Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*95


__ADS_3

Roy membulatkan matanya saat ia melihat jam di pergelangan tangannya, sebentar lagi waktunya istirahat siang, namun sang bos belum juga menampakan wujudnya.


Sementara di mansion Revan masih sedang berusaha sekuat tenaga membujuk sang ibu agar mau mengijinkannya berangkat ke kantor.


Reni yang trauma melihat tubuh Revan terkapar, kini sangat ketakutan melepasnya pergi, meski kata dokter bahwa anaknya itu hanya kelelahan dan hanya butuh banyak vitamin dan istirahat yang cukup.


"Bu,aku harus berangkat sekarang, ada berkas penting yang harus ku tanda tangan" ujar Revan sungguh-sungguh, entah untuk ke berapa kali ia telah memohon pada ibunya, namun Reni masih keras pada pendiriannya.


"Kamu hari ini harus tetap di rumah nak, kata dokter kamu harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran, jika kau ke kantor pasti banyak masalah yang akan menghadangmu di sana dan ibu tidak mau lagi melihat kau kelelahan" ujar Reni.


Revan hanya bisa menarik nafas panjang, ia terpaksa memanggil asistennya untuk datang ke mansion.


Sementara itu di restoran, suasana hati Andra masih tampak kalut, bahkan ia tak berniat untuk menemui Zara hari ini, masih saja terngiang di telinganya saat Zara mengatakan bahwa ia bukanlah pemilik ciuman pertama gadis itu.


Restoran yang sedang santai karena sudah melewati jam makan siang membuat Zara sedikit santai.


Beberapa kali ia mengedarkan pandangan ke ruangan resto maupun di area parkir, tak tampak sosok yang di carinya.


Entah kenapa ia merasa Andra menjauhinya, biasanya sudah di pastikan pada jam-jam santai ia akan datang menemuinya, untuk sekedar say helo, ataupun mengobrol ringan.


Apa dia tak datang ke resto hari ini, pikir Zara, entah kenapa hatinya merasa kosong, seakan tak ada semangat seperti hari-hari kemarin, di mana Andra selalu datang dengan senyum manis dan perhatin yang tulus.


Puk puk puk, Zara menepuk kedua pipinya.


Sadar Ra, lu bukan apa-apa nya, batinnya lirih, namun hatinya juga tak bisa di bohongi bahwa kehadiran Andra membuat hari-harinya lebih hangat dan berwarna.


Senyum Zara terbit saat dari arah depan Andra berjalan ke arahnya, dadanya tiba-tiba berdebar kencang dan hatinya kini merasa gugup bukan main.


"To, tolong suruh orang dapur siap-siap, rombongan tamu Pak Menteri akan tiba beberapa menit lagi" ujar Andra pada Wanto yang kebetulan berjalan dari arah berlawanan.


Sesak dada Zara, saat Andra mengacuhkannya, bahkan melihat ke arahnya pun tidak.


Mungkin dia memang sedang sibuk, karena tamu penting akan datang sebentar lagi, Zara berusaha menenangkan pikirannya.


Dan benar saja, beberapa menit kemudian, semua pelayan tampak sibuk, bagian koki pun mulai tegang.


Kedatangan seorang Menteri pariwisata yang terkenal dengan kritikan yang sangat tajam, bahkan tanpa ampun ia akan jujur mengatakan kekurangan dan kelebihan suatu makanan ataupun tempat rekreasi di jejaring sosialnya.

__ADS_1


Meski di kenal dengan julukan Menteri bermulut cabai, namun ia terkenal sangat tegas dan jujur.


Dan kali ini untungnya Andra sudah mengetahui niat kedatangan sang Menteri ke restorannya hingga ia pun sudah mem briefing semua karyawan, koki maupun bagian kebersihan untuk bekerja secara teliti dan cermat.


Meski ia pun mengenal baik Menteri tersebut beserta istrinya yang tak lain adalah orang tua daru sahabatnya semasa di negara X.


Andra berdiri tegap dengan beberapa karyawan yang berbaris di sebelahnya untuk menyambut kedatangan Menteri tersebut.


