Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *60


__ADS_3

Zara mencubit pinggang Andra kesal, wajahnya merona merah.


Maharani tersenyum senang sambil merengkuh gadis cantik yang di klaim sang putra adalah calon mantu nya.


"Maaf Tan, ku kira Tante belum pulang" ucap Zara setelah mengurai pelukan Maharani.


"Tante nggak betah sayang, tante mau di rumah saja, toh pusing tante sudah hilang, kalau hanya istirahat, di kamar sendiri pasti lebih nyaman" jelas Maharani.


"Iya memang betul Tan, kamar jelek pun akan tetap terasa nyaman, apalagi kalau punya kamar seperti kamar tante ini waahhh aku si bakal betah seharian."


"Bagaimana kalau tidur di kamarku aja babe?" Andra menimpali dengan kalimat polos.


"Aakkhh."


Sekali kagi cubitan mesra mendarat di kulit perut datar Andra.


"Kamu jahat Ra, bagaimana nanti kalau kita sudah menikah, bisa-bisa aku ngalamin KDRT setiap hari nih" Andra berucap cepat, lalu berlari menghindar dari Zara yang sudah muncul tanda-tanda akan kembali menyerangnya.


"Sudah-sudah, ayo kita makan dulu Ra, tadi bibi sudah nyiapin makan malam" Maharani melerai keduanya yang terlihat seperti anjing dan tikus.


Zara melangkah di samping Maharani yang merangkul pinggangnya, sementara kedua mata indahnya melotot ke arah Andra yang cengar cengir minta di tabok.


Makan malam yang terasa hangat, Maharani menyiukan nasi ke piring Zara dan Andra bergantian lalu mengambilkan lauk ikan bakar dan sayur urab.


Begitu lembut Maharani memperlakukan Zara, ada rasa haru yang menggelitik hati gadis itu.


Hidangan lengkap tersaji di meja makan, mereka hanya berdua, bagaimana mungkin masak sebanyak ini, lalu siapa yang akan menghabiskan?, benak Zara di liputi banyak pertanyaan.


Zara melirik ke arah dapur, bibi tampak masih sibuk membersihkan perabotan yang kotor.


"Ayo nambah Ra?" tawar Maharani karena melihat sang putra sudah beberapa kali nambah nasinya sedangkan Zara setengah pirung pun belum ia habiskan seluruhnya.


"Ehm sudah cukup Tan, nanti aku nggak bisa jalan pulang kalau nambah lagi." Zara yang memang memiliki lambung berkapasitas kecil hingga makan beberapa suap saja sudah merasa kenyang.


"Makanya, nginep aja di sini babe" Andra membalas spontan namun tangannya sibuk menyuapkan nasi ke mulutnya.


Zara mencebik kesal.


"Dasar bensin, nyamber aja."


Andra menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil memegangi perutnya yang rata.


Tiga centong nasi tandas ke dalam perutnya, beberapa hari di rumah sakit menjaga sang mommy membuat nafsu makannya berkurang, setelah kembali ke mansion seakan rasa lapar sudah terobati.


Zara melangkah ke dapur membantu bibi yang membersihkan piring.


"Sudah non, jangan di bersihkan nanti baju non Zara basah dan kotor, biar bibi saja, non duduk saja menemani den Joy dan Nyonyah."


"Sudah tenang saja bi, hanya sedikit ini piringnya, lagian bibi kan sudah cape dari tadi membersihkan perabotan, sekarang bibi tinggal selesai in kerjaan lain." Zara mengurai tangan bibi yang hendak mengambil piring kotor.


"Tapi non, nanti nyonya marah."


Zara menggeleng lembut.

__ADS_1


"Aku tahu tante Maharani tak sejahat itu bi, sudah lah sana bibi terusin kerjaannya, serahkan ini padaku, jangan cemas bi, aku tiap hari cuci piring nyapu nge pel dan nyetrika di apartemen jadi jangan takut piringnya pecah."


Bibi pun akhirnya terpaksa melangkah ke sudut lain, beberapa kali melihat ke arah Zara, wajahnya tersenyum.


Dari gerakannya mencuci, sudah terlihat jika memang gadis itu terbiasa mengerjakan pekerjaam dapur, batin nya.


Sungguh jarang jaman sekarang gadis cantik apalagi profesinya seorang model yang masih mau melakukan bersih-bersih.


Andra menyodorkan handuk kecil setelah Zara menyelesaikan cuci piringnya.


