Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *56


__ADS_3

Zara melajukan mobilnya dengan perlahan.


Ke makam sang ibu ia lakukan sebelum siang hari karena cuaca yang tak menentu membuatnya harus menggunakan waktu sebaik mungkin.


Kali ini Zara mengunjungi makam sendiri, tak bersama Dewi karena dia kerja sift pagi.


Setelah memarkirkan mobil, Zara melangkah ke lokasi makam yang tak jauh dari masjid besar.


Tatapannya lurus ke arah gerbang makam, berdiri sosok yang pernah mengisi harinya.


Pria bertubuh tegap dengan paras tampan, bersender di salah satu sisi gerbang.


Wajahnya tersenyum manis dengan buket bunga cantik di tangannya.


Revan sudah hapal jika setiap jum'at Zara selalu pergi ke makam.


Saat keduanya masih bersama pun Revan sering menyempatkan waktu untuk menemani Zara.


Revan tersenyum bahagia, akhirnya ia berhasil menemui gadis yang masih bertahta di hatinya itu.


Keberadaan Andra yang selalu di sisinya membuat Revan tak bisa leluasa menemui Zara.


Andra seakan tak memberi celah pada lelaki lain yang mencoba mendekati Zara.


"Apa kabar Ra"


"Ehm baik"


"Maaf kalau aku tak ijin dulu untuk menemanimu ke sini" Revan berucap lembut.


Tentu saja Zara tak bisa menolak kebaikan Revan yang sudah rela meluangkan waktunya yang sibuk untuk ber kirim do'a di makam ibunya.


"Tidak apa-apa selama itu tidak menganggu kesibukan mu" Zara tak ingin berlama-lama bersitatap dengan Revan yang masih begitu mengharapnya kembali.


Setelah berdo'a dan mengeluarkan isi hatinya, Zara pun berdiri untuk pulang ke apartement.


Para jama'ah yang hendak sholat jum'at sudah mulai berdatangan.


Beberapa pria yang mengenal sosok Zara pun tak tinggal diam.


Mereka mengabadikan keduanya yang baru keluar dari area makam dengan kamera ponsel yang mereka miliki.


Bisik-bisik sempat terdengar oleh Zara membuatnya terasa risih dan mempercepat langkahnya ke arah mobil.


Namun berbeda dengan Revan yang tetap santai menuju mobilnya.


Zara menoleh ke arah Revan sejenak lewat kaca mobilnya yang masih terbuka.


"Aku duluan, terima kasih atas waktunya." ucapnya lalu mengangguk sambil melajukan mobilnya ke luar dari area masjid.


Revan menatap kepergian gadis yang selalu menggetarkan hatinya, saat ini biarlah seperti ini, melihatnya dalam keadaan baik-baik saja sudah membuat Revan lega.


Ia akan mendapatkan Zara kembali dengan cara selembut mungkin.


Semangat yang sempat hilang kini kembali menyala saat kebenaran akhirnya terungkap, jalinan kasih Zara dan Andra hanyalah sebuah drama.


Sementara di tempat lain, di sebuah restoran ternama, mata Andra membulat dengan kilatan merah menyala.

__ADS_1


Salah satu penggemar Zara mengirimkan foto kebersamaannya dengan sang mantan.


"Bau-bau CLBK nih."


Kalimat singkat di kolom komentar yang kini membuat dadanya bergemuruh.


"Cieee-cieee mereka memang serasi" komentar pertama membuat Andra meremas tangannya.


"Apa mereka balikan?"


"Waah senangnya melihat mereka akhirnya bersama lagi." buku tangannya kini kian memutih.


"Ah gue mah setujunya kak Zara sama couple nya yang pake jaket denim itu tuuuh"


"Ah biasanya kalau badan yang bagus, wajahnya pasti pas-pas an."


Ingin rasanya Andra samperin itu yang komen bilang mukanya pas-pas an.


Andra ingin silaturahmi sama yang punya mulut lemes, ngalahin malaikat Raqib dan Atid.


Andra merutuki kelalaiannya yang melupakan hari ini adalah jadwal Zara pergi ke makam.


Sialaaaan....


Andra mengacak rambutnya kesal.


"Den mau makan?" sapa salah satu karyawan yang sempat melihat sikap Andra.


Andra menatap aneh sang karyawan.


"Tumben lu nawarin gue makan." Andra menjawab penuh nada ketus.


