
Maharani membulatkan mulutnya saat Andra menceritakan kejadian yang menimpa istrinya dengan suara pelan.
"Nggak Mommy sangka kalau Fit...."
"Sst Mom jangan terlalu keras, takut dia denger" ucap Andra sambil mengedikan dagunya ke arah kamar.
"Mommy nggak sangka Fitri bisa berbuat sekeji itu.." Maharani mempelankan suaranya.
"Makanya Mom, mungkin sekarang Zara masih merasa sedikit pusing setelah kejadian itu, makannya ia harus tetap minum vitamin dan cukup istirahat" sambungnya.
"Lalu apakah sekarang kau sudah tahu di mana Fitri berada?"
Andra menggeleng.
"Tapi kedua orang tuanya sudah minta maaf sama Zara mom, dan Momy tahu...Zara dengan enteng menerima permintaan maafnya...bahkan setelah di rumah sakit ibunya Fitri menghinanya terang-terangan."
"Apa...menantuku di hina, dasar kurang ajar...mana wanita itu mommy ingin lihat."
Andra menarik dagunya, sang mommy kenapa bisa berubah menjadi bar-bar jika masalah menyangkut menantunya.
"Kenapa malah Momy yang marah, harusnya Zara."
"Iya ..kenapa malah Mommy ya..." Maharani menggaruk kepalanya, bingung.
"Mom, demi keselamatan Zara, Ayah mertua meminta untuk kita mengurangi jumlah tamu yang kita undang."
Maharani tertegun dengan pemikiran besannya tersebut, seorang Ayah yang begitu perhatian pada keselamatan putrinya.
"Tentu saja, demi menantu Mommy apapun akan mommy lakukan Joy."
Andra tersenyum dan memeluk Maharani hangat.
"Terima kasih atas pengertianmu Mom."
"Tapi Mom minta, sesi poto pernikahan harus tetap lengkap dengan gaun pengantin dari Mommy juga tantemu itu oke?"
"Tentu Mom.."
Maharani tersenyum puas, gaun yang ia rancang secara istimewa untuk pernikahan menantunya tak boleh sia-sia, karena ia yakin gaun itu akan menyatu dengan tubuh dan jiwa Zara.
Dari pertama kali Maharani bertemu dengan Zara dan sejak itu lah Zara telah mencuri hatinya, dan alangkah senang hatinya saat sang putra ternyata berhasil meminangnya.
__ADS_1
Ceklek.
Andra menarik tuas pintu sangat pelan, ia tak ingin mengganggu tidur sang istri, bahkan langkahnya berjingkat saat menuju ranjang.
Jam menunjukan angka setengah sebelas, nafas Zara teratur, dengan bibir sedikit terbuka.
Andra menatap gemas gaya tidur sang istri yang tak ada anggun-anggunnya sama sekali.
Dua kaki yang terkangkang lebar bahkan perut ratanya terbuka karena baju yang sedikit tersingkap.
Andra menggeleng pelan sambil menelan salivanya saat membetulkan baju Zara yang memperlihatkan perut putihnya yang rata.
Malam ini kamu puasa dulu Din, kasihan dia terlihat letih, tak tega aku membangunkannya, besok setelah dia pulih, kita akan serang habis-habisan, Andra membatin dengan wajah menahan sesuatu.
Hati Andra masih di liputi perasaan was-was, Fitri belum juga mereka tangkap, meski Gunawan sudah mengerahkan anak buah untuk mencarinya, Fitri bagai di telan bumi, atau entah kekuatan besar siapa yang telah menyembunyikannya dengan baik.
Rasa kantuk sudah mulai menyerang Andra, rupanya waktu sudah hampir dini hari.
Pagi menjelang dengan mentari yang bersinar cerah, menerobos dinding kaca jendela kamar Reni, wanita itu menggeliatkan tubuhnya perlahan.
Suasana mansion tampak hening, se hening hatinya yang kian merasa sepi sejak kepergian Revan.
Drrt drrt.
"Ya ada apa mas?" tanya Reni dengan suara yang masih serak.
"Aku ingin mengajakmu hadir ke pesta pernikahan putriku."
"Maksudmu Zara?"
