Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *30


__ADS_3

Sebelum baca jangan lupa goyang jempol dulu ya cyiint... like, koment dan vote jangan lupa...


Happy reading.😘😘😘


💦💦💦💦💦💦


Aku ingin begini


Aku ingin begitu


Ingin ini


Ingin itu banyak sekali


Semua


Semua


Semua


Dapat di kabulkan


( ada nggak readers yang bacanya pake nada 😍😍😍)


******


Alarm berbunyi lagu dari kartun kucing tanpa ekor itu membangunkan Andra, lalu mematikan ponselnya dengan cepat.


Langkahnya bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badan, tak membutuhkan waktu lama bagi Andra, memiliki paras rupawan membawa keberuntungan baginya, salah satunya waktu mandi lima menit pun tak akan mengurangi kadar ketampanan wajahnya.


Di sambarnya kunci mobil sedan hitam kesayangan, meski udara pagi masih terasa di kulitnya, Andra melajukan mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalan ibukota.


Sengaja Andra berangkat pagi karena tak ingin terjebak dengan kemacetan yang sudah mendarah daging di kota ini, kota kelahirannya yang dua tahun ia tinggalkan.


Untunglah pagi ini keberuntungan berpihak padanya.


Jalanan yang masih lancar, hingga tak membutuhkan waktu lama baginya untuk sampai di sebuah restoran besar milik sang mommy.


Dengan berbekal map berisi data lengkap tentang kondisi restoran besar miliknya yang terlihat sepi.


Andra kini memasuki bangunan luas dengan ruangan yang berisi kurang lebih sepuluh meja berbentuk bundar dengan kursi berbahan kayu di sekelilingnya, lampu-lampu besar yang menggantung di atas setiap meja pun terbuat dari kayu furniture yang sebagian besar dari bahan alami yang tentunya berkualitas tinggi.


Begitupun dengan peralatan masak yang di miliki restoran ini begitu lengkap, dari alat yang masih tradisional maupun sudah bertehnologi tinggi.


Andra membalas anggukan para karyawan yang melihat kedatangannya.


Seluruh ruangan restoran tak ada yang di lewatinya, semua Andra lihat dan amati dengan seksama, sama sekali tak ada kesalahan yang membuat restoran ini sepi dari pengunjung.


Semua bahan makanan yang di pakai para koki selalu segar begitupun peralatan yang di pakai, mereka selalu menjaga kebersihan juga ke higienisannya.

__ADS_1


Beberapa jam berada di restoran tanpa melakukan aktifitas lain sungguh membosankan bagi Andra, namun ia sudah bertekad akan mulai terjun ke dunia bisnis meneruskan usaha yang mommynya rintis.


Dapat Andra hitung, pengunjung yang datang menikmati sarapan pagi, hanya ada beberapa yang mampir ke restoran besar ini.


Para karyawan juga tampak selalu memperlihatkan sapaan dan senyum ramah untuk menyambut para pengunjung, jadi sambutan dari pelayan tentunya bukan menjadi alasan para pengunjung segan mendatangi restoran ini, karena mereka memperlakukan semua pengunjung layaknya seorang raja.


Andra menghela nafas panjang.


"Bro lu dah makan lom?, makan yok di xx"pesan Andra pada Juned alias Zain.


"Sorry bro, gak bisa, cafe gue nggak ada yang jaga, bentar lagi buka" tolak Juned.


Ngapain makan di resto orang lain, punya sendiri lebih enak-enak makannanya, dasar orang aneh, pikir Juned.


"Besok aja Ndra, bengkel gue nutup malam, ada customer yang pingin selesai hari ini juga" kali ini Diego pun menolak juga.


Andra melangkahkan kaki keluar dari restoran dan melangkah menuju sedan hitam miliknya yang terparkir di belakang restoran.


"Tuan tidak makan siang dulu?" teriak salah satu koki yang menyadari bahwa tuan muda nya dari pagi sama sekali belum makan apapun.


Andra menggelengkan kepalanya.


"Saya mau makan di luar pak" terangnya sambil memanaskan mesin mobil.


Sang koki hanya termenung dengan wajah suram.


Apa masakanku sebegitu tak enaknya hingga ia pun memilih makan di luar, sedangkan semua hidangan di restoran miliknya begitu mewah dan mahal, batin sang koki.


Entah bagaimana otaknya yang tak sinkron dengan kedua tangannya, atau memang Andra yang tengah melamun.


