Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*125


__ADS_3

Ketiganya pergi meninggalkan kediaman Suzana dengan isi kepala masing-masing.


Jika Zara dan Dewi merasa sangat senang karena mereka mendapat bonus sebuah cincin cantik dari sang Nyonya rumah, sedangkan Andra mendapat sebuah dasi berbahan sutra mewah dari koleksinya.


Bukan hadiah yang membuat Andra termenung, namun teka-teki tentang siapa sebenarnya Manu, kini memenuhi kepalanya.


Sesampainya di parkiran lobi apartement ketiganya turun, tak seperti biasanya, anak buah Andra yang ia suruh mengantarkan mobil, belum tampak.


"Kalian langsung naik aja Ra, Wi, biar aku nunggu anak buahku di sini paling juga bentar kagi mereka datang" ucap Andra.


Zara dan Dewi saling pandang merasa tak enak hati.


"Nggak apa-apa Kak, biar kita temani Kakak di sini sebentar, toh belum terlalu larut" jawab Zara di sambut anggukan oleh Dewi.


Ketiganya pun mengambil duduk dekat pindu masuk.


"Ra."


Ketiganya menoleh ke asal suara.


Dua sosok pria tampan dengan setelan jas hitam, melangkah ke arah mereka.


Revan dengan senyum penuh kharismatik menyapa ketiganya dan menyalami mereka satu persatu, di belakangnya pria bertampang datar dan dingin mengikuti sang atasan ikut menyalami ketiganya.


Andra memandang Revan yang menjabat tangan Zara lebih lama merasa panas darahnya, ingin rasanya ia menepis tangan mantannya itu agar ia tak menyentuh tangan Zara.


"Baru pulang kalian?" tanya Revan ramah, saat ini ia hanya ingin Zara menerimanya sebagai teman, untuk kelanjutan kisah cintanya ia akan menyusun siasat lebih lanjut.


"Iya, kami baru pulang, ada satu projek yang harus kami kerjakan."


"Ehm ada yang harus kita bicarakan Ra."


Zara memandang Revan lalu beralih ke Dewi dan Andra.


"Ini tentang hal yang kemarin kau tanyakan" sambung Revan melihat keraguan Zara.


"Baiklah kita duduk di sebelah sana saja" tunjuk Zara ke kursi yang berada tak jauh dari mereka saat ini.


Revan pun mengangguk lalu melangkah di ikuti Roy sang asisten.


"Bagaimana Van" tanya Zara tanpa basa-basi, ia tak ingin berlama-lama berdekatan dengan pria anak dari si nenek sihir itu.


"Roy bawa berkasnya."


Roy pun segera mengambil berkas dari dalam tas lalu menyerahkan pada Zara.


"Ini rincian biaya rumah sakit, kebetulan rumah sakit itu milik sahabat dekatku dan aku pun memiliki beberapa persen saham di sana, jadi aku akan mendapat biaya lebih murah jika ada anggota keluargaku di rawat di sana" terang Revan panjang lebar.

__ADS_1


"Tapi aku bukan saudaramu dan di antara kita tak ada hubungan apa pun" elak Zara cepat.


Dewi sudah menceritakan semua yang terjadi dari penuturan Reni, bahwa ia dan Revan memang bukan satu Ayah, meski benci di hati Zara masih menggunung namun ia tak bisa mengelak takdir bahwa itu memang benar adanya.


"Memang di antara kita tak ada hubungan istimewa tapi aku memiliki hak istimewa sebagai salah satu pemilik saham, jadi siapapun itu yang aku daftarkan atas namaku maka biayanya akan mereka kurangi" Revan menjelaskan secara gamblang tanpa berbelit-belit.


"Dan biaya perbaikan mobil itu?" tanya Zara kemudian.


"Kau tahu Diego?"


Zara mengangguk.


"Dia memiliki keahlian sebagai montir, dan mekanik dan sekarang sudah menjadi salah satu karyawan di perusahaanku dan aku meminta tolong padanya untuk memperbaiki mobilmu, tentu saja sebagai balas jasa ia dengan suka rela menyelesaikannya."


Zara terdiam mendengar alasan logis Revan tentang rincian biaya yang harus ia bayar.


"Bagaiman? Apa kau masih sangsi bahwa aku memanipulasi angka itu" tanya Revan penuh selidik.


"Baiklah, aku percaya, aku akan mentransfer padamu nanti."


Revan pun pamit dan meninggalkan lobi dengan senyum smirk dari bibirnya.


Berkat kerja sang asisten ia berhasil membuat Zara percaya dengan angka yang sudah di manipulasinya.


"Bagaimana Ra, sudah selesai urusanmu?"


