Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*113


__ADS_3

Andra mengetuk pintu apartement dengan hati cemas, keterlambatannya menjemput Zara karena ajakan Fitri yang memaksanya untuk mampir dulu ke mansionnya.


Ceklek.


Wajah putih yang masih sedikit pucat muncul dari balik pintu.


Greep.


Andra memeluk erat tubuh sang pujaan, sesal hatinya begitu dalam, andai ia menolak ajakan Fitri, sudah pasti ia tak akan terlambat.


"Maafkan aku sayang" ucap Adra sambil mengecup puncak kepala Zara lembut.


Andra mengurai pelukannya dan memandang tubuh Zara yang tampak sudah rapi dan berganti baju.


"Kau sudah mandi?" tanyanya.


Zara mengangguk ringan.


"Mana Dewi ?" Andra menyapu pandangan ke ruangan apartement dan tak melihat sahabat Zara.


"Dia lembur, mungkin sebentar lagi pulang."


"Ck" Andra mencebik kesal.


"Kenapa Kak,kok kesal gitu muka nya?."


"Nggak apa-apa, aku hanya ingin menikmati waktu berdua denganmu, ayo sini duduk."


Andra menepuk sofa di sampingnya agar Zara duduk di sebelahnya.


Zara pun akhirnya menjatuhkan pantatnya di sisi Andra.


"Kakak mau minum apa?" tanya Zara berusaha menenangkan jantungnya yang kini berdebar kencang.


"Aku nggak ingin minum, saat ini aku hanya ingin memelukmu" kembali Andra merengkuh gadis itu masuk ke dada bidangnya.


Ciuman bertubi-tubi ia daratkan di dahi dan puncak kepala Zara.


Zara merasa bingung dengan tingkah Andra yang tiba-tiba berubah begitu posesif.


"Ada apa sii Kak?"


"Hhhmmm, aku hanya merasa bersalah padamu karena terlambat datang, jadi kamu pulang naik taxi, padahal kamu baru sembuh" jawab andra seraya memandang netra bening Zara.


"Ah nggak apa-apa aku sudah biasa kok" ujar Zara, sebenarnya hatinya pun masih di landa resah, siapa sebenarnya Manu.


Tok tok tok.


Ceklek.


Dewi tersenyum lebar saat mendapati sang sahabat sudah kembali.


Ia pun berlari dan memeluk Zara erat, keduanya saling berpelukan, tinggal Andra yang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ehmm ehmm" deheman Andra membuat peluka keduanya terurai.

__ADS_1


"He hee maaf Kak, soalnya kangen bangeet, oiya Lu udah makan belom?" tanya Dewi semangat karena telah membeli sebungkus nasi goreng kesukaan Zara.


Zara menggeleng pelan karena memang perutnya sudah terasa lapar.


Dewi membuka bungkusan dengan cepat.


"Eh tapi aku cuma beli dua bungkus?"."


"Tidak apa-apa, aku sudah makan" ujar Andra cepat.


Dewi pun tersenyum lalu menyerahkan satu bungkus ke Zara.


Dewi memakan dengan lahap, bekerja seharian di tambah lembur, membuat tubuhnya terasa lelah dan perut pun keroncongan.


Andra merebut piring dari tangan Zara, membuat kedua gadis itu tertegun.


"Kamu habis sakit, biar aku yang suapin aa" Andra menyodorkan sendok ke mulut Zara.


Dewi hanya bisa tersenyum masam, berasa jadi nyamuk di antara mereka berdua.


Dengan sedikit tersipu Zara pun mengunyah nasi goreng kesukaannya.


Beberapa hari makan masakan dari rumah sakit sungguh terasa tak enak, dan nasi goreng itu terasa berkali-kali lebih nikmat saat ini.


Andra tersenyum melihat nasi goreng di tangannya tandas tak tersisa ke mulut Zara.


"Aku mandi dulu ya" ucap Dewi setelah menghabiskan makannya lalu melangkah ke kamarnya.


Zara membereskan sisa makannya ke dapur.


"Kak, apa besok aku boleh mulai bekerja?" tanya Zara ragu.


"Tapi aku bosan di rumah Kak?" rengek Zara.


Andra tersenyum gemas, ingin rasanya ia membopong gadis itu dan membawanya pulang lalu di taruh di kamarnya.


"Besok aku akan jemput sepulang kerja, kita jalan-jalan di taman kota oke?"


Mata Zara berbinar senang.


"Oke Kak" jawabnya penuh semangat.


