Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*91


__ADS_3

Zara memandang kepergian mobil Andra hingga menghilang di ujung jalan.


"Ayo cepet udah ngantuk Gue" ucap Dewi sambil menarik tangan Zara.


Untung saja Dewi sudah mempersiapkan semuanya dengan rinci, hingga tak membutuhkan waktu lama untuk Zara menyelesaikan tugasnya.


Pukul satu dini hari, baru mereka selesai membuat rekaman vidio.


Dewi yang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam mengedit vidio pun tak merasa kesulitan.


Sedangakan Zara sudah merasa sepat kedua matanya, ia ingin segera merebahkan tubuh di kasurnya, namun dewi masih mengedit rekaman dan membutuhkan masukan darinya.


Zara duduk di sofa panjang saat sesekali Dewi memanggilnya untuk melihat hasil editannya.


"Oke Ra, akhirnya selesai sudah, lu boleh tidur sekarang"ucap Dewi.


Hanya helaan nafas panjang dari Dewi saat ternyata Zara sudah terlelap di atas sofa.


"Ra,pindah ke kamar Ra?" bisik Dewi sambil menggoyangkan tubuh Zara.


"Heum" Zara yang merasa begitu kantuk berjalan dengan mata terpejam, bahkan langkahnya terhuyun.


Pukul lima pagi seperti biasa, Dewi bangun dan mulai memasak untuk sarapan juga bekalnya.


Meski waktu sudah cukup siang namun belum juga Zara keluar dari kamar.


Tok tok tok.


"Ra, apa kau belum bangun? Sudah siang."


"Iya Wi, aku sudah bangun" terdengar nada suara berat Zara, jelas ia baru membuka matanya.


Drrt drrr drrt.


Zara meraih ponsel di atas meja rias di samping ranjangnya.


"Ra, aku sudah di lobi" kalimat Andra membuat Zara melonjak kaget, di lihatnya jam di dinding.


Secepat kilat ia berlari ke kamar mandi dan membersihkan diri secara cepat.


Semalam ia tidur pukul satu lebih, tak heran saat ini pun ia masih ada rasa yang mengganjal di kedua matanya.


"Makan dulu Ra" teriak Dewi dari dapur yang melihat Zara hendak pergi sebelum menikmati sarapannya.


"Ehm nanti saja Wi, Kak Andra sudah nunggu di lobi" ucap Zara panik.


"Tar gue bungkusin dulu lumpia beef ini biar lu bisa makan nanti di jalan" Dewi memang memiliki jiwa yang lembut dan penuh perhatian, bahkan ia sangat memperhatikan kebutuhan penting Zara, setiap pagi, sarapan selalu ia sediakan untuk sahabatnya itu.


"Makasih Wi, kau yang terbaik muaacchh" ucap Zara sambil memonyongkan bibir ke Dewi.


"Puihh, ogah ******* ama Elu, masih normal gue" hardik Dewi kesal.


Zara hanya tertawa sambil keluar dari kamar.


Andra melambai saat Zara keluar dari lift.


"Maaf,lama nunggu ya," sesal Zara.

__ADS_1


"Hmm, it's okay, apa si yang nggak buat kamu babe" Andra mengacak rambut Zara gemas, mungkin karena tergesa-gesa, pagi ini Zara lupa memakai topinya.


Zara tersenyum gemas, pria tampan yang selalu setia di sisinya kapanpun ia membutuhkannya, ia yang begitu tulus menyayangi dan mencintainya.


Andra mengancingkan seat belt ke pinggang Zara, gerakan lambat membuat sekilas wajah mereka akan bersentuhan, debar jantung Zara tiba-tiba berdetak kencang, waktu seakan berhenti berputar, hanya debaran jantungnya yang cepat.


"Kenapa Ra" tanya Andra yang menyadari bahwa tatapan mata Zara tampak kosong.


"Ra, sttt" Andra mengguncang bahu gadis itu.


"Ah hmm apa Kak?" tanya Zara tergagap.


"Kamu kenapa pagi-pagi melamun hum?" netra Andra lekat ke wajah Zara yang merona merah.


"Hah, mungkin karena aku belum sarapan Kak, jadi nggak fokus he hee" ujar Zara polos.


"Jadi kamu belum sarapan?" tanya balik Andra.


"B belum tapi, aku bawa bekal kok, Dewi buatin aku ini."


