Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU* 146


__ADS_3

Berondongan pertanyaan dari andra membuat Dewi menelan ludah kasar, tak mungkin baginya untuk mengatakan yang sedungguhnya bahwa saat ini hati zara sedang tidak baik-baik saja.


"Ehm Zara sedang pemotretan Kak, jadi dia nggak bisa angkat panggilan" jawab Dewi bohong.


"Tolong katakan padanya untuk segera hubungi aku kalau pengambilan gambar selesai" pinta Andra.


"Baik kak" jawab dewi singkat, lalu menutup sambungan telepon.


Andra memandang Revan yang kini mulai sedikit mengerti apa yang sedang terjadi.


"Selesaikan sesegera mungkin sebelum aku yang akan mengambil Zara kembali dan besar kemungkinan Zara tak akan ku lepaskan untuk kedua kalinya" ucap Revan dingin.


Andra hanya menelan saliva yang terasa pahit, ia menyadari kesalahannya yang bersikap kurang tegas pada Fitri, itulah salah satu kelemahanya yang tak bisa melihat seorang wanita mengeluarkan air mata di dekatnya.


Sementara itu di ruang kerjanya, Gunawan sedang mengamuk, rahangnya mengeras dengan kedua tangan mengepal kencang.


Bagaimana mungkin Nardi bisa percaya begitu saja pada Andra, tapi sekarang buktinya, berita pertunangan dan vidionya bersama Fitri telah menyebar luas.


"Berani-beraninya kau mempermainkan putriku, akal licikmu kini telah terlihat sialan..." umpatnya kesal.


Hati Gunawan berdenyut nyeri saat anak buahnya mengabarkan keadaan Zara yang tampak murung dan tak bersemangat, sudah di pastikan berita itulah yang menjadi penyebabnya.


Manu ketar-ketir di tempat duduknya yang hanya beberapa langkah dari Gunawan.


Lembaran berkas sudah berserakan di lantai karena amukan tangan Gunawan.


"Nu, apa kah kau masih bisa ku andalkan?" tanya Gunawan dengan tatapan tajam bak srigala yang henfak menerkam mangsanya.


Glek.


"Akan saya bereskan semuanya segera Bos" ucap Manu tegas.


"Bagus, maka selesaikan dengan cepat, buat Zara menyesal telah mengenalnya" sambung Gunawan sinis.


"Tak akan pernah ada yang bisa menyentuh apa lagi melukai putriku, akan ku pastikan kau menyesal seumur hidupmu."


Manu mengangguk hormat lalu melangkah meninggalkan ruangan, tangannya pun mengepal keras.


Satu pesan telah ia kirim ke nomor ponsel Andra.


Andra yang baru datang dari resto pun terhenyak saat pesan Manu datang.


"Den mau ke mana, ini minumannya" ujar Bibi yang baru keluar dari dapur pun panik melihat andra berlari lagi keluar mansion.


"Taruh aja Bi di kulkas" ujar Andra cuek, hanya Bibi yang kini berdiri bingung, minuman jahe hangat masa iya di taruh di kulkas, batinnya.

__ADS_1


Andra melajukan motornya kencang menuju taman kota, seperti yang Manu minta.


Pastilah permintannya ada hubungan dengan Zara, batin Andra.


Suasana taman kota yang rindang oleh banyak pepohonan, tampak hening karena tak banyak pengunjung, Manu duduk termenung di kursi yang tak jauh dari pintu masuk taman.


"Ada apa kau memanggilku ke sini" tanya Andra dengan suara datar.


Manu menengadahkan wajahnya, matanya menatap Andra tajam.


Ia melangkah dengan tenang namun kedua tangan mengepal.


Wuss.


"Hei apa-apaan ini" untuk kali ini Andra tak mau membiarkan wajah tampannya menjadi sasaran amukan orang lagi, hanya karena kesalah pahaman seperti tadi pagi.


Mendatangi Manu yang sedang menyimpan amarah tentu membuat Andra melipat gandakan kewaspadaannya.


"Kau benar-benar tidak tahu di untung, berulang kali kau menyakiti hati Zara dan berulang kali pula aku memberimu kesempatan, kali ini tak akan ku biarkan lagi kau menyakiti hatinya" ucap Manu penuh dengan amarah di dadanya.


