Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *35


__ADS_3

Wanita paruh baya itu melangkah meninggalkan Zara dan Andra dengan wajah kecewa, hubungan putranya yang ia kira akan kembali membaik kini tak ada lagi harapan untuk Revan, setelah di lihatnya gadis itu sudah bersama dengan lelaki lain.


Janda paruh baya yang masih terlihat cantik itu melangkah dengan rasa sesak di dadanya.


Begitu cepat mantan kekasih Revan berpaling darinya.


Maafkan ibu yang tak bisa membantumu nak.


Langkah wanita paruh baya itu kini tampak lesu, tak ada lagi harapan tersisa untuk sang putra.


Masih terngiang dengan jelas saat pemuda itu berkata bahwa mereka akan fitting gaun pengantin.


"Jeng Ren...tunggu." satu teriakan membuat wajahnya membalik ke arah asal suara.


Wanita itu menarik kedua sudut bibirnya.


Senyum kecil terbit saat matanya bertemu dengan sosok wanita yaitu Maharani sahabatnya sendiri.


Kedua wanita itu saling berpelukan erat.


"Ku kira tadi aku salah orang, namun ternyata ini beneran kamu jeng.."


Kedua wanita itu lalu cipika-cipiki gaya salam khas para sosialita, hidup berjuang tanpa pasangan membuat mereka seakan memiliki ikatan takdir yang sama.


Maharani melihat wajah sahabatnya itu terlihat murung, tak biasanya wajah yang selalu di hiasi senyum dan sapaan ramahnya kini tampak suram dan berkabut.


"Duduk dulu jeng, kita ngobrol dulu, jeng Ren tidak sedang buru-buru kan?"


"Tidak jeng, kebetulan saya sedang santai menikmati hari."


Meski sudut bibirnya ter angkat naik, namun seakan sinar mata kesedihan tak dapat menutupi kegundahan hatinya.


Maharani menyuruh karyawannya untuk membawakan minuman untuk tamu nya.


"Bagaimana jeng Ran butikmu, sepertinya ramai?" tanya Reni.


"Hmm alhamdulillah jeng lumayan, sebenarnya saya sudah ingin istirahat, menikmati hari tua di rumah tanpa harus sibuk setiap hari pusing ngurusin butik dan restoran." Maharani menghela nafas panjang.


Andai saja putra satu-satunya mau terjun ke dunia bisnis meneruskan usaha yang di rintisnya dari nol, tentu Maharani akan sangat bahagia.


"Apa putramu tidak mau mengikuti jejakmu jeng?".


"Dia baru pulang dari xx, dan kurasa dia belum berpengalaman untuk langsung terjun meneruskan usaha ini jeng" sahut Maharani.


Memang meski mereka berteman akrab tapi baik Maharani maupun Reni belum mengenalkan putra mereka masing-masing.

__ADS_1


Drrt drrt.


Maharani seketika berbinar saat membaca pesan yang baru saja di sampaikan putranya.


"Sebentar lagi dia ke sini sama calon nya."pekik Maharani terlihat begitu bahagia, impiannya mempunyai menantu Zara akhirnya terkabul.


Sementara Reni hanya dapat tersenyum masam.


Berbeda dengan dirinya yang kini gagal untuk mempunyai seorang menantu idaman, sahabatnya kini justru sedang bergembira karena putra satu-satunya sudah mendapat sosok calon pendamping.


Maharani kini dengan sumringah melangkah ke dalam butik dan mengeluarkan gaun pengantin koleksinya.


Reni hanya dapat melihat pemandangan itu dengan denyum masam.


"Apa putramu akan segera melangsungkan pernikahan jeng?" tanya Reni.


"Entahlah, dia hanya bilang jika mereka akan menikah, ini aku lagi nyari gaun yang cocok untuk calon menantuku." Terang Maharani dengan penuh semangat.


"Oiya bukankah putramu juga sudah memiliki kekasih?"


Maharani jadi teringat saat sahabatnya itu dengan penuh semangat menceritakan jika putranya sudah memiliki kekasih dan ingin segera meneruskan ke jenjang pernikahan.


"Hmm, mereka sudah putus jeng, mungkin belum jodoh kali." sahut Reni lesu.


Maharani tertegun, hatinya menjadi sedikit bersalah, ia seakan tersenyum di atas penderitaan orang lain.


Maharani mengusap punggung sahabatnya dengan lembut.


"Sabarlah jeng, mungkin saja jodoh putramu bukan dia."


Maharani mencoba menghibur sahabatnya.


"Mom.."


Senyum mengembang sempurna dari bibir Maharani melihat kedatangan sang putra dengan tangan menggandeng Zara.


"Sudah datang kamu nak."


"Hmm" hanya gumaman dari Andra.


"Kenalin jeng, ini Joyandra putraku dan Zara, calon istrinya." Terang Maharani bangga.


Untung saja dari radius yang masih agak jauh, Andra melihat keberadaan ibunya Revan yang sedang berbicara dengan mommynya.


Hingga rencana darurat pun ia jalankan.

__ADS_1


Lalu mengetik pesan dan di kirimkan ke mommy nya.


Begitupun Zara yang tak berkutik saat sudut matanya menangkap sosok yang telah menghancurkan hidupnya.


Tangannya mengepal keras hingga buku tangannya pun memutih.


Andra yang menyadari situasi yang mencekam segera menggenggam tangan Zara dengan erat.


"Kita jalankan rencana selanjutnya, apa kau siap?" bisik Andra di samping telinga Zara yang masih diam mematung.


Zara pun mengangguk pasti.


Apapun akan ia lakukan agar terlepas dari mereka, pikir Zara.


Zara mencium tangan mommy Maharani lalu memeluk wanita paruh baya itu dengan hangat seakan mereka telah sangat akrab.


Andra melirik dengan menarik sudut bibirnya.


Kau memang pemain sandiwara yang handal.


Reni hanya menatap tajam ke arah Andra dan Zara tanpa berkedip.


Jadi pria yang telah merebut Zara dari sisi Revan adalah putra dari Maharani sahabatnya sendiri, batin Reni.


Reni menelisik Andra dengan intens.


Apa kelebihannya dari pada putraku , hingga membuat gadis itu berpaling dengan mudah.


Zara hanya diam tanpa menolak saat Maharani dengan antusias mengajaknya memilih gaun pengantin rancangannya.


"Momm.." Panggil Andra.


"Heuum."


Maharani hanya melirik sang putra sekilas lalu kembali asik memilih gaun pengantin dengan Zara.


Maafkan aku mom, andai kau tahu bahwa semua ini palsu.


Zara pun memainkan peran dengan baik, bibirnya selalu tersenyum, dan rona wajahnya terlihat begitu bahagia saat Maharani menyuruhnya untuk mencoba gaunnya.


"Aduh maaf ya jeng, saking bahagia saya jadi lupa, ninggalin jeng Ren di sini."


"Nggak apa-apa jeng, ehm saya mau pamit saja jeng, kebetulan masih ada urusan lain." elak Reni.


Kedua wanita itupun saling berpelukan erat sebelum berpisah.

__ADS_1


Reni melangkah dengan lesu.


Maafkan ibu nak, dia memang bukan jodohmu.


__ADS_2