Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*188


__ADS_3

Andra melangkah dengan wajah layu memasuki mansion.


Ia bukanlah seorang lelaki yang nggak punya hati, me masukan se seorang ke bui saat dalam ke adaan hamil, apa lagi mereka pernah bersahabat baik.


Apalagi wajah bahagia Sandy yang tampak jelas sangat mengharapkan ke hadiran sang jabang bayi tersebut.


Andra tak ingin mengecewakan kedua sahabatnya sekaligus, namun ia pun masih sangat kesal dengan apa yang telah Fitri perbuat pada Zara.


"Babe, kau sudah pulang?" sambut Zara dengan bahagia lalu memeluk pinggangnya mesra.


"Heum setelah urusan selesai aku langsung pulang, aku tak bisa sehari saja tak melihatmu sayang muacchh..."


Andra mencium puncak kepala sang istri dengan lembut.


"Apa kau lapar Babe?" tanya Zara sambil mengelus perut kotak suaminya.


"Heum aku sangat lapar sayang, tapi aku mandi dulu, mau kah kau temani suamimu ini ?" tanya Andra dengan mengedikan kedua alisnya.


Keduanya menuju kamar dengan semangat, sehari saja tak bertemu bagai setahun rasa rindu yang mereka rasakan.


Dan kerinduan pun mereka lepaskan di atas ranjang nyaman mereka.


Andra mengecup lembut kening sang istri, tubuh polos mereka tampak lembab oleh keringat yang membasahi keduanya setelah kegiatan panas beberapa saat yang lalu.


Di tatapnya perut datar sang istri, perlahan Andra mengusapnya dengan lembut.


Ia masih takut ber andai jika suatu saat nanti ada kehidupan suci dalam perut Zara, harapan yang kini datang tiba-tiba, jika ia mencintai Zara tanpa syarat, lalu mengharap kehadiran mahluk kecil buah hati dalam kebersamaan mereka apa kah tak akan membuat Andra terlalu serakah.


Ada rasa iri di hati Andra, Sandi dan Fitri belum terikat dalam satu ikatan sah tapi mereka justru mendapat anugrah terindah lebih dulu darinya.


Apakah Andra pantas untuk meminta lebih pada Yang Maha Kuasa, untuk memberinya sebuah kepercayaan.


Zara mengerutkan perutnya saat tangan Andra terus mengusapnya dengan lembut.


"Babe geli.." rengeknya.


Namun tangan Andra masih betah di pusar Zara, dan menolak saat sang istri berusaha mengurai tangannya agar menghentikan usapan tangannya.


"Biarkan dulu seperti ini sebentar" bisik Andra lirih.


Bahkan kini Andra menempelkan hidungnya dan mengecup lembut perut datar Zara.


Berharap titik kehidupan segera datang di dalam sana.


Kruuukk kruuukk.


Andra menjauhkan wajahnya dan menatap sang istri yang tersenyum polos.


"Kau lapar sayang?"

__ADS_1


Zara mengangguk jujur.


"Ayo kita mandi dulu, baru sarapan" Andra pun terpaksa me nyudahi angan indahnya.


Maharani yang sudah berada di ruang makan tampak terkejut, putranya muncul dari kamarnya dengan rambut basah habis keramas.


"Sejak kapan kau pulang Joy, Mommy tak tahu kalau kau sudah ada di sini."


"Aku baru pulang tadi mom, maaf "Andra mencium tangan sang mommy, jika biasanya ia datang dari mana pun orang pertama yang di carinya adalah Maharani, tapi sekarang tujuan utamanya untuk pulang adalah Zara istrinya.


"Syukurlah kau cepat pulang, istrimu sangat susah kalau di ajak makan."


Maharani merasa cemas karena menantunya selalu terlihat murung dan tak bersemangat jika Andra tak ada di rumah.


Tapi kini wajahnya kebali berseri dan makan pun tampak lahap.


Andra menatap sang istri yang fokus dengan makanannya, terlihat biasa saja, bahkan makannya pun begitu lahap.


"Kau sakit sayang?"


"Tidak,aku sangat sehat, lihatlah aku makan bahkan nambah."


Maharani dan Andra saling pandang,tak biasanya Zara begitu lahap me makan makanannya.


Andra tersenyum tipis, mungkin karena efek olah raga panas tadi, pikirnya.


