Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU 42


__ADS_3

"Apa yang mau lu katakan bro?"


"Ehm sorry, kalau gue ganggu waktu lu."


Juned tersenyum masam, pesan yang Andra kirim padanya tentu saja membuat ia mau tak mau harus meninggalkan cafe nya segera.


Rahangnya mengembung keras, buku-buku tanganya pun memutih karena kepalan tangannya yang kencang saat Andra memutar CCTV yang berada di sudut sebrang jalan bengkel Diego.


Salah satu CCTV yang rupanya tak mereka sadari keberadaannya.


"Brengsek, sudah di kasih hati tapi malah minta jantung" umpat Juned dengan dada penuh amarah.


Jika bukan karena rasa kasihan Diego yang rela menerimanya bekerja di bengkel miliknya, meski tanpa memiliki keahlian dalam bidang per bengkelan.


"Lu jangan bilang dulu sama Diego, karena kita belum cukup bukti untuk menjeratnya."


Ucap Andra penuh ke hati-hati an.


"Tapi gue udah yakin kalau itu dia Ndra, gue nggak bakal salah."


Keduanya terdiam sesaat, tak menyangka bahwa orang yang begitu di percaya Diego lah dalang dari petaka yang menimpa bengkelnya.


"Baiklah gue simpan rekaman ini sebagai bukti, di samping itu lu juga harus ikut mencari bukti-bukti lain bro."


Juned mengangguk pasti.


Andra berjalan meninggalkan Juned yang masih dalam amarah bergemuruh di dadanya.


"Lu tenangin diri lu, ingat jangan sampai Diego tahu hal ini, sebelum bukti lain ada di tangan kita" ucap Andra seraya menepuk pundak sahabatnya.


Andra melajukan kendarannya dengan kecepatan sedang.


Untung saja ia memiliki penglihatan ilahi yang bagus, hingga menyadari dengan cepat jika orang yang tertangkap dalam CCTV di sudut jalan yang menghadap bengkel Diego adalah salah satu karyawannya sendiri.


Sungguh tak habis pikir, ada orang yang begitu tega terhadap orang yang sudah menolongnya.


Jika orang yang Diego tolong pun berhianat setelah sekian lama bekerja sama, lalu apa kabar gue yang kini sedang terikat perjanjian kerja sama dengan Zara yang baru gue kenal beberapa hari.


Ah pikir amat, toh kagak ada ruginya gue, batin Andra lagi.


"Eih, kenapa tiba-tiba bayangan tu markoneng muncul?" Andra bermonolog sendiri.


Apa kau juga akan menghianatiku Ra?


Tak ada angin tak ada hujan, hatinya berdesir saat bayangan wajah imut Zara terlintas dalam benaknya.


Bagaimana bisa mengharapkan kesetiaan dari Zara, sedangkan hubungan yang terjalin selama ini hanya sebuah sandiwara yang mereka karang untuk kepentingan mereka masing-masing, dan secara otomatis akan putus dengan sendirinya jika Andra sudah mendapat gadis lain yang sungguh-sungguh ia cintai.


Tapi mengapa memikirkan jika suatu saat akan berpisah, muncul perasaan tak rela yang Andra rasakan.


Andai cerita kita bukan sandiwara, ucap Andra pelan.

__ADS_1


"ishh, aawwh" Andra merutuki kebodohannya yang tak sadar telah menampar mulutnya sendiri.


Langkah Andra memasuki sebuah mall yang tengah mengadakan event perlombaan model cilik.


Banner promosi yang sempat Andra lihat sepintas menarik perhatiannya.


Di lihat dari lokasi yang Zara upload di akun sosmed nya Andra pun menghentikan mobil di area parkiran mall.


Dengan topi hitam Andra melengkapi outfitnya.


Arena event yang memang di laksanakan tak jauh dari area parkir membuat Andra tak harus memasuki mall untuk melihat Zara.


Tak susah mencari keberadaan gadis cantik yang menjadi salah satu juri di acara tersebut.


Tampilan sederhana namun tetap terlihat modis di tubuhnya membuat Zara terlihat tetap mencolok dari juri lain yang juga berprofesi sebagai model.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Andra dapat dengan leluasa melihat semua gerak gerik Zara.


Wajahnya terlihat ceria dengan senyum manis yang selalu menghias bibir tipisnya.


Acara yang hampir usai membuat para juri berkumpul, diskusi penentuan sang juara pun masih berlangsung.