Zara mengangguk.


Zara menggeleng.


"Tapi kenapa biayanya begitu murah Ra, rasanya mustahil?" Dewi masih tak percaya.


Zara menganggukan kepalanya lagi.


"Ish Elu lama-lama mirip cepot, geleng angguk, geleng, angguk" Dewi mentoyor Zara kesal.


Andra menghampiri keduanya.


"Ra aku pamit, mobilku sudah datang."


"Baik Kak, terima kasih."


"Masa ucapan terima kasihnya gitu doang."


Zara mengerutkan alisnya "Lalu, harus bagaimana?"


Dengan gerakan tiba-tiba Andra menyambar bibir Zara dan mengecupnya lembut.

__ADS_1


Dewi yang melihat pun membulatkan matanya dan menutup mulutnya melihat adegan romantis itu.


"Ish Kak, ini banyak orang malu" Zara mencubit pinggang Andra kesal.


"Itu yang namanya terima kasih yang benar sayang" bisiknya di telinga Zara hingga bibirnya kembali menyentuh pipi halusnya.


Andra melangkah dengan senyum puas, dari sudut matanya ia bisa melihat Revan masih memandang Zara dari kejauhan.


Rasain Lu, kebakaran jenggot kan? makanya kalau sudah menjadi milik orang nggak usah lagi bikin usaha biar dekat-dekat, ucap batinnya puas.


Di area parkir Revan hanya bisa mengepal tangannya keras, rahangnya pun mengembung menandakan amarah sedang merasuki hatinya.


Dengan santai Andra melajukan mobil berpura-pura tak mengetahui keberadaan Revan yang masih terus mengamatinya.


Sesampainya di mansion sang mommy langsung menyambutnya dengan cubitan kecil di pingganggnya.


"Dasar nakal kamu yaa awas .."


"Ah aaww aww ...mom ada apa mom, apa salah anakmu yang tampan ini mom, aakhh."


Andra berusaha melepaskan jepitan kecil tangan sang mommy dari pinggang tanpa lemaknya itu.


Maharani melepasnya dengan nafas memburu.


"Kamu sudah janjikan apa sama anak Pak Menteri itu heum? kenapa dia datang ke sini nangis-nangis nyari kamu, sudah kamu apain anak gadis orang heum, janji manis apa yang sudah kau ucap padanya?" tatapan tajam Maharani seakan menghujam ke jantung hati Andra.


"Ya Tuhan aku tidak obral janji mom, suerr" Andra berucap dengan menaikan jari telunjuk dan tengan membentuk huruf V.


"Lalu kenapa dia sampai nangis-nangis nyari kamu ke butik, resto segala, apa kamu udah unboxing anak gadis orang??" tanya Maharani emosi.


"Ya Tuhan mom, apa kau lihat putramu ini ada tampang casanova yang dengan mudah celap-celup sana-sini, ini aku putramu Joyandra Sabastian yang masih bersegel mom" terang Andra jujur, kesal rasanya di tuduh yang bukan-bukan oleh mommynya sendiri.


"Trus ngapain dia nyari kamu, sampai lama nangis terus, pegel nin pundak mommy jadi sandaran dia, mana ingusan lagi" rutuk Maharani.


Andra tersenyum masam.


"Mungkin ada perlu mom, tadi aku sengaja matiin ponsel karena sedang bersama Zara, kami lagi ngerjain projek besar untuk Zara, dan nggak bisa di ganggu" ujar Andra tenang, karena memang ia tak berniat menemani Fitri ke acara ulang tahun temannya.


"Beneran?"


"Suer mom, tenang mom.. Putramu ini tidak akam sembarang obral janji manis apalagi sampai rusak anak gadis orang, karena aku hanya akan menjaga keperjakaanku hanya untuk istriku nantinya, dan dia adalah Zara Zanita mom" ucap Andra penuh percaya diri.


"Syukur deh kalau begitu, mommy hanya ingin kamu selalu menghargai wanita, mommy nggak mau punya anak playboy yang suka gonta-ganti pasangan, kalau kau sudah tetap dengan keputusanmu maka jagalah dia, jangan pernah kau duakan dirinya apalagi bermain hati di belakangnya, mommy akan sangat marah Joy, kasihan Zara, hidup sudah sebatang kara jika di tambah kau melukai hatinya , mommy nggak akan maafin kamu."


"Ish mom jangan kejam begitu mom, tenang lah, aku akan segera melamar Zara untuk menjadi menantumu dan aku akan membahagiakannya hingga sisa umurku"


"Benarkah?"

__ADS_1


Andra mengangguk pasti.


__ADS_2