Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*142


__ADS_3

Andra tersenyum puas, dari balik helm fullface miliknya senyum tak henti terbit dari bibir nya.


Meski hanya sebentar menikmati kebersamaan dengan sang kekasih, sudah membuat suasana hatinya berbunga-bunga.


Andra kini sangat senang meski dengan susah payah dan bibir kaku akhirnya Zara mau memanggilnya dengan panggilan 'Babe'.


Sungguh menggemaskan, wajah cantiknya berubah merah merona saat pertama kali ia menyematkan kata'babe' padanya.


Di hempaskan tubuh penatnya di ranjang besar miliknya lalu melihat ponsel yang ternyata Zara tidak On.


Menghabiskan waktu bersama Zara seakan tak akan pernah puas, apalagi besok sang kekasih akan pergi meninggalkannya, tak berjumpa dua hari, Andra serasa kehilangan penyemangat hidup.


Weekend pagi biasanya Andra bangun untuk work out lari di sekitar gedung apartemen, kali ini ia ingin menghabiskan harinya di dalam kamar dan memandang poto sang kekasih sepuasnya.


Sementara pemilik wajah kini sedang tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Begitu turun dari pesawat komersil, keduanya langsung menuju ke area parkir, di mana sudah menunggu seorang sopir dengan mobil sedan hitam yang sudah terparkir beberapa menit yang lalu.


Keduanya melngkah riang mengikuti sang sopir sebut saja Pak Den, karena pria paruh baya tersebut memperkenalkan diri dengan nama, Dendy.


"Selamat datang Non Zara dan Non Dewi, kita akan langsung menuju vila untuk istirahat" ujar Pak Den ramah setelah terlebih dulu menyalami keduanya.


"Apa jauh dari bandara ini Pak?" tanya Dewi.


"Kurang lebih tiga puluh menit dari sini Non."


Alhirnya mobil pun menepi di sebuah vila yang sudah mereka persiapkan.


Jika terlihat dari luar vila tersebut tampak sederhana.


Namun mereka terkecoh dengan pemandangan di dalamnya, perabotan bergaya simple modern memenuhi ruangan.


Decakan kekaguman tampak dari keduanya, bahkan makanan camilan dan berbagai buah-buahan segar tersedia di dalam kulkas.


"Silahkan Nona berdua istirahat, sore nanti kita akan mulai pengambilan gambar, dan pihak kami nanti akan menjemput pukul empat sore" jelas Pak Den ramah.


"Pak, apa kami boleh makan yang ada di dalam kulkas" tanya Dewi polos.


"Tentu saja, semua yang ada di vila ini semua boleh kalian nikmati, dan untuk makan akan kami antar sebentar lagi" sambung Pak Den.


Zara dan Dewi saling pandang dan tersenyum senang.


"Saya pamit Non, kalau ada keperluan silahkan anda menghubungi nomor yang ada di kartu nama ini" Pak Den menyodorkan satu kartu nama yang bukan miliknya.


"Itu nomor pengurus vila Non, beliau yang bertugas mengurusi semua keperluan kalian selama bekerja sama dengan kami."

__ADS_1


Sepeninggal Pak Den, Dewi langsung berlari menuju kulkas di sudut ruangan dan mulutnya membulat sempurna dengan matanya bersinar terang.


Berbagai makanan kesukaannya berjejer rapi di dalam kulkas bahkan bermacam soft drink pun ikut memenuhi pendingin yang berukuran cukup besar itu.


"Wahh Ra...aku mau lama tinggal di sini, aku mau habisin semuanya.." pekiknya girang.


"Ish norak Lu, kayak nggak pernah lihat makanan aja" cibir Zara.


Dengan cuek Dewi membawa beberapa snack lalu duduk menyaksikan siaran televisi, rasa lelahnya seakan hilang seketika.


Sementara Pak Den dengan suara lirih mengangkat panggilan dari nomor yang di seganinya.


"Bagaimana Den apa mereka senang dengan layanan kita?" tanya suara berat di ujung telepon.


"Tentu saja Tuan, mereka terlihat sangat senang dengan pelayanan yang kita sediakan bahkan mereka langsung menikmati apa yang kita sediakan" jawab Den.


"Bagus, terus pantau mereka dan berikan pelayanan terbaik" ucap pemilik suara berat lalu menutup telelon.


Den hanya terdiam, siapakah kedua gadis itu hingga membuat seorang Tuan Awan turun tangan sendiri, batinnya.