Ketegangan para peserta terlihat jelas dari raut wajah mereka.


Setelah beberapa menit akhirnya pengumuman pemenang di bacakan.


Tepukan para penonton riuh saat akhirnya sang juara di putuskan.


Zara yang tetap ramah melayani sesi foto pun merasa bahagia.


Mata Andra tiba-tiba merasa panas saat salah satu keluarga kontestan yang berumur sekitar tiga puluhan terlihat berusaha mengambil posisi berdekatan dengan Zara.


Tangan Andra mengepal keras kala tangan pria yang mungkin adalah orang tua dari sang kontestan tampak merangkul pundak Zara erat.


Cih tangan lu nyet di kondisikan.


Belum berkurang rasa panas di dadanya, tiba-tiba seorang kontestas meminta Zara untuk berfoto dengannya kembali, yang lebih mencengangkan adalah, anak itu meminta berfoto bertiga dengan pria yang mungkin adakah ayahnya.


Andra bersungut kesal melihat sang fotografer yang memotret mereka dengan memoeragakan gaya bak keluarga kecil yang bahagia.


"Sshhh ckk" bola mata Andra berputar jengah.


Tak ingin melihat mereka berpose yang membuat dadanya panas.


Ish poto sama bini lu aja sih nyet.


Andra semakin kesal karena Zara tetap bersikap ramah pada pria tersebut.


Dasar gampangan.


Andra mengumpat dalam hati, kenapa hatinya begitu gerah melihat kedekatan Zara dengan pria lain.

__ADS_1


Status mereka hanya sebuah drama tapi kenapa dadanya terasa sesak, Andra mulai menyesali keputusannya dulu untuk bekerja sama dengan gadis itu.


Hingga kini ia harus berdiri di antara dua pilihan sulit.


Jika di ibaratkan mungkin saat ini di tangan Andra terdapat buah simalakama.


Andai saja dulu ia berfikir jernih tentu saat ini ia tak akan dilema.


"Kak, kakak seorang model juga ya?" tiba-tiba Andra di kejutkan dengan sebuah suara yang berada di belakangnya.


"Ehm bukan" jawab Andra dingin, meski hati kecilnya di penuhi perasaan berbunga-bunga karena ada yang menganggapnya seorang model.


Wajahku memang tampan.


Sudut bibir Andra terangkat satu.


Gadis itu bersungut dan melangkah menjauhi Andra.


"Huh bukan model aja sombong amat, apalagi kalau beneran udah jadi top model dihh."


Andra mengangkat kedua alisnya saat telinganya masih sempat menangkap umpatan kesal saat gadis kecil itu melangkah pergi.


"Je sewot, biarin sombong, asal cakep."


Andra berucap kesal menumpahkan gemuruh di dadanya.


"Kak Andra, Lagi ngapain di sini?"


"Lagi ngutuk orang, eh ."


Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Hatinya mencelos saat Zara kini memandangnya dengan wajah kebingungan.


"Eh sudah selesai Ra, acaranya? Kebetulan tadi gue lewat, terus mampir deh, mumpung lagi nggak ada kerjaan, kali aja dapet tawaran jadi model brand ambasador" jawab Andra santai membuat Zara tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang putih.


"Apa kakak benar-benar ingin menjadi seorang model, aku punya kenalan seorang angency profesional kak"


"Ehm tidak, aku hanya bergurau, aku paling tidak suka di atur."


Zara memandang Andra sekilas.


Benar kata Andra, Kehidupan seorang model memang penuh dengan aturan dan larang yang selalu melekat di tubuhnya.


Dari soal makanan, baju yang di kenakan sampai merk yang harus di pakai pun harus sesuai dengan perintah agency ataupun klien yang mengontrak jasa mereka.


Dunia yang penuh kebebasan seakan tak tersentuh oleh Zara, dulu saat sebelum menjadi seorang model ia akan bebas memakan apapun jenis makanan tanpa takut akan berefek pada kenaikan berat badannya.


Zara juga bebas memakai apapun yang melekat di tubuhnya tanpa harus sesuai aturan yang harus di taati saat ia terikat kontrak dengan suatu agency atau pun sebuah brand.


Zara menghela nafas dalam.

__ADS_1


Sungguh bahagia kau yang bisa bebas mengekspresikan masa mudamu dengan sepenuh hati, aku terpaksa melakukannya hanya untuk bisa hidup dengan layak.


__ADS_2