Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*124


__ADS_3

Zara berkali-kali mengerjapkan kedua matanya, berharap angka yang tertera dalam ponsel berubah.


"Van, apa kau tak salah ketik jumlah yang harus aku transfer?" pesan yang Zara langsung kirim ke Revan.


Lama tak ada jawaban Zara pun melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dewi sudah beberapa menit yang lalu pamit pergi.


Dari depan area parkir restoran Andra menyambut Zara dengan senyum manis mempesona,membuat dag dig dug jantung Zara rasanya.


"Pagi sayang" sapa Andra hangat.


"Pagi Kak, tumben pagi-pagi sudah berangkat."


"Hari ini aku khusus berangkat kebih awal agar bisa lebih lama bersamamu berdua."


"Ngapain ?"


"Ish sayangku cintaku negriku...tahukah kau, mengawali pagi berdua dengan sang kekasih bisa membuat moodboster kita jauh lebih baik, lihatlah, aku yang tadi layu kini kembali segar dan penuh semangat saat melihat kedatanganmu."


"Ish gombal."


Drrt drrt.


Zara meraih ponsel di tas selempangnya, dan terlihat nama Revan memanggil.


Andra yang sempat melihat dari sudut matanya menjadi jengah, untuk apa mantan Zara mrnghubunginya pagi-pagi, ia membatin.


"Ohh kalau begitu aku hanya perlu transfer segitu aja nih" tanya Zara pada Revan.


"Ayo Kak, kita masuk" ajak Zara setelah panggilan berakhir.


Tanpa menjawab, Andra melangkah mengikuti Zara dengan bibir terkatup rapat dan darah panas.


"Aku mau sarapan dulu Kak, apa Kakak mau gabung? Kebetulan Dewi tadi buat bekal cukup banyak."


Andra menggeleng pelan lalu melangkah menuju dapur restoran tanpa berucap sepatah kata pun pada Zara.


"Ish kenapa sii itu orang, moodnya nggak jelas" Zara bemonolog sendiri.


Lalu Zara meneruskan makannya hingga habis.


Salah satu karyawan datang membawa segelas jus jeruk hangat dan di berikan pada Zara.


"Dari Den Andra Non" ucap sang pelayan.


"Orangnya mana Pak?"


"Ada di dalam ruangannya Non."

__ADS_1


"Oiya terima kasih Pak" pria paruh baya itu pun mengangguk lalu pegi meninggalkan Zara.


Para mengunjung mulai berdatangan, baik yang untuk sekedar sarapan atau pun menikmati kopi pagi.


Sesekali Zara mengedarkan pandangan mencari sosok Andra namun ia harus menelan kecewa, Andra seakan mengunci dirinya di ruang pribadinya.


Tak terasa waktu kerja sudah tinggal beberapa menit lagi, Zara sungguh tak habis pikir, Andra menghilang tanpa jejak setelah menyambutnya dengan rayuan dan gombalan manis, ternyata semua itu hanya di mulutnya saja.


Tiba di parkiran Zara mengambil kunci mobilnya dari dalam tas namun sebelum ia memasuki mobil, Andra dengan gesit lebih dulu membuka pintu di samping kemudi setelah menyambar kunci di tangan Zara dan dengan santai duduk di depan kemudi.


"Kak, apaan sii, aku mau pulang" ucap Zara, masih kesal hatinya, sehari di diamkan oleh Andra.


"Aku yang bawa, kau lewat pintu kiri" titah Andra penuh nada penekanan.


"Tapi Kak, aku ada urusan dulu sebentar" Zara memang harus pergi ke rumah Nyonya Suzana untuk mengerjakan projek endorse an.


"Akan aku antar kemana pun kau ingin."


Zara mendengus kesal.


Tadi cuek, sekarang berubah, apa sii maksudnya, ujar Zara dalam hati.


Akhirnya mobil pun menuju ke mall di mana Dewi bekerja, sesuai rencana, setelah pulang dari kerja mereka harus ke rumah Nyonya Suzana.


Zara melambai ke arah Dewi yang baru keluar dari gedung mall.


Dengan lari kecil Dewi menuju mobil.


"Heum, kalian mau kemana sore ini?"


"Kita ke Jl.mawar no.27 Kak."


"Rumah siapa itu?"


