
Karena lelah, Zara pun tertidur setelah membersihkan tubuhnya, menjaga butik terkenal yang banyak di datangi pengunjung cukup menguras tenaga, hingga tubuh Zara terasa penat.
Andra yang mengetahui jika gadisnya merasa lelah terpaksa mengurungkan niat untuk mengajaknya jalan, mungkin lain kali jika mereka memiliki waktu luang, pikirnya.
Pukul lima pagi Zara menggeliatkan tubuhnya, bunyi alarm membuatnya terjaga.
Ceklek.
"Hah Dewii, kapan lu pulang?"
"Hm tadi malam, lu udah tidur."
Zara yang masih dengan muka bantal memeluk sahabatnya dari arah belakang.
"Aku kangeeen." Zara berucap manja dengan memeluk Dewi erat.
"Ish geli tau, lagian lebay lu baru dua hari gue tinggal, mandi gih, bau"
"Wi, nggak ada lu sepiiii banget Wi, aku bagai hidup sebatang kara di dunia ini, bahkan aku hampir mati kelaparan karena nggak ada yang masak wi hiks." Zara berucap penuh diplomatis.
Dewi mencibir kesal, "sok puitis lu, makannya belajar masak markonaaah , inget elu tuh perempuan harusnya bisa masak agar laki lu nantinya tuh betah di rumah, lu ingat kan kata pepatah, cinta datang karena perut yang kenyang.."
"Ish pepatah mulung di mana lu" protes Zara.
"Lu kalau di bilangin ya...udah, mulai besok lu harus belajar masak sama gue."
Dewi berucap tegas tanpa penolakan.
"Ah nggak bisa Wi,besok gue harus kerja."
"Halaaahhh alesan aja lu markonah."
"Bener Wi"
"Kerja di mana lu, nguras laut, apa jadi polisi tidur."
"Gue mulai besok kerja di butik kak Andra Wi."
"Bokis lu"
Zara berlari mengambil ponsel di kamarnya.
"Nih lu tanya aja langsung sama ownernya, kak Andra."
Dewi menatap Zara intens.
"Beneran lu kerja?"
"He eum, udah ah gue mau mandi dulu."
Dengan semangat empat lima Zara merias dirinya di kamar setelah membersihkan tubuhnya, dengan make up tipis dan pewarna bibir merah muda, Dress sebatas lutut dengan potongan lengan panjang, jadi outfitnya di hari pertama kerja.
"Nyarap dulu Ra."
"Iya Wi terima kasih, oiya Wi kenapa lu pulang tiba-tiba, kan cuti lu masih beberapa hari lagi" tanya Zara sambil mengunyah sarapannya.
"Gue nggak jadi cuti panjang Ra, sayang kalau hari libur besok gue nggak lembur, kan lumayan, bisa buat nambah uang jajan adik gue."
__ADS_1
Zara memandang sahabatnya trenyuh.
"Oiya, gue kemarin belanja mainan buat adik-adik elu, eh ternyata lu udah pulang duluan, tadinya gue weekend besok mau nyusul ke kampung lu sama kak Andra, ya nggak jadi deh, lu udah balik duluan."
"Wah terima kasih Ra, udah repotin elu."
Zara menggelengkan kepalanya cepat.
"Enggak kok, ini dari kak Andra, katanya hadiah buat adik-adik elu, sayang kan, main ke kota se tahun sekali tapi nggak ada kenang-kenangan apapun."
Dewi memandang beberapa bungkusan plastik besar berisi mainan dan peralatan sekolah.
"Wah Ra, bangak banget, gimana gue harus berterima kasih sama dia."
"Ehm gimana kalau hari ini lu ikut gue ke butik, sekalian nemenin gue, lu masuk mulai besok kan?"
"Iya si Ra, tapi apa di bolehin sama kak Andra"
"Ah lu santai aja, kayak sama siapa aja."
"Hmm oke deh, gue siap-siap dulu deh" Dewi pun bergegas masuk ke dalam kamar untuk ganti baju.
Hatinya begitu girang, impiannya pergi ke butik Nyonya Maharani akhirnya akan terwujud, batinnya riang.
"Wi lu heboh bener, kita kan cuma ke butik yang di cabang Wi, bukan yang di pusat."
Zara takjub melihat dandanan Dewi yang cetar membahana, blazer hitam dengan daleman putih dengan rok span tujuh perdelapan, sungguh Dewi bak seorang wanita karir dengan dandanan tersebut.