"Apa itu" tanya Andra tanpa mengalihkan pandangannya dari arah laju mobil.


Terdengar suara Zara mengunyah makanan, Andra memalingkan wajahnya.


"Aku mau" pinta Andra santai.


"T tapi cuma bawa satu.." jawab Zara polos.


"Pelit amat, memang kenapa kalau aku minta yang ini."


"Heum enak, lagi a aa."


Zara pun menyodorkan lumpia beef ke mulut Adra yang terbuka, siap menunggu suapan dari nya.


Mobil pun sampai di restoran dan Andra memarkirkan di area belakang resto.


"Tunggu" ucap Andra tiba-tiba saat Zara hendak turun setelah seatbelt terlepas.


"Apa" tanyanya.


Perlahan Andra memajukan wajahnya, jarak keduanya kini hanya tinggal beberapa centi.


Zara menggeser wajahnya karena tak ada tempat lagi jika ia memundurkan kepalanya.


Andra tersenyum gemas lalu mengusap bibir Zara dengan jempol tangannya dengan gerakan lembut.


Rupanya lelehan saos menempel di bibir tipis gadis itu.


"Aku cuma mau membersihkan ini Ra, kamu mikir apa memangnya?."


"T tidak kok" Zara tak dapat menutupi kegugupan hatinya.


Sementara Andra dengan santai menjilat jempol yang ada sisa saos dari bibir Zara.


Wajah cantik Zara kini semakin berwarna merah, semakin terlihat menggemaskan di mata Andra.


Cupp.

__ADS_1


Kecupan ringan Andra daratkan di bibir lembut Zara.


Beberapa saat mata Zara mengerjap cepat, tak percaya dengan yang di lakukan pria di dekatnya.


Netra keduanya saling menatap, Zara dengan tatapan tak percaya, sementara Andra menatap dengan penuh kasih.


Zara menutup mulut dengan kedua tangannya, sungguh andai saat ini ia menguasai ilmu halimun, ingin rasanya ia menghilang secepatnya.


Andra mengacak rambut Zara gemas.


Kenapa ada seorang gadis dewasa se imut ini, ah lembut bibirnya, ingin sekali aku merasakannnya setiap saat, lembut dan hangat, batin Andra terus berucap penuh girang.


Meski Zara sudah berumur duapuluh dua namun tingkah laku nya mirip seorang ABG yang pertama kali mendapat ciuman di bibir.


Hah, apakah benar ciuman ini adalah ciuman pertamanya, pikir Andra dengan membulatkan matanya, ia menggarukan kepalanya, ada rasa sesal kini menggelayuti dadanya.


Ia mengambil ciuman pertama seorang gadis dengan tanpa perasaan, bahkan tak ada keromantisan sama sekali.


"Maaf" ucap Andra pelan sambil menatap Zara.


"K kenapa" tanya Zara bingung.


"Karena telah merampas ciuman pertamamu" jelas Andra.


Bagai kepiting rebus kini wajah Zara.


Ia menggelengkan kepalanya cepat.


Kini Andra yang di landa rasa bingung, kenapa Zara menggelengkan kepala padanya.


"T tidak, siapa bilang ini ciuman pertamaku" terang Zara.


Dada Andra tiba-tiba berdenyut nyeri, siapakah perampas ciuman pertama Zara, apakah pria itu Revan.


Tangan Andra mengepal kencang, buku-buku jarinya pun memutih.


Ah kenapa sesakit ini mendengarnya, siapakah pria beruntung itu, batin Andra lirih.


Zara membalikan tubuhnya saat di rasa Andra tak juga keluar dari mobil.


"Kak, ayo buruan" teriakan Zara membuyarkan lamunannya.


"Iya, duluan aja Ra, aku ada perlu sama Wanto" jawab Andra bohong, ia ingin menenangkan hatinya dulu, mendamaikan dirinya agar bisa berdamai dengan rasa sakit di dadanya.


Terlihat sosok pria berjalan cepat arah Andra.


"Den, Den Joy ada perlu apa sama saya?" tanyanya polos.


"Hah??"


"Tadi Non Zara mengatakan kalau Den Joy mau mengatakan sesuatu yang penting sama saya" terangnya.


Andra hanya bisa menelan saliva kasar.


"Nggak jadi To" sahut Andra kesal, lalu pergi meninggalkan Wanto.


"Kok marah" ucap Wanto lirih sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


__ADS_2