"Joy mommy berangkat dulu, jaga Zara jangan tinggalin dia, mungkin dengan ada nya kamu di sisi nya ia menjadi bahagia dan selera makannya bertambah, mommy senang sekarang dia mau makan banyak" bisik Maharani sesaat sebelum pergi.


Andra hanya mengangguk dengan senyum tipis.


"Babe sini, aku mau tanya bagaimana hasil perkembangan kasus kado kemarin?."


Andra menelan ludah kasar, ia tak mungkin berbohong pada istrinya, dan memang semuanya cepat atau lambat, Zara harus tahu, karena dia lah sasaran yang mendapat perlakuan kejam dari Fitri selama ini.


"Sayang, mungkin kau akan terkejut jika mendengar ceritaku."


"Terkejut bagaimana maksudmu Babe?"


"Pelaku yang telah mengirimkan kado bangkai tersebut adalah ...."


"Adalah siapa Babe?"


"F fitri ...."


Glek.


Untuk beberapa detik Zara tertegun, dada nya berdenyut nyeri, apakah yang membuat gadis itu begitu membencinya.


"Sayang...kau kenapa?"

__ADS_1


"Ahm eh ..apa kau sudah dapat bukti bahwa Fitri yang telah tega melakukannya Babe?"


Andra mengangguk pasti.


"Semua rekaman, bukti dan saksi dari orang suruhan yang mengirimkan kado, memang benar Fitri lah otak dari semuanya, dan semua sudah kita dapatkan, kita bisa melaporkan Fitri kapan saja, dan aku yakin ia bisa mendekam lama dalam penjara.


Zara tampak tertegun.


"Apa tidak ada hukuman lain selain penjara babe?" tanya nya polos.


"Tidak Sayang, hanya jeruji besi lah yang akan membuat dia jera, dia sangat licik, aku tak akan bisa tenang kalau Fitri masih ada di sekitar kita" terang Andra.


"Lalu di mana dia sekarang?"


"D dia ....dia sesang sakit, dan harus di rawat karena..."


"Hah Fitri sakit ...kenapa Babe?"


"Dia harus istirahat karena janin dalam perutnya masih lemah."


Mata Zara membulat, yang ia tahu Fitri belum menikah dan Fitri belum menikah, lalu siapa pria Ayah dari jabang bayi yang di kandungnya.


"Sandy adalah Ayah dari janin dalam kandungannya, kami bertiga adalah sahabat dekat saat dulu tinggal di K, Sandy sudah lama menaruh hati pada Fitri, tapi...."


"Tapi Fitri ternyata mencintaimu..." sela Zara, membuat Andra menatap sang istri intens.


"Dia sangat mencintaimu, andai tak ada aku, mungkin kalian saat ini telah bersatu..." Zara berucap lirih, ada rasa sesal di hatinya karena telah merusak hubungan orang lain.


"Jangan pernah ber asumsi macam-macam, sejak pertama aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa, jadi tak usah berfikir merasa berdosa telah merusah hubungan yang tak pernah ada" Andra meraih jemari sang istri dan menciumnya lembut.


"Kau lah anugerah ter indah yang Tuhan beri untukku jangan pernah berfikir di hatiku ada yang lain, besok Mereka akan pulang dari Bali, Fitri pun sudah menyerahkan semua padamu, ia akan terima apa pun tuntutanmu nanti."


Zara termenung, apakah ia akan menjadi wanita yang kejam yang tega memasukan seorang wanita ke bui saat wanita itu berbadan dua.


"Sayang kenapa kau diam?"


"Entahlah, mungkin kita harus berfikir lagi untuk membawa masalah ini ke ranah hukum, aku juga wanita ..tak akan se tega itu memasukan seorang wanita yang sedang berbadan dua ke penjara."


Suasana menjadi hening, Andra pun tak bisa gegabah dengan keputusan yang akan di ambil, mengingat begitu banyak akal yang di pakai Fitri untuk mencobba membuat istrinya kehilangan kehormatannya.


Tanpa di sadarinya Andra mengepalkan tangannya tak rela jika Fitri bisa bebas se gampang itu.


"Babe, sabarlah ...tenangkan hatimu, biarlah nanti alam yang akan menghukumnya, kita tinggal duduk diam, karma tak akan pernah salah alamat" ujar Zara dengan senyum tipis.


"Jadi kau akan melepaskan Fitri begitu saja?" tanya Andra tak percaya.


Zara mengangguk pasti.


"Aku juga seorang wanita yang suatu saat nanti akan menjadi seorang ibu."

__ADS_1


__ADS_2