sah menjadi hak milik gue" ujar Andra berusaha menutupi kegugupan hatinya.
Meski apa yang sudah ia lakukan pun tak beda jauh, adalah hasil dari bujukan setan di telinganya, meski tak sampai ia rusak mahktota gadis itu.
"Syukurlah, gue hanya nggak mau gadis itu rusak oleh pria yang tak bertanggung jawab" Juned berucap tenang sambil melirik ke Andra.
"Eh darimana lu tahu dia masih gadis?" kalimat frontal dari mulut Andra membuat Juned memandangnya tajam.
"Meski dia seorang model yang tentunya sudah terbiasa dengan gaya dari kalangan atas dan hingar bingar kehidupan malam, apa lagi dengan name tag yang sudah melekat yaitu sebagai playgirl, tapi hati kecil gue mengatakan jika dia adalah gadis baik-baik".
Kali ini Andra memandang Juned dengan tajam seakan ingin menembus apa yang ada dalam hati sahabatnya itu, namun Andra melihat kejujuran dari matanya.
Andra tersenyum masam, apa benar Zara masih bersegel, tanya Andra dalam hati.
Dari sekian mantan Zara, Irfan dan Revan yang masih tetap kekeuh pada pendirian mereka.
Keduanya menolak keputusan Zara, bahkan mereka dengan segala cara berusaha mempertahankan gadis itu.
__ADS_1
Bahkan Revan yang seorang CEO perusahaan besar pun masih mengejarnya terang-terangan.
Apa yang membuat kalian begitu memujannya, batin Andra lirih.