"Dia klien baru kita, seorang pemilik toko perhiasan meng endorse Zara, dan sekarang kita akan ke rumahnya."


Andra manggut-manggut.


Mobil menepi di alamat yang Dewi katakan.


Rumah besar nan megah bergaya klasik modern berdiri kokoh.


"Waah ini mah istana namanya, bukan rumah" ucap Dewi takjub.


Zara pun mengangguk menyetujui.


"Coba dulu tanya satpamnya Wi, apa benar ini rumah Nonya Suzana."


Dewi pun keluar menanyakan satpam penjaga gerbang.

__ADS_1


Andra melajukan mobil memasuki gerbang rumah tersebut setelah Dewi memberi aba- aba bahwa itu benar alamat yang di cari mereka.


Dengan panduan seorang pelayan yang menyambut, mereka masuk ke ruangan luas nan megah, furnitur serba lux tertata rapi dan cantik.


Zara dan Dewi beberapa kali berdecak kagum interior rumah itu semua serba indah dan mewah, untuk memegang saja enggan bagi keduanya, beda dengan Andra yang tetap tenang dan datar.


Ketiganya melangkah ke sebuah bangunan paviliun mungil namun elegan yang terletak di sebelah kolam renang di belakang bangunan utama.


Rupanya sang tuan rumah sudah menyiapkan semua peralatan dan studio yang akan mereka gunakan.


Paviliun terasa sejuk dan asri, beberapa pohon rindang di tepi kolam dengan kursi kolam berjejer dua.


Suasana sore yang cerah membuat keduanya seakan di bawa ke negeri entah berantah, jika di luar sana terdengar hiruk pikuk suara klakson kendaraan berlalu lalang, juga polusi udara yang nenyesakan paru-paru, namun di taman ini sungguh hening dan asri.


Dewi dan Zara duduk di tepi kolam, sementara Andra masih berjalan santai mengelilingi bangunan paviliun.


Dua pelayan datang mengantarkan kue camilan dan minuman dingin.


"Silahkan Nona dan mas di minum, mungkin lima belas menit lagi Nyonya akan datang."


"Terima kasih Bi" jawab keduanya bersamaan.


Langkah Andra terhenti di depan pintu masuk bangunan rumah yang kebetulan terbuka, sebuah poto keluarga terpasang di dinding ruangan.


Dan tatapannya fokus ke arah foto, terlihat satu keluarga yang terdiri dari Ayah ,Ibu dan dua orang anak yang semua lelaki, dan satu yang membuat Andra semakin menajamkan indra penglihatannya.


Sosok berwajah tampan setengah bule yang sangat mirip dengan sosok pria teman Zara yang bernama Manu.


Meski foto tersebut di ambil saat pria yang mirip Manu itu saat masih remaja namun andra bisa mengenali dengan baik.


"Wah maaf yaa...kalian sudah nunggu Tante lama" suara terdengar dari seoramg wanita cantik yang keluar dari rumah utama.


Zara dan Dewi bangkit dan mengangguk hormat lalu bersalaman, Andra pun mendekat untuk menyapa sang Tuan rumah.


Wanita cantik yang selalu tersenyum ramah itu terlihat sangat hangat, meski dari kalangan atas dan berpunya tapi sikapnya sungguh membuat Dewi dan Zara merasa nyaman.


"Tante sangat senang akhirnya kamu mau bekerja sama dengan Tante, Zara."


"Ah Tante seharusnya saya yang berterima kasih karena Tante sudi memakai saya untuk produk milik Tante itu, saya sangat tersanjung dan terhormat mendapat kesempatan ini Tante" sahut Zara.


"Ah andai saat ini anak Tante masih ada tentu seumuran dengan kalian" ucap Suzana dengan mata menerawang.


Zara dan Dewi saling pandang.


"Ah maaf Tante, jika keberadaan kami membuat Tante menjadi sedih dan teringat putra Tante yang telah tiada."


Zara menyikut Dewi lirih.


"Ah sudahlah, kita mulai saja sekarang."

__ADS_1


Suzana rupanya sudah menyiapkan semua dengan lengkap, studio, baju bahkan MUA pun ia sediakan, ia ingin saat pengambilan gambar nanti, Zara akan terlihat mempesona dengan perhiasan dari produk miliknya.


__ADS_2