
Entah jam berapa Zara dapat memejamkan matanya tadi malam.
Pukul lima pagi Zara bangun setelah alarm yang di setelnya berbunyi nyaring.
Setelah membersihkan diri dan menunaikan kewajiabnnya, Zara ke luar dari kamarnya.
"Wi, keluarga lu kapan datangnya, kita harus berangkat."
"Kita berangkat sekarang saja Ra, keluargaku menunggu di kampus nanti."
Zara mengangguk lalu krmbali ke kamarnya untuk menyempurnakan penampilannya.
Keduanya pun berangkat dengan di iringi lirikan dari para penghuni apartemen yang kebetulan berpapasan.
"Sst itu bukannya Zara, model terkenal itu?"
"Iya benar itu Zara" jawab pengunjung lain.
Itulah kenapa Zara jarang keluar apartemen di pagi hari di kala waktu sibuk, karena saat itulah penghuni apartemen yang rata-rata karyawan akan keluar untuk berangkat bekerja.
Dengan kecepatan sedang Zara melajukan mobilnya membelah padatnya lalu lintas, dan beruntungnya mereka karena belum terlalu macet.
Suasana kampus sudah terlihat ramai, gedung tempat di laksanakan upacara wisuda pun sudah di hias dengan cantik.
Panitia menghimbau pada seluruh peserta mahasiswa yang akan di wisuda untuk sudah berada di tempat tiga puluh menit sebelum acara di mulai.
Wajah penuh bahagia terpancar di setiap peserta.
"Ra, lu lihat tuh Ismi, bahagia banget kayaknya" bisik Dewi saat melihat salah satu mantan sahabatnya terus tertawa bercanda dengan yang lain.
Zara tersenyum masam, hanya karena seorang player, jalinan persahabatan mereka akhirnya hancur.
"Sudahlah Wi, jangan rusak hari bahagia ini dengan mikirin hal yang nggak guna." jawab Zara santai.
Dewi pun mengangguk patuh lalu ia pun kembali menyimak sambutan dari Dekan dan para petinggi kampus.
"Wi, di mana ayah dan ibu mu?" tanya Zara antusias setelah acara inti selesai.
Dewi melihat di barisan kerumunan, berharap keluarganya benar-benar datang, meskipun harapan itu tipis, namun senyum manisnya terbit saat matanya menangkap lambaian tangan dari adik-adiknya yang berada di kerumunan paling luar.
Meski hatinya miris namun rona bahagia terpancar dari mata Dewi yang melangkah menuju kedua orang tua dan adik-adiknya, di iringi Zara yang mengikuti di belakangnya.
Pelukan haru dari sang ibu, membuat isak tangisnya keluar, tangis bahagia setelah berhasil melewati perjuangan penuh darah dan air mata, akhirnya Dewi berhasil menjadi seorang sarjana seperti impian kedua orang tuannya.
Ke tiga adiknya pun memeluk erat kakak sulung mereka tersayang.
Zara yang hanya berdiri menyaksikan momen penuh haru keluarga sahabatnya itu.
__ADS_1
Matanya kini ber embun, mungkinkah kak Andra tidak jadi datang ke kampus ini, batinnya lirih.
Zara mengangguk hormat lalu menyalami kedua orang tua Dewi, ketiga adiknya tampak memandang Zara dengan penuh kagum.
"Kakak cantik" ucap adik terkecil Dewi dengan polos.
"Terima kasih sayang, kamu juga cantik dan manis" Zara berucap sambil mencubit lembut pipi anak kecil tersebut.
"Selamat siang, apa kami mengganggu?" sapa hangat Andra dengan tangan menggandeng Maharani.
Zara membalikan tubuhnya dan senyum manisnya merekah.
"Ku kira kakak tak jadi datang" ucap Zara yang mendapat tatapan tajam dari andra.
Maharani mengerutkan kedua alisnya mendengar panggikan aneh yang Zara sematkan pada sang putra.
"Tentu saja aku pasti datang ..babe."
Andra sedikit menekan nada tinggi pada kata 'babe' membuat Zara jengah.
Ups, mati aku, semoga tante tak begitu memperhatiakan ucapanku, batin Zara.
"Maafkan kami Ra, tadi mommy kontrol dulu jadi datang ke sininya telat."
