
Waktu menunjukan pukul satu dini hari, tepat saat keduanya mencapai puncak pelepasan, tubuh polos yang bermandi peluh masih menyatu dengan nfas yang memburu.
"I love you .." bisik Andra lembut di telinga sang istri yang tekulai lemah di pelukannya.
Pagi hari Echa bangun pukul empat pagi bagitu pun Ikhsan, ruang kamar yang ber AC membuat keduanya merasa dingin namun selimut tebal nan lembut banyak mengurangi rasa dingin yang mereka rasa.
Tok tok tok.
Ceklek.
"Maaf, Tuan dan Nyonya, kami di perintahkan untuk mengantar baju untuk anda berdua pakai sebagai ganti"ucap salah satu pelayan.
Ikhsan dan Echa saling pandang.
"Ah tidak perlu Bu, kami membawa baju ganti" ucap Echa sungkan.
"Maaf Tuan dan Nyonya, semua sudah di persiapkan oleh Nyonya Maharani, kami hanya menuruti perintahnya" jawab Pelayan tak ingin perintah majikannya mendapat penolakan.
"B baiklah Bu, terima kasih."
"Sama-sama Nyonya, dan anda berdua di tunggu di meja makan untuk sarapan pagi bersama."
Ikhsan dan Echa lalu mengangguk dengan senyum senang.
Mata Echa membulat sempurna saat melihat dres sebatas betis berbahan sutra halus berwarna silver.
Begitupun Ikhsan yang juga terpukau dengan baju yang di siapkan untuknya.
"Bu baju ini terlalu bagus untuk kita, apa kita pulangkan lagi saja Bu?."
"Jangan Pak, nggak enak, juga kan nggak sopan kita menolak pemberian orang, apalagi orang yang sudah mau menerima kita untuk menginap di rumahnya yang megah ini, kita pakai saja Pak."
Ikhsan akhirnya memakai kemeja lengan panjang pemberian Maharani.
Sementara di kamar lain, Zara masih terlelap di balik selimut tebalnya, Sedangkan Andra yang sudah membersihkan tubuhnya segera membangunkan sang istri.
"Sayang, sstt bangun..." bisiknya lembut.
Andra menggeleng karena Zara sama sekali tak ber reaksi.
"Ternyata salah satu kekuranganmu adalah sudah untuk bangun pagi heum."
Andra bermonolog sendiri berharap sang istri mendengar dan segera bangun karena hari ini Zara ada janji dengan pemilik salon untuk perawatan tubuh dan wajah untuk acara nanti malam.
"Sayang hari ini jadwal perawatan untukmu jam sembilan akan datang sayang....." ujar Andra lagi, tapi Zara tetap diam.
__ADS_1
"Hmm atau mau ku bangunkan dengan mengulang lagi olah raga seperti tadi malam?."nada suara Andra ia naikan hingga Zara sontak langsung membuka matanya.
"Iyaaa....aku bangun" ucapnya dengan suara serak.
Namun itu ternyata hanya ucapan palsu karena ia masih saja enggan beranjak dari ranjangnya.
"Aku hitung sampai tiga, maka aku akan buat kau tak bisa berjalan sayang" kalimat vulgar yang meluncur dari mulut Andra sontak membuat Zara terpaksa segera bangun.
"Ish mesum sekali kau babe."
"Cepatlah! sebentar lagi karyawan salon datang."
Mulut Zara membulat, ia benar-benar lupa hari ini ada janji dengan salah satu salon langganan Maharani yang akan memberikan perawatan untuknya sebagai persiapan acara nanti malam.
Ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena beberapa menit lagi karyawan salon akan datang.
Maharani memang sudah meminta layanan VVIP yang akan di lakukan di mansion khusus untuk menantunya.
Ia ingin menantunya tampil maksimal agar para tamu undangan terkesan, meski tamu yang di undang hanyalah keluarga inti atau rekan dekat Gunawan tapi tetap saja Maharani ingin semuanya perfeksionis.
Apalagi gaun yang akan di kenakan Zara adalah salah satu masterpiece nya yang sudah lama ia buat.
