
Sore pun menjelang cepat, Manu yang telah menyelesaikan semua tugasnya bergegas pulang untuk menjemput bos besar di rumah sahabatnya.
Informasi yang ingin segera ia sampaikan pada Gunawan tentang berita terbaru putrinya.
Dengan kecepatan sedang akhirnya rumah sederhana Nardi pun tampak.
Setelah memarkirkan mobil Manu memasuki halaman kebun samping rumah Nardi, karena ia melihat kedua pria baruh baya sedang duduk santai menikmati teh sore hari.
"Duduklah, kau tak ada acara saat ini kan?" tanya Gunawan pada sang asisten.
"Tidak Tuan" jawab Manu singkat lalu mengambil tempat di sebelah sang bos.
"Bagaimana kabar terbaru putriku?, apa dia sudah pulang dari Rumah Sakit?."
"Kepulangan Nona Zara batal hari ini Tuan, ada kejadian kurang menyenangkan yang terjadi tadi malam, hingga kesehatannya kembali menurun" jelas Manu.
Gunawan memandang sang asisten dengan tajam, informasi se penting ini kenapa asistennya baru mengatakan sekarang, pikirnya.
"Kenapa baru kau katakan?."
"Maaf Tuan se.."
"Bagaimana dia akan mengatakannya padamu sedangkan kau baru sadar beberapa menit yang lalu."
Nardi menimpali Manu, masih kesal hatinya saat tengah malam pintunya rusak gara-gara di tendang orang mabuk.
Gunawan melirik sekilas ke Nardi kesal, namun ia pun tak bisa menyalahkannya karena memang seperti itulah kenyataanya.
"Apa yang membuat nya kembali drop?"
"Ehm ada Nyonya Reni yang mengunjungi Nona Zara."
Gunawan memandang tajam sang asisten.
Dengan jantung berdebar akhirnya Manu menceritakan kedatangan Reni yang ternyata untuk memohon maaf pada Zara setelah semua apa yang di perbuatnya.
Gunawan menghela nafas panjang, Reni pun Zara tolak apalagi dirinya yang memiliki andil paling besar penyokong dosa pada Zara dan ibunya.
"Apa kau bawa baju ganti untukku?"tanya Gunawan, tubuhnya terasa lengket dan gerah setelah tidak mandi dari pagi.
Manu menggeleng jujur, karena memang ia dari kantor langsung ke tempat itu.
"Ayo lah kita pulang sekarang, lengket badanku" ujar Gunawan lalu bangkit.
"Kalian makanlah dulu, isi perut kalian, aku sudah masak banyak" ucap Nardi sambil melangkah ke dapur.
Gunawan tersenyum lebar, dengan semangat ia melangkah ke ruang makan sambil tak lupa mengedikan dagunya ke Manu agar mengikutinya.
__ADS_1
Ketiga pria itu tampak lahap memakan hasil masakan Nardi.
Hanya masakan sederhana namun entah ramuan apa yang Nardi gunakan hingga rasanya sangat enak di lidah, menu masakan rumahan namun bercita rasa restoran berbintang-bintang.
Meski sudah biasa Gunawan dan Manu makan di hotel namun masakan Nardi selalu mendapat tempat istimewa di lidah keduanya, dan hati Gunawan pun kembali riang, sungguh tangan Nardi merupakan hadiah dari surga untuknya.
Ia bisa saja membangun sebuah rumah makan karena keahliannya dalam hal memasak, namun Nardi seakan tak tertarik pada tawaran Gunawan yang ingin memberinya modal untuk buka usaha.
Nardi memiliki cita-cita yang tidak muluk-muluk.
Ia hanya ingin hidup damai di hari tua nya.
Sementara itu, Andra tengah melajukan mobilnya menuju cafe Juned.
Kepulangan Zara terpaksa tertunda karena insiden kemarin, Zara yang kembali turun tekanan darahnya karena kedatangan Reni yang tak terduga membuat Dokter Wisnu mengurungkan mamberi ijin pada Zara untuk pulang.
Juned melambai dari dalam ruangannya, Andra celingak-celinguk mencari sahabatnya satu lagi.
"Mana Diego?."
"Belum datang."
"Dasar lelet."
"Kan dia sekarang karyawan bro, ya pulang harus sama seperti yang lain dong."
Juned membela Diego.
