
Andra tersenyum smirk, sekembalinya dari mengantar sang kekasih, karena sempat ia mendaratkan ciuman ringan di puncak kepala Zara, gadis yang pernah membuat 'adik'nya cenat-cenut.
Jangan baper Ndra, dia senyum bukan karena senang, dia emang gadis ramah Ndra, mana mungkin dia baper hanya karena kecupan di dahi, sadaar, mantannya banyak bro, lu adalah pria yang kesekian kali cium keningnya, Batin Andra kini berperang sengit.
Hati Andra tergelitik saat Diego terus menatap ke arah Zara bahkan saat gadis itu berpamitan.
"Gue cabut dulu bro, mau jemput mommy di butik"ujar Andra sambil mengambil kunci mobil di atas meja.
"Hmm hati-hati di jalan bro"ujar Juned.
"Lu nggak mau bareng Go?"Andra ber alih ke Diego yang asik dengan ponselnya.
"Gue ntar aja"balas Diego hanya melambaikan tangan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Sepeninggal Andra, Juned mendekatkan wajahnya ke arah ponsel Diego, rasa penasaran membuatnya ingin tahu apa yang membuat wajah sahabatnya itu terus tersenyum saat melihat ponsel di tangannya.
Mata Juned membelalak saat dengan jelas melihat wajah cantik terpampang di layar.
"Waaahh, gila lu, milik sahabat mau lu embat juga"ujar Juned mengagetkan Diego.
"Ck, gue cuma nge fans aja sama dia, kagak bakal gue ganggu kok"ujar Diego dengan senyum masam.
Sempat ia memotret Zara secara sembunyi saat gadis itu tengah asik mengobrol tadi.
Kalau nggak kepeped siii.
Ujar Diego namun hanya dalam hati ia berkata lirih.
"Udah lah, lu mending cari cewek lain gih, banyak di luar sono nohh gadis-gadis cantik"Juned berucap bijak, sebelum perasaan terlanjur dalam, lebih baik sudahi secepatnya agar tidak menjadi masalah besar nantinya, pikir Juned.
Diego tersenyum tipis, sekian lama mengagumi Zara dengan segala kelebihan dan kekurangannya, terlalu berat rasanya jika harus menghapus dari hatinya.
Namun Diego juga tak mau egois, ia bersahabat dengan Andra sudah bertahun-tahun, tak mungkin jika ia merebut kebahagiaan sahabatnya itu.
"Gue cabut dulu bro"ujar Diego setelah meneguk minuman, lalu meraih kunci mobil kesayangannya.
"Hmm, ati-ati di jalan bro".
"Siip".
Juned memandang kepergian Diego, tak mungkin ia memihak salah satu di antara mereka hanya karena seorang gadis.
Melihat Andra kembali bersemangat Juned merasa senang dan itu terjadi sejak Andra tiba-tiba tak ada angin tak ada hujan, memplokamirkan bahwa saat ini sedang menjalin hubungan dengan gadis model itu.
Begitupun Diego, meski berucap hanya sebagai seorang fan, namun sikapnya menunjukan bahwa hatinya pun menaruh rasa pada Zara.
__ADS_1
Sementara itu, di apartemen lantai sembilan.
Dewi memandang Zara yang baru pulang.
Tak biasanya berwajah lesu dan tak bersemangat.
"Kenapa Ra?"tanya Dewi lalu bangun dari sofa dan menuntun Zara yang kini terlihat pucat.
"Duduklah, gue ambilin minuman hangat dulu"Dewi dengan langkah tergesa lalu melangkah ke ruang makan mengambil segelas air hangat.
"Nih cepat minumlah, lu habis dari mana, lihatlah badan lu keluar keringat dingin"Dewi meraba kening Zara yang mengeluarkan keringat dari pori-porinya.
"Nggak tahu gue, semoga gerd ku nggak kambuh"jawab Zara setelah meneguk segelas minuman hangat.
"Obat buat lambung lu taruh di mana Ra?"tanya Dewi panik.
"Di laci lemari rias gue"ucap Zara dengan suara lemah.
Dewi bergegas mencari obat lambung di laci kamar Zara.
"Ayo cepat minumlah"ucap Dewi sambil menyodorkan obat dan segelas air.
Zara lalu membaringkan tubuhnya di sofa panjang dengan perlahan.
