
Rasa puas dan kenyang kini mereka rasakan setelah menghabiskan pepes ikan mas dengan nasi hangat beserta sambal dan lalapan.
Sungguh perpaduan yang sangat pas, menu sederhana yang membuat Zara kini duduk bersandar di sofa karena rasa penuh di perutnya.
Zara duduk dengan mata menerawang ke jendela balkon apartement, hati dan fikiran Zara tengah berkecamuk.
Andai saja ia masih memiliki seseorang Ayah yang menyayanginya dengan tulus, bahagia sekali rasanya.
Tak dapat di pungkiri bahwa ia pun sesekali merindukan sosok seorang Ayah dalam hidupnya, meski saat ini ia pun tak tahu di mana keberadaan Ayah kandungnya.
Apakah masih hidup atau kah sudah tiada.
Betapa bahagianya jika memikirkan ada sosok Ayah yang akan selalu melindunginya, menyayangi dan mencintai dengan tulus.
Dari cerita nenek sihir itu, yang mengatakan bahwa mereka hanya hidup bersama sekitar satu tahun, namun kembali berpisah, lalu kenapa Ayah tidak kembali pada ibu, setidaknya meminta maaf atas apa yang telah di perbuatnya.
Zara sangat mengenal ibunya yang memiliki hati lembut dan pemaaf, meski mungkin tak bisa kembali bersama, mungkin ibu akan memberi maaf jika Ayah memohon dengan tulus.
"Ra Lu kenapa?" tanya Dewi yang heran karena sikap Zara tiba-tiba berubah murung.
"Entahlah Wi, Gue merasa ikut prihatin dengan cerita Manu tentang atasannya."
"Ehm yang terpaksa berpisah dengan putri satu-satunya karena kesalah pahaman."
Zara mengangguk pelan.
"Gue pikir, atasan Manu orang yang baik."
"Menurut Gue juga gitu Ra, mana ada Bos yang begitu perhatian pada anak buahnya jika bukan orang baik."
"Iya Wi, sama anak buahnya aja baik, apalagi sama anak kandungnya sendiri."
"Heum, semoga saja mereka di beri jalan untuk menyelesaikan masalah hingga kesalah pahaman segera berakhir, dan mereka bisa kembali hidup bersama."
"Iya Wi, semoga saja, Gue juga prihatin, apa yang membuat mereka terpisah, padahal ia hanya memiliki satu orang anak."
"Eh Elu kenapa tiba-tiba melo gitu, tumben amat."
"Gue inget nasib Gue sendiri Wi, Gue hidup sebatang kara sedangkan Gue masih mempunyai seorang Ayah di luar sana, entahlah apa dia mikirin Gue apa kagak, dia masih hidup atau sudah mati pun Gue nggak tahu, miris banget hidup Gue kan Wi."
Dewi menatap sahabatnya intens, ada kerinduan yang mendalam di matanya, rindu akan kasih sayang seorang anak pada Ayah kandungnya.
"Ehm Ra, giman kalau ternyata Ayah Lu masih bernafas dan tinggal di suatu belahan bumi lain yang ternyata juga masih merindukan Elu?"
__ADS_1
"Entahlah Wi, aku masih belum bisa menerima apa yang telah ia perbuat pada Gue dan Ibu Gue."
"Apa Elu akan tetap hidup dengan menyimpan dendam di dada Elu Ra? Sampai kapan Ra?."
Zara menggeleng pelan.
Andai sang Ayah datang dan meminta maaf padanya saat sang Ibu masih hidup, mungkin kisah hidupnya tak se pahit ini.
"Ah udahlah ngapain mikir hal yang mustahil."
"Kok mustahil , bisa aja Ayah mu tiba-tina datang dengan segudang rasa sesal di hatinya lalu bersimpuh memohon maaf pada Elu?"
"Mana mungkin Wi, setelah ber tahun-tahun ninggalin Gue hidup sebatang kara, mana mungkin dia tak sengaja ninggalin gue, pasti memang dia sudah berniat membuang Gue, dan menganggap Gue bukan lagi anaknya."
Zara melangkah pergi ke kamarnya, berdebat demi orang yang membuatnya kecewa membuat dadanya sesak, apalagi berharap mukjizat dia datang dan memohon maaf sungguh Zara belum bisa menerima hal itu.