"Tapi nggak gratis lho ya.." sambung Andra lagi.


"Tenang, aku yang akan traktir Kakak."


"Emang kamu punya banyak uang? Traktir aku mahal lho."


"He hee, ya jangan mahal-mahal lah Kak, kasihanilah aku yang sebatang kara ini, kalau sebatas ketoprak mah, aku masih oke Kak, asal jangan minta bayaran traktir di restoran bintang lima" ucap Zara jujur.


"Siapa bilang aku minta bayaran traktiran?"


"Hah, bukan traktiran, lalu apa?" tanya Zara kaget.


Dengan gerakan cepat namun tetap lembut, Andra merengkuh bahu Zara hingga kini tubuh gadis itu berada dalam dekapannya.

__ADS_1


Netra Andra tajam menatap Zara, di raihnya dagu lancip gadis itu lalu perlahan ia mendaratkan ciuman di bibir tipis Zara.


Ciuman yang Andra lakukan sangatlah lembut membuat Zara terbuai dengan gerakan bibirnya yang menyapu lembut benda kenyal Zara.


Meski masih tampak kaku namun perlahan Zara membalas pagutan Andra hingga senyum tipis pemuda tampan itupun terbit dan mulai memasukan lidahnya untuk mengabsen rongga mulut Zara, keduanya beberapa saat terbuai dengan ciuman panas yang dalam.


Andra pelan melepas ciumannya, di tatapnya wajah putih nan halus dengan tajam, ia pun mengusap sisa salivanya di sisi bibir ranum Zara.


Wajah putih itu pun berubah bak kepiting rebus.


Zara pun menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang kekasih.


Andra terkekeh gemas.


"Kenapa sembunyi sayang" bisiknya di telinga Zara.


"Malu Kak" jawab Zara lirih,sungguh ia baru merasakan sebuah ciuman yang amat memabukan dengan Andra, wajahnya pun terasa sangat panas.


Ceklek.


Bagai murid yang ketahuan menyontek oleh gurunya, keduanya bergerak cepat saling menjauh, Zara tampak salah tingkah dan Andra hanya tersenyum masam.


"Kalian kenapa, kok mukanya kelicutan gitu?" tanya Dewi polos.


"Ah tidak Wi, aku cuma mau pamit, sudah malam, sekarang aku tenang karena sudah ada kamu temani Zara."


Andra pun bangkit lalu mengacak puncak kepala Zara lembut.


"Aku pergi sayang, istirahat lah, tidur yang nyenyak oke, jangan lupa mimpikan aku ...bye" Dewi membulatkan mulutnya mendengar kalimat yang tampak alay dari mulut Andra.


Zara hanya mengangguk pelan dan tersipu malu.


"Ghoeekk" Dewi memperagakan gerakan mau muntah.


"Apaan si Wi."


"Waaahh daebaak, baru tahu gue, kalau Kak Andra seorang alay yang bucin, ah jadi mual perut gue."


Zara mencubit pinggang Dewi dan jeritan Dewi yang melengking memenuhi apartemen.


Senyum terus tersungging dari bibir Andra.


"Manis dan lembut" ucapnya bermonolog sendiri dengan jempol mengusap bibirnya sendiri.


Andra tak mengacuhkan panggilan ponselnya, ia masih sibuk mengingat ciuman panasnya dengan Zara.


Fitri membanting ponsel se atas ranjang besarnya, lima panggilannya tak di jawab oleh Andra.


"Aaaakhhhh" Fitri berteriak kencang, lalu meremas rambutnya yang panjang.


Gadis yang terbiasa hidup manja dan selalu terpenuhi semua keinginanya, begitu murka saat anak buah yang ia perintahkan memata-matai Andra mengatakan bahwa pemuda itu ternyata menjumpai Zara di apartemen miliknya.


Rahang Fitri mengembung, kedua tangannya pun mengepal kencang, buku-buku tangannya memutih, darahnya seakan mendidih.


Ia tak rela jika lelaki yang selama ini ia sukai ternyata bersama gadis lain, yang lebih membuatnya murka, gadis itu sangatlah tak pantas bagi Andra, gadis yatim piatu yang untuk makan sehari-hari pun harus banting tulang.

__ADS_1


Fitri merasa sangat di remehkan, selama ini tak ada yang berani berlomba dengannya karena pastilah ia yang akan menjadi sang juara.


Zara tak pantas untuk Andra, hanya dia lah seorang yang pantas bersanding dengannya, teriak Fitri dalam hati.


__ADS_2