Tok tok tok.


Ceklek.


Dewi tertegun di depan pintu, dua orang pelayan membawa troli makanan dengan bermacam hidangan lezat.


"Nggak Wi" sahutnya.


"Kami tidak pesan makanan mbak."


Dewi hendak menutup kembali pintu karena berpikiran mereka telah salah pintu.


"Tidak Non, kami memang di perintahkan untuk mengantar semua makanan ini untuk anda berdua" ucap salah satu pelayan.


"T tapi kenapa begini banyak."


"Kami hanya menjalankan perintan Non."


Dewi dan Zara hanya bisa diam menurut saja saat kedua pelayan itu memindahkan hidangan ke atas meja.


"Silahkan di nikmati hidangannya Non, kalau ada kekurangan silahkan hubungi kami."


Zara dan Dewi pun mengangguk masih dengan wajah tak percaya.


"Waahh daebak, kita bagai seorang putri raja saja Ra" decak Dewi.

__ADS_1


"Ah sudahlah jangan mikir macam-macam, ayo kita makan" sahut Zara.


Zara pun mulai memakan hidangan lezat nan menggugah selera itu dengan lahap, demikian pula Dewi, meski setengah perutnya sudah terisi banyak camilan tapi sayang baginya membiarakan makanan lezat itu mubazir di meja makan.


"Uhukk uhukk" batuk Zara membuat Dewi menoleh ke arahnya.


"Kenapa Ra?" tanyanya panik.


Zara menggeleng sambil menutup mulutnya.


Senyum lebar terbit saat pesan Andra ia buka.


"Ini potoku , aku yak ingin kau susah tidur karena merindukanku" kalimat narsis Andra membuat Zara terkekeh.


Tampan tapi narsis, Zara menatap wajah tampan Andra dengan intens.


Jika aku rindu, aku masih bisa memandang potomu, tapi bagaimana jika aku merindukannya, sedangkan tak satu pun poto wajahnya yang kumiliki, batin Zara lirih saat mengingat ia tak memiliki satupun poto Ayahnya.


Entah seperti apa sekarang wajahnya, sudah ber uban kah rambutnya, ada keriputkah di wajahnya, bahkan apa jumlah giginya belum berkurang.


Zara merasa dadanya berdenyut nyeri, apa kabar Ayah sekarang, apakah sehat, apa dia juga merindukannya, putri satu-satunya yang telah ia tinggalkan.


"Ra, Elu kenapa?" tanya Dewi, tatapan Zara menerawang kosong ke depan sedangkan nasi masih banyak tersisa di piringnya.


"Ra..." panggil Dewi dengan nada tinggi.


"Hah eh ..a anu Wi, tadi Kak Andra kirim poto selfi nya, cakep" sahut Zara spontan.


Dewi mengerutkan alisnya, tak biasanya Zara mengagumi seorang lelaki terang-terangan, gengsinya terlalu tinggi bahkan untuk sekedar berucap kata romantis pun.


Jika Dewi dan Zara tengah asik menghabiskan hidangan lezatnya, berbeda dengan Andra yang kini menatap layar ponselnya dengan tajam.


Re dan Mi berhasil mengabadikan seorang yang mencurigakan tengah duduk bersimpuh di samping makam ibu Zara.


Andra memang sudah memerintahkan ke tiga anak buahnya untuk selalu memantau tempat yang di duga akan muncul sosok Tuan Gunawan.


Namun sosok pria bertubuh tegap itu terlihat seperti orang biasa pada umumnya, tanpa masker di wajah dan baju pun seperti orang kebanyakan.


Foto yang di ambil Re berjarak cukup jauh hingga fokusnya tak terlalu jelas.


Hanya tubuh tegap dan jangkung.


Andra mengamati dengan cermat gambar pria tersebut, jika memang benar itu adalah Gunawan maka dugaannya benar, selama ini pria itu sering mendatangi makam mendiang istrinya, bahkan pria itu akan duduk lama bersimpuh di makam tersebut.


Jika biasanya lelaki itu datang saat malam menjelang, namun entah kenapa kali ini ia membiarkan wajahnya terbuka tanpa masker bahkan tanpa pengawalan ketat seperti biasa.

__ADS_1


Ayah mertua, tunggulah sebentar lagi, kau akan kembali berkumpul dengan putrimu tercinta.


__ADS_2