"Hei dengar baik-baik, aku tak pernah ada niat untuk menyakiti kekasihku sendiri dan aku pun tak akan membiarkan kau mendekatinya, di adalah milikku sekarang dan selamanya, tak akan ada yang bisa merubah nya" jawab Andra tak kalah sinis.


"Jangan karena kau sudah beberapa kali menyelamatkannya maka kau menganggap bahwa hati Zara akan berpaling padamu."


"Jika kau tulus mencintainya lalu kenapa kau menjalin kisah lain di belakangnya, bahkan dengan terang-teranagn kau mengikatnya dengan cincin pertunangan" ujar Manu sewot.


"Cih, lalu apa arti berita itu?" Manu berdecih sinis.


"Untuk apa aku harus meyakinkanmu bahwa aku tidak melakukan semua itu, toh kau bukan siapa-siapa bagiku."


"Untuk saat ini aku memang bukan siapa-siapa bagimu tapi mungkin besok akulah yang akan menggantikan posisimu di hati Zara."


Andra menatap pemuda tampan setengah bule yang penuh percaya diri itu dengan kesal, ingin rasanya ia me robek-robek mulutnya yang lemes, ngeyel dan receh itu.


"Percaya diri sekali kau, Zara bukanlah gadis yang akan dengan mudahnya berpindah ke lain hati."


"Tentu saja bisa jika aku yang melakukannya."


Tubuh tegap dengan wajah nyaris sempurna, tentu dengan mudah Manu mendapatkan gadis yang di inginkannya.


Namun Andra yakin ada kekuatan lain yang membuat Manu begitu percaya diri dengan perasaannya.


"Aku hanya perlu satu langkah lagi untuk mendapatkannya" ujar Andra penuh percaya diri.


Manu menatap Andra intent.

__ADS_1


"Bawa aku padanya, biar aku yang akan menjelaskan pada calon Ayah mertuaku sendiri" ucap Andra tenang.


Degh.


Manu menatap netra tajam Andra, dari kalimat yang di ucapkannya, sudah di pastikan dia sudah tahu tentang Gunawan.


"Apa yang kau bicarakan, Ayah mertua siapa yang kau maksud?"


Seringai tipis keluar dari bibir Andra.


Rupanya Manu masih bermaksud menyembunyikan siapa yang berdiri di belakangnya selama ini.


"Sudahlah, kau tak perlu lagi menyembunyikannya dariku, aku sudah tahu semuanya."


"Semuanya, apa maksudmu?" tanya Manu dengan seringai sinis.


Andra menatap Manu tajam.


"Apa perlu besok ku ajak Nyonya Suzana unyuk bertemu dengan putra kesayangannya yang telah lama menghilang"


Deg.


Mata Manu membulat penuh, bibirnya terkatup rapat.


Dari mana pria di hadapannya itu tahu tentang dirinya, setelah ia tutup rapat tentang jati dirinya selama ini, tapi Andra dengan lantang berucap tentang sosok Ibunya.


Andra mengedikan alisnya, kartu merah sudah ada di tangannya, maka ia bisa sedikit menarik tali kekang Manu supaya bisa menahan sikapnya agar bersikap sedikit lebih manis padanya.


"Bagaimana tawaranku ini, bukankah cukup menarik?" ledek Andra girang.


Manu tak bisa berkutik, jika ia tetap pada sikapnya semula maka bisa di pastikan Andra akan membuka topengnya, identitas Gunawan pun sudah ia ketahui maka dengan mudah Andra bisa mengendalikan situasi agar sesuai rencananya.


Manu menghela nafas berat.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya nya datar.


"Aku ingin kau bersikap baik dengan tidak memancing di air keruh, dan jika saatnya tiba ajak aku menemui Ayah Gunawan" ucap Andra santai dan penuh percaya diri.


Kalimat Andra tenang namun membuat Manu ketar ketir.


Jika sampai identitasnya di ketahui Gunawan, bukan mustahil Gunawan akan menyuruhnya untuk pulang kembali ke rumah kedua orang tuanya.


Manu tak ingin hidup terkurung dalam sangkar emas, meski rumah megah dan harta melimpah tapi tak membuat Manu merasa nyaman berada di dalamnya.


Ia ingin bebas bagai burung, tanpa aturan dan segala perintah atau pun kekangan yang selalu membelitnya.

__ADS_1


Manu ingin melihat warna dunia luar, dunia di mana ia ingin menemukan jati diri sesungguhnya dan menemukan seseorang sebagai pelabuhan hatinya.


__ADS_2