
Andra membuka matanya dan bangun saat ponselnya di atas nakas bergetar.
Perlahan ia bangkit setelah mengurai tangan Zara yang memeluk pinggangnya.
Tak ingin sang istri terjaga, ia pun keluar dari kamar dengan gerakan lembut.
"Ya Ayah."
"Kenapa berbisik? apa Zara belum bangun?" Gunawan ikut me melembutkan suaranya.
"Belum Yah, ini aku di luar kamar, ada apa?"
"Ehm, nanti kalau putriku sudah bangun kalian harus segera ke apartemen ku, ada hal penting yang harus segera di bicarakan."
"Baik Yah."
"Hmm, kembali lah kau ke kamar dan temani kembali putriku."
Andra mencebik kesal saat Gunawan menutup telepon nya.
Cih meski dia putrimu, tapi dia adalah istriku, panggil lah dia istriku Yah, Andra bermonolog lirih.
"Babe..." panggil Zara dari dalam kamar.
Andra bergegas kembali masuk kamar dan mendapati sang istri sudah duduk di tepi ranjang.
Beberapa detik ia diam membeku, hatinya tiba-tiba berdebar tak karuan memandang Zara.
Bahkan bangun tidur pun kau sangat cantik istriku, ia membatin.
"Siapa tadi Babe?"
"Ah ehm itu Ayah..dia minta kita datang siang ini, ada hal penting yang harus di bicarakan" terang Andra.
"Mandi lah, aku akan memesan bubur untuk kita sarapan."
"Apa harus bubur lagi?" protes Zara, ia sudah bosan dari kemarin hanya makan bubur, apalagi Andra melarang sambal dan kuah gurih, terasa hambar dan tak enak di lidahnya.
"Lalu apa yang kau inginkan untuk sarapan kita sayang?"
"Ehm, apa saja asal pedas" jawab Zara lalu masuk ke kamar mandi.
Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Di tempat berbeda di saat yang sama Gunawan memeriksa setumpuk berkas penting miliknya.
"Semua sudah saya urus tentang perpindahan kepemilikan perusahaan milikmu Bos, non Zara tinggal tanda tangan."
Gunawan mengangguk puas, Manu memang selalu pro aktif tanpa harus ia menanyakan berkali-kali.
__ADS_1
"Tapi keluarga itu masih terus memohon pada kita Bos, apa yang harus kita lakukan."
"Hm biarkan saja, biar mereka tahu tak seharusnya memandang rendah orang lain, akan ku buat mereka membuka mata, dan melihat, gadis yang mereka hina selama ini, kini bisa dengan mudah membuat mereka sengsara seumur hidup" tutur Gunawan.
"Oiya bagaimana dengan pembangunan sekolah modeling itu?."
"Bagus Bos, bangunan sudah hampir selesai sembilan puluh persen, dan semua perlengkapan untuk menunjang kegiatan pun sudah kami siapkan, jika bangunan sudah selesai kita tinggal memindahkannya."
Seringai tipis terbit dari bibir Gunawan, ia ingin cita-cita yang Zara impikan selama ini segera terwujud, jiwanya memang lemah lembut dan hangat persis seperti mendiang istrinya Nita.
Kebaikannya terkadang membuat orang lain salah sangka, bahkan Zara rela mempertaruhkan harga dirinya untuk menyelamatkan orang-orang yang di sayanginya.
Dan sekolah modeling untuk mereka yang tak mampu akan Gunawan wujudkan secepatnya.
Teettt.
Gunawan dan Manu melihat ke arah pintu apartemrn yang berbunyi.
Ceklek.
Manu membuka pintu dan senyum manis Zara membuat Manu terpaku beberapa saat.
Gunawan menyambut pelukan hangat sang putri dengan haru, Zara sudah mulai tak canggung lagi padanya, Andra hanya mengangguk hormat dan menyalami sang Ayah mertua.
"Bagaimana keadaanmu nak?"
"Ehm aku baik-baik saja Ayah" jawab Zara polos.
"Ada apa Yah?" tanya Zara saat melihat kedua pria yang di cintainya saling bertatap aneh.
"Ahm tidak nak, Ayah hanya melihat suaminu, apakah dia membawa putriku dalam ke adaan sudah sehat?" Gunawan sedikit paham saat Andra mengisyaratkan bahwa kejadian kemarin masih di rahasiakan dari putrinya.
"Aku sudah sehat Ayah, suamiku menjagaku dengan sangat baik" ujarnya lalu melirik ke arah suaminya.
Andra hanya tersenyum masam.
