Terciptalah Hanya Untukku

Terciptalah Hanya Untukku
THU *32


__ADS_3

Jangan lupa kasih othor suport ya 😘😘


Happy readingπŸ€—πŸ€—


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Zara masih tertegun dalam kamarnya, dada masih berdegub kencang.


Kepingan memorinya kembali berputar jelas, saat di mana dirinya melihat dari celah jendela yang terbuka, sang ibu yang sedang menangis pilu melepas kepergian ayah yang lebih memilih untuk hidup bersama wanita lain.


Zara menghentikan tangannya saat hendak memutar tuas pintu kamarnya karena mendengar Dewi sedang berbicara dengan seorang wanita yang mengaku ibu dari Revan.


Dengan cepat Zara mengirim pesan lewat ponselnya pada Dewi, agar mengatakan bahwa ia tak ada di kamarnya.


Dan untunglah Dewi dengan sigap dapat menyadari situasi genting yang sedang Zara hadapi.


Dengan alasan bahwa Zara sedang mengikuti suatu acara di sebuah cafe akhirnya berhasil membuat perempuan yang mengaku ibu Revan itu akhirnya pamit.


Dewi bernafas dengan lega, lalu melangkah ke kamar Zara.


Ceklek.


"Ra..k kamu kenapa" tanya Dewi dengan suara terbata, melihat Zara berdiri di balik pintu dengan air mata deras mengalir dari sudut matanya sedangkan tubuh yang bergetar hebat.


"Wi..aku benci mereka Wi, aku benci orang yang telah menghancurkan hidupku, sakit hatiku Wi" tangis Zara pecah setika.


Tangan yang mengepal keras, ia pukul-pukul kan ke dadanya berharap rasa sesak yang mendera dadanya berkurang.


Dewi memeluk Zara erat, entah cerita seperti apa yang membuat tangisnya begitu pilu.


"Sakit hati ku Wi hu hu huuu..., sekuat tenaga aku bertahan hidup, seorang diri aku mencoba menerima takdir yang kurasa begitu kejam, setelah apa yang mereka lakukan pada ibuku, kini mereka akan menghancurkan hidupku juga Wi".


"Tak bolehkah aku hidup dengan tenang, luka ini masih terasa sakit, bahkan mungkin akan ku bawa hingga aku mati hiks".


Dewi hanya diam dan mengusap punggung Zara dengan lembut, membiarkan sahabatnya mengeluarkan seluruh isi hatinya.


"Setelah aku mencoba berdamai dengan lukaku, kini mereka kembali datang bahkan mengucurkan air asam di atas luka ku".


Hanya helaan nafas panjang yang Dewi lakukan.


Cerita yang begitu menyayat hati meski Dewi tak mengerti luka seperti apa yang Zara alami.


Saat ini Dewi hanya ingin menjadi sandaran sahabatnya itu, karena hanya dialah satu-satunya orang terdekat Zara saat ini.


Namun yang menjadi ganjalan di hati Dewi, dan otaknya masih berfikir keras, apa hubungan antara ibu Revan dengan kejadian masa lalu Zara.

__ADS_1


Tangisan Zara baru mereda setelah lebih dari tiga puluh menit.


"Ehm, maaf Wi"ucap Zara masih dengan sisa isak tangisnya memandang pundak sahabatnya yang kini telah basah oleh air mata dan mungkin juga ingusnya.


Dewi hanya menghela nafas, perlahan ia melangkah dengan sedikit pincang lalu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


"Kaki mu kenapa Wi?" tanya Zara tanpa dosa.


"Nggak apa-apa, cuma mungkin ada semut yang sedang kumpul keluarga jadi kakiku kesemutan"ucap Dewi .


Zara menutup mulut dengan kedua tangannya.


Tentu saja selama lebih dari tiga puluh menit kakinya berdiri menjadi sandaran tubuh Zara, pasti sungguh menyiksa nya.


"Maaf ya Wi"sekali lagi Zara meminta maaf dengan penuh rasa sesal.


"Iya iya ...Ra, masalah kaki gue mah keciiil, nggak ada apa-apa nya di banding luka di hatimu, tapi sampai kapan kau akan menyimpan semua ini Ra?".


Zara terdiam, memang tidak seharusnya ia lari dari kenyataan, setiap masalah harus di hadapi bukan untuk di hindari.