"Gue mau tidur, besok berangkat pagi Gue."
"Tidurlah yang nyenyak, semoga hidayah menghampiri dan membukakan pintu hatimu" ucap Dewi lirih namun masih bisa di dengan Zara.
"Ck mimpi kali yee" jawab Zara kesal dari balik pintu kamarnya.
Dewi hanya tersenyum masam, dalam hatinya serangkai do'a tulus ia alamatkan untuk sahabatnya, berharap ia bisa berdamai dengan masa lalunya dan menerima kembali sang Ayah jika suatu saat mereka di pertemukan kembali.
"Tumben Lu nggak bawa mobil?."
"Lagi males Gue, enakan bonceng, kan bisa meluk Elu."
"Ck, nggak minta Kak Andra jemput?"
Zara menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di restoran Zara langsung ke ruangannya, matanya sekilas menyisir restoran berharap melihat sosok yang selalu membuat hatinya berdebar.
"Pagi mbak" sapa salah satu karyawan yang mendapati Zara celingukan tak jelas.
"Ehm pagi Bang, masih sepi ya?" tanya Zara basa-basi.
"Iya Mbak, tadi juga Den Andra sudah datang hanya mengecek lalu pergi lagi, katanya ada urusan di butik."
"Oohh" Zara membulatkan mulutnya kecil.
"Mbak mau makan dulu atau mau bikin minuman" memang mereka sudah paham jika putra pemilik restoran itu selalu menyediakan minuman hangat untuk Zara.
__ADS_1
"Ehm nggak usah Bang, saya udah sarapan tadi, dan nggak usah bikin minuman, ntar saya buat sendiri."
"Baiklah Mbak, saya mau lanjut ke dapur dulu."
"Iya Bang."
Jika Zara mulai sibuk dengan rutinitasnya, Andra masih duduk bermalasan di kursi mobilnya.
Di depan rumah besar Fitri kini ia berada, pagi-pagi Fitri membangunkannya, jadwal kepulangan Ayahnya di majukan beberapa jam ke depan.
"Ayo Ndra kita berangkat."
Fitri dengan dandanan cetar membahana sudah siap menyambutnya dengan senyum manis.
Dengan rasa dongkol Andra melajukan kereta besi menuju bandara, satu jam akhirnya mereka sampai.
Tak butuh waktu lama karena pak Menteri pun sudah tampak.
Dengan pelukan manja, Fitri menyambut Ayah dan Ibunya, tak henti ia di hujani ciuman dari sang Ibu yang begitu memanjakannya.
Andra menyambut menyalami kedua orang tua Fitri, Pak Menteri menepuk pundak Andra lembut.
"Terima kasih kau telah menjaga putriku" ucapnya dalam.
Andra hanya tersentum tipis, memikirkan hati yang ia jaga dengan baik mungkin akan terluka karena sikapnya yang tak pasti.
Andra mengemudikan mobil dengan wajah datar.
Fitri lebih memilih satu mobil bersamanya di banding ikut dengan kedua orang tuanya.
Iring-iringan mobil pun berjalan menuju rumah kediaman Pak Menteri, kedatangan salah satu petinggi negara yang di segani membuat para wartawan pun berbondong-bondong datang ke kediamannya.
Rumah besar yang tadinya sepi, kini terlihat riuh dengan kedatanga sang Tuan Rumah.
Meski terihat wajah letih namun Pak Menteri masih menyempatkan diri untuk menyapa para awak media dan menjawab beberapa pertanyaan dengan sabar.
"Pak, apa benar putra Nyonya Maharani akan menjadi menantu anda?" pertanyaan dari salah satu wartawan membuat Andra terhenyak.
Suasana mendadak hening, semua mata tertuju pada pemuda tampan yang berada tak jauh dari Pak Menteri, sementara Fitri menaikan sudut bibirnya.
"Kalau untuk hal itu, mungkin kalian bisa menanyakan padanya langsung, namun sejauh ini saya tentu saja sangat berharap putriku dapat berjodoh dengan lelaki yang ia cintai, dan yang saya tahu pria ini lah yang sudah mencuri hati putriku."
Riuh tepuk tangan menyambut kalimat Pak Menteri yang mengatakan secara tak langsung bahwa ia pun mengharap Andra lah yang kelak menjadi menantunya.
__ADS_1