Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU*187


__ADS_3

"Sayang hari ini aku mungkin pulang malam, aku harus ke Bali sekarang juga" Andra segera menghubungi sang istri untuk berpamitan.


"Apa se penting itu Babe?" Zara bertanya lirih karena ia pun sebenarnya merasa tak tenang melepas sang suami mendadak.


"Ya, urusan ini harus segera di selesaikan, aku akan berangkat, nanti aku hubungi kau lagi muacch."


Zara menatap ponselnya yang sudah di matikan dari sebrang.


Andra dan ke tiga anak buahnya sampai di bandara Ngurah rai saat pukul dua siang.


Karena perjalanan masih lama Andra mengajak anak buahnya untuk mengisi perut di sebuah restoran cepat saji.


Mata Ke tiga pria yang tampak lugu itu beberapa kali melirik ke arah para wanita berkulit bule yang lalu lalang di restoran dengan baju berbahan kain 'se adanya' .


Plak.


"Aaaww, kenapa kau me mukulku bos, apa salahku padamu" prores Do yang tak sadar akan kesalahannya.


"Jaga matamu" hardik Andra lirih.


Do lalu menundukan wajahnya, tak lagi berani melihat wanita yang bukan muhrim nya.


Namun tiba-tiba.


Duggh.


"Aakhh, kenapa lagi sekarang kau menendang kakiku Bos? Aku sudah menjaga mataku."


Kembali Do protes karena tulang keringnya menjadi sasaran tendangan Andra.


"Noh anak buah Elu bilangin suruh jangan jelalatan matanya" ucap Andra ketus.


"Lha kan dia anak buah Elu juga Bos, masa Gue yang bilangin."


"Ya Dia kan di sebelah Elu kampret!!" Andra benar-benar di buat kesal dengan tingkah buaya anak buahnya.


Do pun menyikut Re yang di sebelahnya, Andra tak tahu apa ancaman yang Do katakan hingga Re langsung berubah diam.


Andra tersenyum puas, karena ternyata anak buahnya masih mendengarkannya.


Andra pergi setelah membayar makanan.


"Bos kenapa kita makan di restoran itu kalau Bos sendiri punya restoran mewah di pulau ini?" tanya Do polos.


Pletak, jeluntuk Andra mendarat di kening Do membuat pria itu meringis kesakitan untuk kesekian kali.


"Lu mau kelaparan nunggu kita sampai ke restoran Gue sampai sono malam hari?"


Do hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, di depan bos nya dirinya selalu terlihat salah.

__ADS_1


Tak ingin memancing emosi sang bos akhirnya Do diam dan mengikutu Andra ke parkiran bandara.


Rupanya Andra sudah meminta anak buahnya yang di restoran untuk menyediakan mobil di bandara untuknya bepergian.


Sopir menunduk hormat dan menyerahkan kunci mobil sedang hitam milik Andra.


"Bos biar Mi saja yang nyetir" saran Do karena di antara mereka hanya Mi yang memang ahli mengemudikan mobil.


"Lu bisa bawa mobil?"


"Bisa Bos" Mi menjawab pasti.


Andra pun melemparka kunci ke Mi dan ia duduk di belakang dengan Do.


"Ikutin Map, jangan terlalu ngebut, kita di daerah orang" ujar Andra bijak.


"Siap Bos" Mi menyalakan mesin dan mobil pun jalan dengan keceparan sedang.


Jalanan yang lancar membuat kereta besi melaju dengan cepat.


"Lumayan juga kau bawa mobil Mi? Sudah berapa tahun kau punya SIM?" tanya Andra spontan.


Tiba-tiba suasana menjadi hening.


"Mi, berapa lama kau sudah memiliki SIM?" Andra mengulang pertanyaannya dengan sedikit me ninggikan suaranya.


"Belum Bos" jawab Mi lirih bahkan hampir tak terdengar.


Do dan Re kini saling lirik dengan wajah pucat, mereka sadar Mi selama ini hanya bisa mengemudikan mobil namun untuk SIM ia belum memilikinya.


"Stop...!!stop..."teriakan Andra sontak membuat Mi langsung menginjak rem.