Khusus hari ini semua di wajibkan memakai baju batik bebas.


Zara memandang pemuda bertubuh jangkung dan tegap itu dari kejauhan, wajah yang putih dengan bibir merah serta hidung mancung, sungguh Andra lebih terlihat sebagai seorang model yang sedang memperagakan baju kemeja batiknya.


Tak bosan rasanya Zara memandang ke arah Andra yang sesekali tersenyum manis sambil menyalami para tamu.


Dan, netra tajam Zara menangkap pergerakan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.


Andra tersenyum manis saat bersalaman dengan seorang wanita cantik bergaun indah.


Wanita yang tak lain adalah putri Menteri tersebut.


Melihat interaksi tersebut membuat darah Zara tampak panas, ia pun mengalihkan pandangan dan mencoba fokus pada tugasnya.


"Mbak, Maaf ini uang kembaliannya salah" ujar seorang pembeli yang komplain karena uang kembalian tidak pas.


"O iya m maaf Nyonya" ucap Zara dan berkali-kali mengangguk dengan nada penyesalan.


"Iya nggak apa-apa Mbak."


Untung saja pembeli itu memaklumi kesalahan Zara.


Zara sama sekali tak bisa fokus dengan tugasnya, lirikannya tak pernah lepas dari Andra dan wanita cantik bergaun indah tersebut.


Semakin panas dada Zara saat ternyata Andra mengajak putri sang Menteri tersebut untuk duduk memisah berdua di taman resto.


Keluarga Menteri tersebut tampak sudah akrab dengan Andra, mereka membiarkan putrinya berbincang berdua dengan Andra.


Kunjungan keluarga Menteri akhirnya berakhir, mereka pun pamit untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka.

__ADS_1


Andra melepas mereka dengan senyum lebar, bahkan sang Menteei menepuk pundaknya hangat, dan entah apa yang mereka bicarakan berdua, hingga membuat Andra tertawa tergelak.


Jika Zara sedang merasa uring-urungan karena sang Arjuna kini bagai berpaling pada wanita lain, maka berbeda dengan Wanto.


Rupanya sedari tadi pria itu tak henti mengamati tingkah Zara yang bagai kebakaran jenggot saat melihat interaksi Andra dengan putri Pak Menteri itu.


"Non, apa mau nginap di sini?" tanya Wanto tiba-tiba.


"Hah, nginap" Zara balik tanya dengan heran.


"Iya, waktu pulang sudah tiga puluh menit yang lalu, tapi Non Zara masih betah duduk di situ sambil liatin ehmm hmm."


Zara membulatkan matanya salah tingkah, dengan cepat ia membereskan kertas dan bon ke loker dan menguncinya.


"Ah, ehm ini juga mau pulang kok, aku cuma mau nunggu temanku yang akan jemput kesini" dan Wanto hanya bisa tersenyum gemas, sungguh Zara sangat lucu saat salah tingkah, ia sangat tak pandai mengarang suatu kebohongan.


"Hati-hati di jalan Non" ujar Wanto saat Zara memasuki taxi online yang di pesannya.


Pagi tadi ia terpaksa berangkat menggunakan taxi online, motor maticnya akan di pakai Dewi, sedangkan ia sungguh malas menyetir hari ini.


"Non sudah sampai Non" ucap sang sopir taxi dengan ramah.


"A ehm i iya pak" jawab Zara gugup.


"Hufff" Zara menghempaskan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu, karena Andra, hari ini ia berkali-kali kena apes.


Apakah sebesar itu dampak atas apa yang telah di lihatnya di resto tadi, batin Zara lirih.


Zara tak pernah merasa kacau seperti ini, jantungnya berdebar kencang bersamaan dengan rasa sesak di dadanya.


Segelas air minum ia teguk hingga habis, berharap ganjalan di dadanya menghilang.


Namun ternyata sakit di dadanya masih terasa jelas.


Puk puk puk.


Zara menepuk dadanya pelan, masa iya sekarang ia punya penyakit jantung, batinnya ragu.

__ADS_1


__ADS_2