
Entah kenapa Andra tiba-tiba merasa hatinya panas dan dadanya sesak.
Melihat Zara di tengah kedua sahabatnya saja sudah membuat rasa cemburu yang membabi buta.
Benarkah ini yang namanya cemburu? Sedangkan di antara mereka tak ada ikatan apapun, Andra membatin.
Dan dengan terpaksa ia pun harus mengikuti suara terbanyak untuk memanggil Revan ikut berkumpul dan memberikan kesaksiannya sebagai mantan bos Anto.
Rasa dongkol di hatinya semakin menjadi.
Wajah Juned tersenyum bahagia lahir dan batin saat melihat asap bagai keluar dari ubun-ubun kepala Andra.
Tatapannya lekat ke arah sosok bertubuh tegap yang sedang berjalan memasuki bangunan bengkel.
Juned tersenyum ramah menyambut kedatangan pria yang merupakan mantan Zara.
Begitupun Diego yang juga menyalaminya dengan hangat.
Namun berbeda dengan kedua sahabatnya, muka Andra terlihat muram, seakan ada kekuatan hitam yang menyelimutinya.
Zara menyambut uluran tangan Revan dengan tatapan datar.
"Terima kasih bro, sudah menyempatkan waktu sibuk lu buat datang ke sini."
Juned membuka pembicaraan.
"It's okay, ada asisten gue yang bisa handle" jawab Revan ramah.
"Duduklah, aku ambilkan minum" kali ini Diego yang bicara.
Revan mengangguk ringan dan sesekali melirik ke arah Zara tanpa sekalipun memandamg Andra, seakan Andra adalah mahluk tak kasat mata di hadapannya.
Puihh awas aja kalau lu main-main sama gue.
Mata tajam Andra melirik Revan dingin.
__ADS_1
"Ehm silahkan di minum bro, maaf hanya ada minuman ini" jelas Diego.
"Sipp."
Revan pun mendengarkan penuturan Juned dengan seksama, sesekali Diego menimpali.
Sementara Andra masih diam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Juned melirik dengan senyum gemas ke arah sahabatnya yang kini mungkin sedang jadi cosplay batu, diam tak bergeming.
Zara pun hanya sesekali mengangguk menimpali pembicaraan ke tiga pria di hadapannya.
Tak ingin mengingat kembali luka hatinya, Zara berusaha untuk tak bersitatap dengan Revan.
Ada rasa perih yang Revan rasakan saat gadis yang masih amat di cintainya itu berusaha menghindarinya.
Kenapa kau begitu membenciku Ra, bahkan untuk sekedar melihatku pun kau tak sudi.
Juned menaruh bukti rekaman di atas meja.
"Lu udah tahu semua kejadian di balik perampokan di bengkel elu, bukti dan saksi semua sudah ada di tangan elu, gue serahin semua ke elu, serah lu mau apain tuh si br****** Anto, kalau lu mau kandangin di jeruji besi, hayo gue dampingi jadi saksi elu, tapi kalau lu masih bilang nggak tega, ya...kita sebagai sahabat mau bilang apa" ujar Juned panjang kali lebar.
Revan memandang Diego yang masih tampak ragu.
"Oiya, ini ada beberapa poto yang mungkin bisa di jadikan sebagai bahan pertimbangan elu" Revan menyodorkan beberapa lembar poto saat Anto sedang menikmati hasil aksinya.
Setelah kejadian Zara dan Andra menemuinya, Revan pun mencari beberapa foto terdahulu yang memperlihatkan Anto sedang berada di sebuah club malam dengan teman-temannya.
Diego memeriksa lembaran foto bergambar aktifitas Anto yang biasa di lakukannya jika sedang bersenang- senang dengan sahabat dan para wanita malam.
Giginya terkatup rapat dengan rahang mengembung.
Hatinya merasa dongkol tak terkira, dengan wajah lugu dan polos Anto rupanya sudah membuatnya terperdaya.
Masih ingat kala Anto mendatanginya dengan wajah memelas untuk meminta pekerjaan untuk menghidupi keluarganya dengan cerita palsu yang menyentuh hati, dan Diego pun akhirnya luluh.
__ADS_1
Ternyata Semua penderitaan yang di alaminya hanyalah karangan ceritanya saja.
"Baiklah akan gue pertimbangkan hal ini." ujar Diego bijak, karena ia pun tak mau ambil keputusan tanpa memikirkanya terlebih dahulu.
Juned menahan tangan Andra yang sudah mengepal keras, ia tahu sahabat satunya ini sedang di kuasai emosi, dan menurutnya bukan hanya pada Diego semua emosinya itu bermuasal.
Jika melihat gelagat sikapnya, Andra sedang di rasuki perasaan cemburu, Juned begitu mengenal sahabatnya sudah lama, jadi kemungkinan besar Revan lah tokoh utama yang membuat rasa cemburu itu bercokol di hatinya.
Di akui oleh Juned bahwa sosok Revan merupakan sosok idaman sempurna bagi para wanita.
Wajah tampan bak dewa yunani, dengan tubuh tegap berhias senyuman yang selalu menghiasi bibir nya sudah menjadi modal utama untuk mendapat perhatian dari para kaum hawa.
Apalagi dengan kedudukan sebagai seorang CEO, maka di pastikan tak ada rival yang dapat mengalahkannya untuk mendapatkan hati seorang wanita.
"Terserah elu Go, lu pikirin baik-baik, apakah jika dengan melepasnya kau telah menolongnya , karena ternyata selama ini kau telah di bohongi oleh Anto, uang hasil keringatnya bukan untuk keluarga tapi untuk hura-hura."
Diego mengangguk paham.
"Aku akan memikirkannya dengan baik."
"Baiklah gue cabut dulu, masih bayak urusan lain" ujar Juned lalu meninggalkan ruangan.
"Aku pamit juga kak" Zara pun mengikuti Juned.
Kini tinggal Andra dan Revan yang tak sadar keduanya tengah saling menatap dengan tajam.
Ck napa ni orang lihat gue, belom pernah ngerasaain di culek nih.
Andra pun berjalan mengikuti Zara tanpa berpamitan pada Diego, sedangkan Revan dengan rasa penasaran yang masih bercokol di dada pun mengikuti keduanya setelah terlebih dahulu berpamitan pada pemilik bengkel.
Kedua mata Andra tampak merah, dari kaca spion, ia dapat melihat Revan yang terus mengikuti laju mobil Zara.
Tak ingin keduanya kembali bertemu, Andra pun dengan ke ahliannya menguasai jalanan menghalangi Revan agar jarak mereka semakin menjauh dari Zara, bahkan sampai Revan tak bisa lagi menyusul laju mobil Zara karena terhalang mobilnya yang ia kemudikan dengan jalur zig zag.
💦💦💦💦💦💦
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, koment, dan vote ya😘😘😘😘
Happy new year 2023, semoga kita semua di beri kesehatan dan di lancarkan urusannya aamiin 🤗🤗🤗😍😍😍😍