Kereta besi itu kini sudah berada di lobi sebuah apartemen di mana Zara tinggal.


Haisstt napa ni mobil malah jalan ke sini, Andra merutuki kebodohannya yang secara tak sadar melakukan mobil ke arah bangunan gedung tinggi itu.


Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal, pandangannya mengarah ke lift.


Apa jam segini dia di dalam yah?, gumam Andra.


Ah tanggung, sudah terlanjur basah, mending mandi sekalian, pikir Andra lalu keluar dari sedan hitam kesayangannya.


Drrt drrt.


"Ra kamu di mana?"pesan yang Andra kirim pada Zara.


Lebih dari sepuluh menit tak ada jawaban dari Zara.


Ish pantas saja sepi, dia nggak on, batin Andra.


Terpaksa Andra meninggalkan lobi apartemen, karena untuk naik ke lantai di mana apartemen Zara rasanya enggan.

__ADS_1


Sudah lebih dari empat puluh lima menit Andra memutari kota tanpa tujuan pasti dan perut yang belum terisi pun membuatnya membelokan kemudi di depan sebuah warung makan sederhana yang terletak di pinggiran kota.


Meski sederhana namun terlihat suasana yang penuh kehangatan.


Sebuah home band tengah asik memainkan musik mengiringi sang vokalis yang menyanyikan lagu yang sedang viral.


Interaksi sang vokalis yang ramah dengan pengunjung membuat mereka terlihat akrab tanpa jarak.


Bahkan beberapa pengunjung yang kebanyakan masih muda tampak ikut bergabung bernyanyi ke atas panggung.


Sorak-sorai dari pengunjung kian ramai dengan saweran yang di lakukan oleh salah satu pengunjung berpakaian resmi, mungkin salah satu pekerja kantoran, karena setelan jas yang di pakai bukan jas berbahan biasa.


Andra hanya diam menikmati hidangan di atas piringnya dengan pandangan fokus ke para pemain homeband yang terlihat santai menghibur pengunjung namun alunan petikan gitar dan suara merdu sang vokalis membawa suasana makin ramai.


Tepukan para pengunjung yang merasa puas bahkan ada beberapa yang minta untuk request untuk menyanyikan lagu viral lainnya.


Meski homeband kecil namun kemampuan mereka tak kalah jika di bandingkan dengan band terkenal yang biasa tampil di televisi.


Andra tampak begitu menikmati suasana di rumah makan sederhana tersebut hingga tak terasa waktu menunjukan pukul delapan malam.


Rangga menatap ke sekeliling restoran dan melihat jalanan yang sudah terang dengan lampu warna-warni.


Andra bergegas pergi setelah membayar tagihannya.


Senyum pelayan mengiringi Andra setelah pria berwajah baby face itu memberinya uang tip cukup lumayan.


Drrt drrt.


"Heuum, okey tunggu bentar lagi gue datang".


Andra melajukan mobilnya ke arah apartemen Diego, setelah sahabatnya meminta untuk datang ke apartemennya.


Langkah Andra memasuki lobi apartemen, lalu menuju ke lift.


Andra memasuki ruang lift yang tampak masih kosong, namun teriakan wanita paruh baya memintanya untuk menahan pintu lift agar tidak menutup.


Nafas yang naik turun membuat pemuda teringat akan mommy Maharani, mungkin umurnya tak jauh berbeda dengan wanita yang kini berusaha mengatur nafasnya karena berlari mengejar lift agar tak tertinggal.


"Maaf ibu mau ke lantai berapa?" tanya Andra yang menyadari wanita paruh baya itu belum memencet tombol lantai tujuan.


"Ehm, lantai sembilan, terima kasih" jawabnya dengan senyum ramah setelah Andra memencet tombol sembilan.


Sekilas Andra melirik ke wanita yang kini berdiri di sampingnya.


Dari pakaian yang ber merk dengan jinjingan tas branded tak salah lagi, wanita itu pasti seorang sosialita, seperti penampilan para ibu-ibu yang selama ini Andra lihat saat mommy nya sedang berkumpul dengan teman-temannya.


Meski kulit yang sudah tampak keriput namun kecantikan wajahnya masih terlihat jelas.


Ting.

__ADS_1


Andra membalas anggukan ramah wanita sosialita tersebut saat ia keluar dari ruang lift.


__ADS_2