Andra melotot ke arah karyawan yang berucap jujur tapi begitu menyakitkan hatinya.


"Makannya den, jangan biarin non Zara sendiri, noh liat aja meleng dikit aja sudah di samber sama mantan, mana banyak yang mendo'a kan mereka balikan lagi, tapi tenang lah den, saya mah setujunya non Zara sama den Joy, pokoknya saya di barisan paling depan untuk kalian" kalimat terakhir yang mampu membuat Andra menyunggingkan senyum.


Karyawan itu pun kembali ke dapur restoran karena tawaran makan pada Andra hanyalah basa-basinya saja.


Andra kembali ke laptop, eh ke layar ponselnya.


Revan dan Zara memang terlihat serasi, tubuh tinggi tegap dengan wajah tampan sangat cocok di sandingkan dengan Zara.


"Haiissss" Andra merutuki dirinya sendiri yang kini tumbuh rasa iri di hatinya.


Apa gue nggak cukup gagah jika jadi pasangan Zara, apa kah tubuhku kurang tegap di banding lelaki itu.


Andra berjalan ke arah kaca wastafel yang berada di samping kamar mandi.


Di basuhnya wajah dengan air lalu di pandanginya dengan intens.


Di usap kedua pipinya, puncak hidungnya pun tak luput di elusnya.


Aku cukup tampan, pipiku halus, rahangku kokoh dan hidungku cukup mancung hanya....bulu mataku seperti cewek, Andra tercekat.


Andra selalu ingat, entah berapa banyak orang yang mengatakan bahwa bulu matanya begitu indah dan lentik bahkan wanita kalah lentik dengan bulu matanya.


Haiiisss, apa mata gue mirip cewek, Andra membatin.

__ADS_1


Apa perlu gue potong bulu mata gue, biar sama pendek seperti orang lain, berkali-kali Andra mengerjapkan matanya.


Di saat bersamaan karyawan yang tadi mengajukan diri jadi pendukungnya lewat.


"Eh tunggu, elu..iya gue manggil elu." Andra memanggil lirih.


Karyawan pria itu menunjuk dadanya sendiri, dan Andra mengangguk.


"Den perkenalkan nama saya Wanto, jadi mulai sekarang den Joy bisa manggil abdi Wanto."


Andra membulat.


"Elu asalnya dari mana?"


"Ti sunda den."


"Lha napa nama elu Wanto, biasanya nama yang berakhir hurup O berasal dari daerah wilayah tengah."


"Betul den, ayah saya tasik dan ibu dari garut."


"Nah lo...mana ada darah dari Jawa Tengah nya?"


"Ehm dari neneknya neneknya ibu saya den."


Andra manggut-manggut paham.


"Maaf den, saya ke dapur dulu ya, di depan lagi banyak pengunjung."


"Eh tunggu dulu, gue ada perlu sama elu To."


Wanto berhenti karena Andra menyusul langkahnya.


"Ada apa den?"


"Gue pinjem gunting, ada nggak di dapur?"


"Astaghfirullahaladzim nyebut den, sadar istighfar den, ingat den bunuh diri itu dosa besar den."


Kalimat panjang Wanto yang nyaring membuat perhatian sebagian karyawan teralihkan.


"Ish dasar semprul, siapa bilang gue bunuh diri, enak aja wajah ganteng, bujang orisinil masa bunuh diri, sayanglah senjata gue belum pernah di guna in" ujar Andra sambil membekap mulut lemes karyawannya dan menarik ke sudut ruangan.


Wanto menutup mulut dengan kedua tangannya sendiri, takut mulutnya keceplosan lagi.


"Lalu gunting buat naon atuh den?"


Andra melihat ke sekeliling takut pembicaraannya terdengar orang lain.


"Gue mau gunting bulu mata gue." Andra menjawab dengan berbisik.


"Hah mau gunting bulu senjata?"


Pletakkk.


"Auuhhh sakit den" Wanto mengusap jidatnya yang mendapat sentilan dari telunjuk Andra.


"Lu mulut jangan asal nylangap ya To, belum pernah ngerasain selai jalapeno lu yak?" kali ini Andra me noyor Wanto.

__ADS_1


"Gue mau gunting bulu mata gue, kata orang bulu mata gue kayak cewek, terlalu lentik, gue mau gagah perkasa bukan gagah lentik."


__ADS_2