"Apa kita ke rumah sakit aja Ra, aku takut nanti akan semakin parah"ujar Dewi sambil memijit telapak kaki Zara yang terasa dingin.
Drrt drrtt.
Dewi melihat ponsel lalu kembali menaruhnya di atas meja setelah mengirim pesan.
"Ra pindah ke kamar aja yuk, di sini dingin"ujar Dewi, namun Zara kembali menggelengkan kepalanya.
Dewi hanya dapat menghela nafas panjang.
Kasihan kau Ra, berjuang keras untuk bertahan hidup, namun kau masih memperdulikan orang lain yang kesusahan, tanpa kau hiraukan tubuh lemahmu, batin Dewi lirih.
Andai Zara tahu jika yang menghubunginya adalah seorang yang ingin meng endorse salah satu makanan yang berasal dari negeri ginseng tentu Zara akan langsung meng iya kan tanpa menghiraukan kondisi tubuhnya.
Zara selalu menerima apapun ondorse an hanya demi agar pundi-pundi rekeningnya terus bertambah, dengan begitu ia dapat membantu keluarga om Ikhsan membiayai adik-adik angkatnya.
Zara merasa sangat berhutang budi setelah om Ikhsan mau menampungnya di kala ia sebatang kara.
Tak pernah Zara absen mengirim sejumlah uang pada tante Echa istri dari Ikhsan.
Zara ingin membalas kebaikan yang telah Ikhsan berikan.
__ADS_1
Tak jarang Zara mendatangi langsung keluarga itu untuk memberikan uang bulanan dan beberapa hadiah untuk adik-adik angkatnya, kebaikan Zara membuat keluarga Ikhsan begitu menyayanginya.
Dewi dapat bernafas lega saat suara halus terdengar dari mulut Zara dan nafasnya pun kini teratur.
Keringat dinginpun berhenti keluar dari keningnya.
Tidurlah dengan tenang Ra, untuk sejenak biarkan ragamu istirahat, simpan tenagamu tuk hari esok, kita akan selalu berjuang bersama.
Dewi memandang Zara dengan iba, lalu menutup tubuh langsing itu dengan selimut.
Kembali di bukanya layar laptop dan kembali membalas beberapa komentar para fans Zara di akun media sosial, yang ia posting tentang warung Ceker Bledeg milik bu Ayu.
Rupanya omset penjualan bu Ayu meningkat setelah masakan Ceker Bledeg miliknya di review oleh Zara.
Dewi tersenyum senang saat melihat notifikasi transferan yang di kirim oleh bu Ayu sebagai bonus tambahan karena jualannya melonjak drastis.
Namun kini Dewi berubah mencelos saat mendapat pesan dari pemilik kedai makanan ala negri ginseng kembali menghubunginya.
Dewi bukannya pilih-pilih endorse an, tapi kondisi Zara saat ini tak memungkinkannya untuk menerima tawaran me review makanan yang rata-rata menyiksa lidah dan lambung.
Jika mereka tak memodifikasi makanan tersebut tentu masih aman bagi lambung Zara, namun rata-rata para penjual akan memodifikasi masakannya menjadi berciri khas lidah orang indonesia yang sebagian besar bersahabat akrab dengan cabai level set**.
Lambung Zara akan rusak jika terus-terusan di cekoki makanan berbumbu pedas menyengat itu.
Dasar maunya enak aja lu, cari aja sana artis atau model lain yang mau lambungnya hancur gara-gara makanan level gila mu, umpat Dewi kesal.
"Ada apa sih Wi?"suara serak Zara terdengar bagai guntur di telinga Dewi.
Sontak matanya membulat.
Gawat nih kalau dia denger gue ngoceh duhh.
Gumam Dewi panik.
"Ehm nggak Ra, tadi ada koment ngawur"ujar Dewi lalu mematikan laptopnya.
Dewi beranjak mendekati Zara, lalu meraba kening sahabatnya.
"Udah dingin, syukurlah".
Zara bangun dari sofa lalu duduk termenung.
"Ehm bagaimana laporan minggu ini Wi?".
Glek.
__ADS_1
Dewi menelan salivanya.
Untung dia nggak tahu, kalau dia sampai tahu kalau gue nolak salah satu endore an, wahhh gawat nih, bisa puasa tiga minggu, gumam Dewi dengan wajah panik.