"Heum, siapa lagi, dia putriku satu-satunya, apa kau mau datang jika ku ajak bersamaku?"
"J jadi Zara akhirnya menikah dengan Andra? dia sudah memaafkanmu? Apakah dia juga akan memaafkanku juga?aku takut dia masih membenciku, aku memang pantas jika dia masih marah padaku, aku...."
"Sstt, jangan terlalu banyak kau berasumsi, bersiaplah satu minggu lagi aku akan menghubungimu."
Gunawan menutup telepon, Reni mengerjapkan matanya, rasa haru menyeruak di hatinya, jika memang bukan jodoh putranya, Reni akan menerima dengan ikhlas, karena yang terpenting sekarang adalah maaf dari gadis itu.
Wajah muram Reni berubah ceria, dengan penuh semangat ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tibuhnya.
Gunawan tersenyum tipis, dari nada suaranya Reni sangat bahagia, mungkin ini lah yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahannya pada wanita cinta pertamanya itu.
__ADS_1
Meski Zara belum sepenuhnya memaafkan tapi ia tahu sifat putrinya itu, ia sangat lembut dan pemaaf, ia tak akan tega membiarkan hatinya di liputi rasa sesal karena tak memaafkan kesalahan orang lain.
Gunwan mengambil selembar foto kecil yang selalu di simpannya di laci meja kamarnya.
Foto kebersamaan dengan Nita dan Zara saat masih kecil, masa-masa bahagia yang tak akan pernah bisa mereka nikmati lagi.
"Putrimu sudah dewasa Nit, dia sudah memiliki suami, andai kau masih ada, mungkin kita masih menjadi keluarga yang bahagia hingga anak cucu kita lahir" Gunawan bermonolog sambil memandang foto di tangannya.
Waktu tak bisa di putar ulang, dan Gunawan sadar akan hal itu, tak selamanya ia harus terus di landa rasa sesal, kini ia hanya perlu untuk memperbaiki keadaan, masa depan masih panjang, bahkan mungkin sebentar lagi ia akan menimang seorang cucu, ah memikirkannya pun sudah membuat Gunawan tersenyum haru.
Tak ada lagi yang di inginkannya sekarang, kambali bersama sang putri dan menikmati hari tua bersama anak cucu, adalah impian terindahnya.
Gunawan sudah mempersiapakan penjagaan ketat saat pesta nanti, ia mengerahkan seluruh anak buah untuk mengamankan jalannya pesta bahkan pria tegap itu menambah sekitar sepuluh orang lagi untuk menjaga Zara agar meyakinkan dirinya bahwa Zara tetap aman.
Rasa was-was masih menghantui Gunawan karena anak buahnya belum juga menemukan Fitri, gadis yang berusaha mencelakakan Zara.
Manu datang ke apartement membawa setumpuk map yang harus di tanda tangan olehnya, janji kerja sama maupun perpanjangan kontrak kerja, selalu ia tanda tangani di apartement.
"Bos apakah kau tetap tak ingin memperlihatkan wajahmu bahkan pada karyawanmu sendiri?" tanya Manu.
"Entahlah kukira itu tak begitu di butuhkan karena kepemilikan sebentar lagi akan ku serahkan pada putriku."
"Justru itu Bos, ku kira semua karyawan di tempat kita sangat penasaran dengan bos yang selama ini meng gajih mereka" bujuk Manu.
"Lalu dengan begitu apa keuntungan yang akan bisa ku dapatkan?."
Glek.
Manu terdiam, pertanyaan Gunawan sangat telak.
"Dengan ketampananmu siapa sangka jika mungkin ada salah seorang karyawan yang jatuh hati padamu."
Manu tak dapat lagi berfikir jernih dan kalimat bodoh itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Gunawan memandang Manu intens, memang setelah bertahun-tahun hidup menyendiri, tak pernah sekalipun ia dekat dengan wanita.
Tapi kenapa justru asistennya berfikir jika ia akan jatuh hati pada salah satu karyawannya.
Manu segera melangkah pergi dari ruangan, tatapan Gunawan bagai se ekor singa yang hendak menerkamnya.
Ceklek.
__ADS_1
Selamat..selamat, Manu membatin sambil mengusap dadanya.