Zara menatap bingung ke Andra.


"Buat lap tanganmu Ra?" bisiknya.


Zara pun tersenyum kikuk, Andra begitu perhatian padanya meski hanya hal-hal kecil.


Andra meraih tangan Zara dan menggandengnya menuju teras balkon di lantai atas menikmati segarnya udara malam.


"Mana tante kak?"


"Mommy sudah ke kamar, katanya ngantuk, makanya aku di suruh temenin kamu."


Zara mengangguk pelan.


Malam yang cerah dengan bintang yang menghiasi cakrawala menjadi saksi hati Zara yang menghangat.


Terasa damai di teras balkon ini, tak terdengar hiruk pikuk seperti di teras jendela apartemennya yang sempit dan penuh kebisingan kota.


Aku ingin begini, aku ingin begitu..


Muka garang, ternyata jiwa Nobita, batin zara mengalihkan wajahnya agar tertawanya tak keterusan.


"Yupz ada apa bro, ohh iya baru balik tadi siang, nggak betah di rumah sakit katanya..iya...oh jangan, nggak usah, sekarang mommy sudah tidur, ohh ya udah lu kasihin aja ke kang parkir di depan indodesember, iya ..nggakk apa-apa besok aja ke sininya."


Andra menutup panggilan.


Dua sahabatnya sudah di jalan hendak ke mansion, sedangkan saat ini ia sedang bahagia menikmati waktu berdua dengan Zara.


Di bayar berapapun gue nggak akan membiarkan ada orang yang mengganggu kebersamaan gue, Andra membatin dengan seringai puas tersungging dari bibirnya.


"Siapa kak, kok mendadak senyum sendiri."


"Ohh hm tidak, tadi ada yang mau jenguk mommy, tapi kan mommy sudah tidur, takut ngeganggu ya suruh putar balik aja" jawab Andra santai.


"Kak sudah malam nih, aku pulang ya?"


Tuhan tolong turunkanlah hujan dan badai saat ini agar dia tak jadi pulang.


Andra celingukan, sungguh tak rela jika Zara pulang sekarang, ia masih ingin berdua dengan gadis itu.


"Masih sore Ra, lagian cuaca kan lagi cerah, sayang kalau kita lewatin gitu aja."


"Maaf kak." Zara tertunduk dengan sedikit sesal di hatinya.

__ADS_1


"Ehm baiklah ayo aku temani ke mobilmu."


Zara mengangguk, lalu melangkah di belakang Andra.


"Besok ada acara nggak Ra?"


Zara menggeleng, persiapan wisuda yang tinggal dua hari lagi sudah lengkap, jadi Zara memiliki waktu bebas.


"Baiklah besok aku jemput jam sembilan."


"Kemana kak?"


"Temani aku di butik."


Mata Zara berbinar, jika ke butik tentu saja Zara mau.


"Boleh, tapi apa aku juga boleh kalau ngajak Dewi untuk ikut ke butik juga?"


"Kenapa tidak, semakin banyak orang maka akan semakin ramai."


"Baiklah aku akan memberitahu Dewi, pasti dia akan senang sekali mendengarnya."


Andra mengerutkan alisnya.


"Memangnya ada apa dengan Dewi?"


"Tahu kah kau kak,..."


"Tidak."


Andra kali ini memukul bahu Andra yang se enaknya memotong kalimatnya.


Bibir mungil Zara mengerucut dengan kedua pipi mengembung.


Andra menatap jengah ke arah Zara, bibir mungil berwarna merah muda itu pasti sangat manis, batinnya.


"Nggak usah sok manis di depanku Ra, akibatnya akan sangat fatal."


Ucapan datar Andra membuat Zara sontak merubah mimik bibirnya kembali normal.


"Aku pulang, beneran besok mau jemput?."


"Heum"


"Ishhh"


Zara kini mencebik, ingin sekali ia meremas bibir Andra.


"Apa gunanya punya bibir kalau nggak buat bicara" ucapnya sinis.


"Ada kok kegunaan bibir yang lain selain untuk bicara." Andra menatap Zara dengan tajam, wajahnya kian maju hingga jarak mereka terkikis.


Zara menutup mulutnya dengan kedua tangan, karena kini Wajah Andra tepat hanya berjarak lima centi dari mulutnya.

__ADS_1


Untuk mencium bibir manismu ini cantik.


__ADS_2