"Heum" jawab singkat Andra, tak ingin memperpanjang urusan.
"Noh Zubaedah datang" tunjuk Juned dengan dagunya ke arah Diego yang berjalan ke arah mereka.
Ketiganya saling beradu kepalan tangan.
"Minum apa Lu?" tanya Juned pada Diego.
"Eh sialan, teman macam apa Lu, pilih kasih, gue yang dari tadi datang malah dia duluan yang Lu tawarin minum" protes Andra.
"Ya elahh, Elu mah palingan seharian duduk manis di samping pujaan hati, nah kalo dia mah habis kerja bro, keluar keringat banting tulang" elak Juned membela diri.
"Kagak, pokoknya Gue dulu, mango smoothies gue" ujar Andra kesal merasa di anak tirikan oleh sahabatnya sendiri.
Diego pun mengedikan dagunya, isyarat agar Juned membuatkan untuk Andra dulu.
Juned hanya tersenyum kecut, sambil mengumpat panjang pendek.
Dasar putri, biasa selalu di ratukan oleh para pembantunya, padahal dia punya senjata, geramnya dalam hati.
__ADS_1
"Gimana Zara?"
Andra menggeleng pelan" belum boleh pulang, mungkin besok, semalem tensinya drop lagi."
"Kok bisa" sambar Juned sambil datang membawa dua gelas minuman.
"Entahlah, akupun tak tahu kejadiannya, kata Dewi, Zara masih shock setelah di jenguk nyokap si Revan."
Diego dan Juned saling pandang, bagaimana mungkin di jenguk malah jadi shock.
Apa dia datang membawa singa? Batin Juned polos.
"Tapi Revan sehari tadi selalu di kantor" ujar Diego.
"Iya, ibunya datang tadi malem sendiri" jawab Andra sewot, ia pun sudah sangat pusing dengan apa yang terjadi di rumah sakit, niat hati ingin merayakan hari jadinya dengan Zara, akhirnya batal.
"Gimana hubungan Lu sama Zara?" tanya Diego.
Andra tersenyum simpul, ingatanya kembali kala wajah Zara merona merah setelah di cium olehnya, wajah manis dengan bibir mungil nan lembut, ahh ingin sekali ia terus menikmati kelembutan bibir itu, batin Andra.
"Woyy...di tanya malah ngelamun aja lu !" teriak Diego di telinga sahabatnya yang kini mirip orang kesambet dengan tampang lugu cengar-cengir sambil tangan terus memegang bibir.
"Sialan Lu, kita baik-baik aja kok" jawab Andra gugup.
"Gue liat, Revan selalu sibuk ke luar kantor, gue pikir dia pergi ke rumah sakit jenguk Zara.
Andra mengerutkan alisnya, Revan hanya sekali ia lihat ke rumah sakit, itupun setelah terjadi kecelakaan, selebihnya, ia tak menjumpainya , batin andra.
Tapi di lihat dari gerak-geriknya, Revan masih begitu perhatian pada Zara, seakan ada sesuatu yang tersembunyi yang masih menjadi misteri.
Dan Andra tak akan merasa tenang jika belum bisa mengungkapkan apa itu.
"Cafe Lu cukup rame Jun" ujar Andra mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Heum, gue selalu fokus pada apa yang jadi tujuan gue, sekali melangkah maka pantang menyerah" ucap Juned penuh percaya diri.
Andra manggut-manggut, lama tak mampir ke cafe, beberapa ruang tambahan sudah di bangun, meski setengah permanen, para mengunjung pun semakin banyak itu terlihat dari area parkir yang selalu penuh.
Ia hanya bisa menghela nafas panjang, jika dua sahabatnya sudah memiliki tujuan hidup pasti, hanya dialah yang masih terombang ambing di tempatnya berdiri.
Tujuan pasti? tapi ia sudah memiliki tujuan pasti dalam hidupnya, yaitu hidup bersama Zara.
Kedua sudut bibir Andra terangkat membentuk garis lengkung tipis.
Diego menyikut Juned yang duduk di sampingnya sambil berbisik.
"Kayaknya dia perlu di ruwat, dari tadi bolak balik kesambet mulu, senyum-senyum nggak jelas" bisiknya pada Juned.
__ADS_1
Juned pun melihat dengan serius.
"Coba Lu petik daun kelor di kebun belakang cafe."