Jika Zara melakukan treatment di rumah maka Maharani sendiri sedang mempersiapkan gaun untuk pesta, bersama sahabatnya Mery.
Jika treatmen di lakukan lima jam sebelum acara maka MUA pun sudah Maharani jadwalkan pukul dua siang.
Mereka yang memang sudah profesional sangat memanjakan kulit dan tubuh putih Zara.
Mereka melakuakn treatmen spa untuk bagian pertama, berfungsi agar tubuh tidak tegang dan merelaksasikan otot tubuh dan pikiran.
Setelah melakukan spa, kini tangan dan kaki Zara yang mendapat giliran untuk di manjakan, kuku yang di hias dengan warna terang membuat tangan Zara tampak lebih segar dan cantik.
Dan Andra yang selalu di dekat Zara terpaksa menelan ludah kasar saat kulit tubuhnya yang putih mulus masih tetap mereka rapi kan dengan waxing.
Glek.
Karyawan salon tampak terkekeh saat Andra hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, kini tubuh sang istri semakin putih dan halus, ingin rasanya ia segera membawanya ke kamar dan menguncinya di dalam.
Bahkan bukan hanya tubuh yang mereka jamah kini wajah cantik Zara pun mendapat treatmen facial.
Mereka menggunakan bahan alami yang berkualitas tinggi yang mereka dapatkan dari luar negeri.
"Mbak masih lama nggak?" tanya Andra dengan lirih karena ia mulai merasa jenuh menunggu berjam-jam sang istri treatmen.
"Mungkin satu jam lagi Tuan, ada dua treatmen lagi yang masih harus di lakukan" jawab ketua tim dengan hormat.
__ADS_1
"Hah, masih ada dua lagi?" tanya Andra terkejut.
"Kalau begitu aku tidur dulu ya sayang, nanti bangunkan aku kalau sudah selesai."
"Heum" Zara menjawab santai sambil memejamkan matanya menikmati sensasi pijatan lembut para karyawan salon.
Karena waktu yang terbatas akhirnya perawatan rambut pun di persingkat, juga bibir dan kelopat mata Zara, mereka lakukan dengan cepat.
Dan Senyum sang ketua tim pun mengembang sempurna, hasil anak buahnya sangat bisa di andalkan, namun memang wajah Zara lah yang menjadi peran utama penampilannya menjadi sempurna.
Zara bangun dari kursi treatmen dengan tubuh bagai terlahir kembali, bibir dan rambutnya pun tampak cerah bercahaya.
Warna merah alami dari bibir lembut Zara membuatnya tampak bagai boneka hidup.
Tak tok tak.
Langkah sepatu high heels Maharani terdengar membahana di seluruh ruangan mansion.
"Bagaimana menantuku apa sudah selesai kalian manjakan?" tanya Maharani pada ketua tim salon.
"Semua sudah kami laksanakan Nyonya, dan Nyonya sudah bisa melihat hasilnya" ujar Dini sang ketua tim.
Maharani lalu melangkah mendekati Zara yang masih belum sadar perubahan dirinya.
Maharani menggelengkan kepalanya tak percaya, ia sungguh bagai melihat boneka barbie hidup, sangat cantik dan segar, batinnya.
Ia memindai mencari sosok sang putra yang tak ada di ruangan tersebut.
Dengan langkah tergesa akhirnya Maharani berhasil menyered Andra dari kamar untuk melihat Zara.
"Sst lihatlah, cantik kan istrimu?" tanyanya lirih.
Andra hanya bisa memandang takjub ke arah Zara.
Ia mengeejapkan maranya beberapa kali lalu menepuk pipinya sendiri.
Plak.
"Aawhh" pekiknya tertahan.
"Aku ternyata tidak sedang bermimpi, aku menikah dengan bidadari" gumamnya lirih sambil melangkah kearah Zara.
"Sayang lihatlah ke cermin" bisik Andra setelah membimbing tubuh Zara ke depan standing mirror.
Zara menatap cermin dan memandang tubuh dan wajahnya, ia mengerjap beberapa kali.
__ADS_1
"Ini aku Babe?"tanyanya lugu.
Maharani pun tersenyum gemas, tingkah sang menantunya sangat imut dan lucu.