"Gue kan harus tampil maksimal Ra, dengan wajah gue yang pas-pas an se tidaknya orang akan melihat penampikan gue, nggak kaya elu, wajah cantik dengan tubuh tinggi pakai baju apapun akan terlihat keren di mata orang."
"Serah lu deh, yuk kita berangkat."
Keduanya melangkah menuju parkiran, jantung Zara berdebar kencang hari pertama kerja sungguh membuatnya salah tingkah.
Dewi yang menyadari hal itu pun sesekali tersenyum ke arah Zara sambil tangan tetap fokus pada kemudinya.
"Lu kenapa Ra, kaya cacing kepanasan, pantat lu bisulan?"
"Ish enak aja, gue deg-deg an Wi, gini ya rasanya pertama kali kita berangkat bekerja."
Dewi tersenyum gemas, dan mengangguk ringan.
"Lu harus tetap percaya diri Wi, ingat hormati selalu senior lu, kerjakan apa yang mereka perintahkan, jangan pernah membantah meski lu di suruh nyapu ngepel dan nyetrika."
"Wi lu ngomong serem amat, kita mau ke butik Wi, bukan bekerja di rumah tuan tanah yang kejam."
Protes Zara yang dalam hatinya tetaplah ketar-ketir, bagaimana jika ternyata para seniornya akan bersikap kejam padanya, membayangkan hal itu Zara bergidik ngeri.
"Wi, nanti lu pulangnya bareng gue ya."
"Heum."
"Beneran Wi, gue takut, kalau nggak ada yang bela gue, takutnya mereka bakal nge bully gue, tar gue d suruh nyuci, ngegosok tar kalau salah tangan gue di setrika lagi hiii...." Zara bergidig dan mengusap tangannya yang terasa meremang bulu halusnya.
Dewi hanya tersenyum puas, melihat wajah penuh ketakutan sahabatnya membuat moodbosternya pagi ini menjadi bagus.
Dewi melangkah penuh percaya diri, sedangkan Zara masih dengan suasana hati ketar-ketir memasuki butik.
__ADS_1
Anggukan dari para karyawan menyambut kedatangan mereka.
"Hai Ra, Wi ...udah pulang?"
Dewi mengangguk ke arah Andra.
"Bosen lama-lama di kampung kak, nggak punya duit."
"Ha ha ha, padahal kita mau nyusul elu Wi."
Dewi tersenyum masam "Terima kasih atas mainannya kak, nanti akan ku kirimkan lewat jasa pengiriman"
Andra mengangguk pasti.
"Ra, gimana udah siap, kerja di butik ini?"
Zara mengangguk pasti.
"Eh tapi CV nya belum bikin kak, belum lengkap datanya"
"Nggak apa-apa, tar bisa nyusul."
"Ra ehm" Andra tampak ragu mendekati Zara.
"Ada apa kak?"
"Lu mau pake seragam?" tanya Andra ragu.
"Ya mau lah, mana kak, emang sudah di siapin ya."
Andra mengangguk.
"Baju seragam selalu siap Ra, tar gue ambil dulu."
Zara dan Dewi menatap baju seragam dari Andra, seragam berbahan batik yang begitu halus dengan warna coklat muda di padu dengan hitam sungguh tampak cantik dan elegan.
"Ra halus bener baju seragamnya." Dewi berbisik lirih di ruang ganti.
"Iya, pasti seragam model begini harganya mahal ya Wi." Dewi meng iya kan.
"Bagus Ra, pas buat elu, cakep." Dewi mengacungkan kedua jempol ke arah Zara dengan seragam baru nya.
Maharani begitu detil merancang seragam untuk para karyawannya, bahkan bahan premium berkualitas tinggi ia pakai.
Andra menatap Zara terpaku, baju seragam biasa jika di kenakan oleh Zara terlihat begitu istimewa.
Kulit putihnya sangat serasi dengan warna batik tersebut, kaki Zara yang jenjang membuat rok span itu terlihat begitu pendek di tubuhnya.
Ada sedikit rasa tak rela di hati Andra, tubuh sang pujaan terekspos nyata.
"Ra, ganti bajunya, nanti aku minta mommy untuk buat yang baru."
"Hah"
"Hah"
Zara dan Dewi serempak menjawab dengan wajah bingung.
__ADS_1