Andai aku menjagamu dengan sangat baik maka kejadian kemarin seharusnya tak terjadi sayang, batinnya berucap miris.
"Kemari lah nak, ada sesuatu yang harus aku tunjukan padamu."
"Heum apa itu Ayah."
"Dengarlah baik-baik nak, kau adalah putriku satu-satunya dan semua yang aku punya sudah ku persiapkan untuk menjadi milikmu, mulai sekarang kau adalah pemilik sah semua perusahaan Ayah, juga banyak saham milik Ayah di perusahaan lain sudah Ayah alihkan atas namamu..." Gunawan menyodorkan setumpuk berkas pada sang putri.
"T tidak ayah, aku tak bisa menerimanya, itu semua adalah hasil jerih payah Ayah selama ini" Zara berucap pelan.
"Ayah bekerja keras selama ini hanya untuk membahagiakanmu nak, Ayah tak ingin kau hidup sengsara, Ayah ingin kau seperti gadis lain yang bergelimang harta dan Ayah nggak mau lagi ada orang yang me remehkanmu nak."
Namun Zara tetap bersikeras menolak.
__ADS_1
"Zara, tahu kah kau nak, Ayah selama ini selalu merasa pusing dan berat kepala Ayah, Ayah tak tahu entah sampai kapan Ayah berada di sampingmu."
"Apa maksud Ayah, Ayah sakit kah?" tanya Zara panik.
Gunawan mengangguk lemah dengan mata meredup.
Sementara Manu hanya berdecak kesal lalu membuang matanya.
Sungguh lihai otak atasannya itu, kalau ia sebut, licik dan elegan.
"Ayah hanya ingin kau membantu meringankan sedikit beban Ayah selama ini Ra, rasanya berat untuk Ayah mengatasinya sendiri" ucap gunawan dramatis.
"I iya Ayah...aku akan bantu ayah sebisa mungkin, Ayah jangan terlalu berfikir berat.." Zara mejawab dengan mimik wajah panik.
"Jadi kau mau membantu Ayah ..?"tanya Gunawan semangat.
Zara mengangguk pasti, Gunawan tersenyum bahagia lalu memeluk sang putri erat, tak-tik nya memang berguna.
"Dan satu lagi yang akan Ayah katakan padamu juga suamimu.."
"Apa kah itu Yah?"
"Aku ingin acara pernikahan kalian nanti hanya di hadiri orang-orang yang penting bagi kalian dan keluarga inti saja."
Andra memandang sang mertua tajam, kejadian penculikan Zara juga keselamatanya mungkin menjadi pertimbangan Gunawan mengambil keputusan ini.
"Kalau aku terserah suamiku saja" ujar Zara lembut sambil memandang Andra, ia memang hanya akan mengundang Om Ikhsan yang telah menolongnya juga keluarga Dewi saja.
"Aku juga setuju Yah, toh pesta pernikahan bagiku tak terlalu penting, yang penting kami sah di hadapan hukum dan agama sebagai sepasang suami dan istri" jawab Andra bijak.
Gunawan mengangguk puas, anak dan menantunya sependapat dengan usulnya.
"Oiya nak, jangan lupa kau undang Om yang telah menolongmu, aku berhutang budi sangat banyak padanya, aku ingin mengucapakan terima kasihku pada mereka."
"Baik Ayah, aku memang sudah mengabarkan pada Om, dan memintanya untuk mengambil cuti."
"Kalau itu biarlah anak buah Ayah yang akan mengurus Om mu, mereka akan kita jemput, dan urusan pekerjaan merej tak perlu takut jiak di pecat, Ayah yang akan tanggung jawab."
"Baiklah Yah, kami pulang dulu, kami harus mengabarkan berita ini pada Mommy."
"Heum berangkatlah" ujar Gunawan penuh wibawa.
Keduanya pergi dari apartement Gunawan, tinggal Manu yang masih tetap tinggal dan duduk dengan tenang.
Wajahnya terlihat tenang dan datar, namun hatinya masih saja perih jika melihat Zara dan Andra.
"Nu bagaimana keluarga Menteri itu, apa mereka masih selalu datang ke kantor?"
"Benar Bos, mereka bersikeras ingin bertemu denganmu, setiap hari mereka mendatangi perusahaan, semua penjaga sudah menolak setiap kali mereka datang, tapi keduanya tetap keras kepala Bos."
__ADS_1
"Baiklah, katakan pada mereka untuk menemuiku setelah jam makan siang nanti di hotel X, aku akan menunggu di sana."
"Baik bos."