"Lu pindah ke belakang" hardik Andra ketus.


Mi hanya bisa menundukan kepalanya dan membaur bersama Do di kursi belakang.


Andra menggelengkan kepalanya kesal.


Akhirnya setelah lima puluh menit perjalanan yang mencekam, mereka sampai di titik akhir perjalanan.


Di depan bangunan sebuah vila yang tampak sepi, Andra menghentikan mobilmya.


Dengan gerakan isyarat ia memerintahkan anak buahnya turun tanpa suara.


Tok tok tok.


Andra mengetuk pintu dan terdengar langkah kaki dari dalam vila.


Ceklek.

__ADS_1


"Andra...! Dari mana Lu tahu Gue ada di sini?" tanya Sandy terkejut.


"Itu nggak penting, sekarang suruh Fitri keluar sekarang juga" sapa Andra dengan suara sinis.


"Tunggu, sabar Bro...ada apa ini?" tanya Sandy sambil menahan tubuh Andra yang hendak memaksa masuk.


"San, kita memang bersahabat baik, tapi bukan begini caranya, Lu sengaja menyembunyikan Fitri meski kesalahannya begitu besar dan asal Lu tahu, kali ini dengan terpaksa dia harus mempertanggung jawabkan apa yang telah di lakukan di depan hukum" Andra menyerahkan foto-foto bukti semua yang telah di lakukan Fitri.


Sandy mengamati foto dengan seksama, dadanya berdenyut nyeri saat mengetahui bahwa ternyata Fitri melakukan hal tersebut di belakangnya.


Tak tok tak, bunyi langkah kaki keluar dari dalam ruangan.


"Siapa San?" tanya Fitri.


Untuk beberapa detik Fitri berdiri membeku, Andra menatap tajam ke arahnya.


"Hm ternyata memang benar kau bersembunyi di sini, kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu Fit, kau tak akan bisa mengelak lagi kali ini, Gue akan menyeretmu ke penjara" hardik Andra kasar.


"Sabar Bro, kita bicarakan baik-baik" Sandy berusaha menengahi Andra yang kini tampak emosi.


Wajah Fitri memucat dengan bibir terkatup rapat.


Kemarahan Andra kian me muncak, Sandy yang selalu berusaha menghalanginya ia dorong hingga tubuhnya mem bentur meja ruang tamu.


Do,Re , dan Mi pun akhirnya berhasil masuk ke dalam Vila meski Sandy berusaha menahan ke tiga pria kekar itu.


"Sory bro, Fitri harus gua ajak ke kantor polisi."


"Tapi Ndra apa nggak bisa di bicarakan dulu secara baik-baik, dia seorang gadis Bro, apa lu se tega itu?" hardik sandy mulai hilang kesabarannya.


"Memang benar dia seorang wanita, tapi perbuatannya melebihi seorang penjahat kejam San...Gue rasa hanya kurungan besi yang akan membuatnya sadar" terang Andra bijak.


"Tidak..aku tidak mau di penjara" teriakan Fitri nyaring sambil berbalik hendak lari ke belakang, namun rupanya ia lupa bahwa di belakangnya ada sebuah meja kokoh dan.


Bruggh.


"Fitri..." pekikan Sandy menggema saat tubuh Fitri terjungkal dengan kening membentur sudut meja kayu kokoh tersebut.


"Bagaimana Dok?."


Satu jam sudah Fitri terbaring tak sadar dengan tiga jahitan di keningnya.


Dokter praktek yang kebetulan tinggal tak jauh dari vila membereskan peralatan medisnya setelah mengobati Fitri.


Wanita ber jas putih itu menghela nafas panjang lalu tersenyum tipis dan memandang Sandy.


"Luka di keningnya akan mengering dalam lima atau tujuh hari, dan..." kalimat Dokter wanita itu menggantung membuat Sandy dan Andra yang berada di ruangan tersebut saling pandang.


"Dan apa Dok?" tanya Sandy panik.

__ADS_1


"Dan janin di perutnya pun dalam ke adaan sehat."


"Janin...!!!" ucap Sandy dan Andra bersamaan.


__ADS_2