Zara menatap Dewi dalam, apakah sahabatnya itu bisa menyimpan rahasia yang selama ini ia kubur di dasar hatinya,


"Jangan ceritakan jika memang hatimu belum siap".ucap Dewi lalu melangkah pergi ke kamarnya.


"Heum".Dewi menoleh.


"Aku dan Revan selamanya tak akan bisa bersatu, karena dia adalah saudara kandungku".


Jederrrrr.


Dewi membulatkan matanya, seakan tak percaya pada kalimat yang ia dengar dari mulut sahabatnya itu.


"Maksudmu??"


Zara mengangguk pasti.


"Aku masih ingat wanita yang membawa ayahku pergi, bekas luka di dahi nya membuatku yakin dialah perempuan dengan anak kecil yang ia gendong saat datang ke rumah dan menjemput ayahku untuk pergi bersamanya".


"Sejak kapan kau tahu jika dia adalah ibu Revan?".


"Suatu ketika aku melihat mereka berada di sebuah mall, dan saat itulah aku lihat luka di dahi nya, dan mulai dari hari itu, aku berusaha dengan berbagai cara untuk putus dari Revan".


Dewi menggeleng kepalanya, begitu sempitkah dunia ini, pikirnya.


"Eh lalu apa Revan mengetahui hal ini?".

__ADS_1


Zara menggeleng" Hatiku masih begitu sakit jika teringat perempuan itu Wi".


Dewi hanya manggut-manggut sambil tangan memegang dagunya.


Pantas saja Revan yang begitu sempurna tetap Zara tinggalkan, pikir Dewi.


"Lalu sampai kapan kau akan menyimpannya?".


"Entahlah".


*********


Sementara itu Revan yang kini selalu terlihat murung sejak Zara memutuskan pergi darinya, hari-hari Revan terasa begitu gelap dan suram.


Tak ada lagi senyum dari bibirnya, juga sapaan ramah para pegawai pun tak pernah Revan hiraukan.


Roy sang asisten pun di buat kelimpungan dengan sikap bos nya yang kini berubah menjadi temperamental.


Setiap hari pasti ada saja kesalahan kecil yang membuatnya murka, bahkan kini para karyawan merasa enggan untuk bertemu langsung dengan bos tampan yang telah berubah menjadi bos pemarah yang kejam.


Seperti pagi ini, Roy membuka pintu mobil dengan anggukan hormat pada bos muda yang di seganinya.


Langkah tenang dengan wajah datar dan tatapan mata dingin, membuat bergidig bagi mereka yang kebetulan berpapasan.


Begitupun Roy, amarah Revan yang selalu datang tak terduga membuatnya harus lebih hati-hati dan selalu siaga.


Jika suasana hati bosnya sedang buruk maka ia akan mencoba sebisa mungkin untuk tak mengganggunya.


"Roy untuk jadwal hari ini aku mau semua meeting waktunya di majukan agar selesai sebelum makan siang" ucap Revan datar dan tak ingin bantahan.


Roy hanya bisa menelan saliva yang terasa pahit bagai empedu, bagaimana mungkin meeting yang sudah di rencanakan dari jauh hari, di rubah mendadak oleh CEO nya tanpa pertimbangan apapun.


"Tapi meeting sore ini adalah klien yang dari luar kota tuan, dan perjalanan jauh membuat mereka tak bisa datang lebih pagi".


Revan menatap Roy tajam.


"Jaman secanggih seperti sekarang apa mereka tak bisa naik pesawat atau heli agar tidak membuang waktu percuma hanya untuk sebuah perjalanan jauh"


Glek, andai saja saat ini yang berkata itu bukan bosnya tentu Roy akan meremas mulut yang bisa dengan santainya berkata seperti itu.


Bukannya mereka tak mampu membeli tiket pesawat atau menyewa sebuah heli, tapi mereka pun mempunyai banyak acara penting lain selain di perusahaan ini, pikir Roy dengan geram.


"Apa jadwal meeting sore di batalkan saja tuan?"tanya Roy ragu.


Revan menatap Roy yang tertunduk dengan pasrah entah bagaimana nasibnya nanti jika klien tersebut merasa kecewa atas perlakuan tidak profesional dari Revan.

__ADS_1


__ADS_2