Maharani memegang kedua tangan Zara dengan wajah penuh sesal.
"Tak apa tante, kalian sudah mau datang pun sudah sangat membuat aku bahagia, terima kasih tan."
Maharani mengurai pelukannya, matanya membulat terkejut.
"Kenapa kau menangis sayang hum?"
Zara menggeleng.
"Kenapa nangis babe? Seharusnya kau tertawa di hari bahagiamu ini, perjuanganmu selama ini akhirnya membuahkan hasil, impian dan cita-citamu yang menjadi tukang sarjana berhasil."
Zara tersenyum sambil mengusap air matanya.
"Oiya tan, kenalin ini teman se kamarku dan keluarganya."
Dewi dengan semangat maju dan menyalami Maharani, desainer terkenal yang ia idolakan.
Maharani pun mengangguk hormat lalu menyalami semua keluarga Dewi.
Begitupun andra, ikut menyalami kedua orang tua Dewi dan adik-adiknya.
"Apa acaranya sudah selesai Ra? Kita makan dulu yuk, ajak juga temanmu dan keluarganya, kita makan ber ramai-ramai" ucap Maharani.
__ADS_1
"Ehm maaf tante, terima kasih banyak atas tawarannya, tapi sepertinya kami tidak bisa ikut kalian, ayah dan ibu akan langsung pulang sore ini, jadi kami harus bersiap dulu di apartemen." Dewi menolak halus, tak enak hati rasanya jika ikut memboyong semua keluarganya yang berjumlah banyak untuk ikut mereka.
"Ohh, ya sudah kalau begitu kami pamit dulu ya Wi."
Dewi mengangguk pasti.
"Wi, Zara gue bawa dulu ya" Andra menimpali.
"Siip kak, jaga baik-baik, jangan sampai ada sehelai rambut pun yang hilang" pinta Dewi.
"Siipp, akan ku jaga tuan putri Zara, dengan segenap jiwa ragaku" Andra berucap penuh diplomatis.
Zara meninggalkan kampus dengan tangan memegang erat Tangan Maharan.
Sepasang mata dengan air bening keluar dari sudut mata yang keriput, memandang kepergian Zara dari tempat tersembunyi.
Rasa sesak dadanya bagai batu besar yang menindih tubuh renta nya, berulang kali ia mengambil nafas panjang dan menghembuskan perlahan, entah sampai kapan ia dapat menahan rindu yang tiada tara pada gadis kecilnya.
Ayah ibu Dewi terlihat begitu kaget saat putrinya bisa mengemudikan mobil Zara, begitupun ketiga adiknya yang antusias karena baru pertama kali naik mobil pribadi bersama satu keluarga.
"Wi, apa temanmu itu tidak apa-apa jika kau bawa mobilnya?"
"Tenang bu, dia temanku paling baik, dia yang telah menampungku tidur dan makan gratis di apartemennya bu, jadi aku sangat berhutang banyak padanya, bahkan mungkin aku tak bisa membayarnya sampai kapanpun." terang Dewi.
"Waah sudah cantik, baik hati lagi, beruntung kau memiliki sahabat seperti dia Wi, kapan-kapan ibu akan buatin kue buat dia."
Dewi mengangguk haru, memang Zara adalah malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirim untuknya.
"Tante, apa tante sudah benar-benar sehat?aku takut tante akan cape lagi."
"Tidak Ra, kata dokter tante sudah pulih sepenuhnya, bahkan tante di anjurkan untuk me refreshingkan otak tante, jadi tante harus perbanyak hiling."
Zara tersenyum lega.
"Kita ke mana mom?"
"Ehm bagaimana kalau ke cafe temanmu saja, J ju...siapa Joy, mommy lupa?"
Andra terkekeh.
"Juned mom."
Mobil sedan hitam itu pun meluncur ke arah cafe Juned.
Maharani memandang cafe sederhana yang tak terlalu besar namun terlihat ramai oleh pengunjung.
Keduanya memasuki ruangan cafe bagian dalam, di mana biasanya Andra berkumpul dengan ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Wajah yang tadi berseri sepanjang hari, kini berubah bermuram durja.
Terlihat dua sahabatnya sedang asik berbincang dengan pria tampan yang sungguh tidak Andra sukai, Revan.