
Zara bangun menggeliatkan tubuhnya, terasa pegal dan keras otot-otot kaki dan seluruh bagian tubuhnya.
Berdiri beberapa jam melayani pembeli, sungguh membuat kedua betisnya mengeras dan sakit.
Dengan langkah tertatih Zara melangkah ke kamar mandi.
Hanya beberapa menit karena waktunya pun tak tersisa banyak, dengan baju casual Zara berangkat karena ia baru akan berganti seragam sesampainya di butik.
Beberapa karyawan lain tampak sudah berganti seragam, anggukan kepala dan senyum ramah dari Zara menyapa mereka.
Seorang karyawan bagian kebersihan sudah selesai dengan tugasnya.
"Mba kakinya kenapa?" tanya peremouan paruh baya melihat langkah kaki Zara tertatih.
"Ehm tadi terpeleset di kamar mandi dan kaki terbentur pintu bu" sahutnya.
"Di urut atuh mba, sakit kalau di biarkan lama-lama" jelasnya lagi.
"I iya bu nanti sore mungkin akan cari tukang pijit."
Untunglah pagi ini Zara bertugas menyortir baju yang baru datang untuk di pajang di butik, jadi ia tak perlu berdiri, dan menahan sakit di kedua betisnya.
Seperti kata Dewi, Zara tak ingin lagi menjadi gadis polos dan lugu yang tetap diam mendapat perlakuan tak adil dari seniornya.
Istirahat siang sudah mulai saat getaran ponselnya terasa di kantung baju seragam yang di pakai Zara.
"Ra, gimana kaki lu? Masih sakit nggak, nenek sihir itu sudah tidak lagi ngebully elu kan?"
Rentetan pertanyaan dari Dewi,membuat hati Zara menghangat.
Di tengah kesibukannya Dewi masih sempat memperhatikannya.
"Sudah mendingan Wi." Zara memasukan kembali ponselnya ke kantung bajunya, pesan dari Andra pun sudah di balasnya.
Pesan puitis bernada penuh cinta, mengatakan bahwa hari ini Andra tak bisa datang ke butik.
Cih mirip ABG labil.
Entah kenapa ada rasa kesal di hati Zara saat membaca pesan dari Andra.
Sementara itu, kesibukan tengah terjadi di restoran Maharani.
Ada salah satu pengusaha yang membooking restoran untuk sebuah acara ulang tahun putranya.
Karena Maharani harus menghadiri meeting dengan salah satu konsumen yang sudah memesan gaun pernikahan dari jauh hari yang tentu saja tak bisa ia batalkan.
"Gimana To, apa semuanya sudah siap?" tanya Andra yang tak bisa menutupi rasa kepanikan,baru pertama kali ia di perintah oleh mommy untuk meng handle restoran untuk sebuah acara besar.
"Siap Den, tenang semua sudah di persiapkan secara matang oleh Nyonya besar."
__ADS_1
"To, lu tahu siapa yang booking tempat ini?"
"Katanya si salah satu pengusaha kaya di kota ini Den, tapi saya tidak tahu siapa beliau, mungkin teman Nyonya besar Den?"
"Entahlah, mommypun tidak mengatakannya padaku"
"Ya sudah Den, saya akan melanjutkan tugas di dapur, Den Joy tenang aja di sini, semua pasti beres."
"Oke, terima kasih To."
Meski Maharani sudah mempersiapakan sepenuhnya dari hidangan, pengisi acara dan bingkisan yang akan di bawa pulang sebagai hadiah dari tuan rumah semuanya sudah di siapkan lengkap.
Namun ketidak hadiran sang mommy sangat berpengaruh besar pada rasa kurang percaya diri di hati Andra.
Karena beberapa tamu yang terlambat hadir membuat acara berjalan mundur jauh dari waktu yang sudah di tentukan.
Namun Andra bisa bernafas lega setelah semuanya selesai dan berjalan lancar.
Semua karyawan duduk melepas penat, seharian bejalan mondar-mandir melayani tamu undangan pesta membuat tenaga terkuras habis, namun senyum puas terbit di setiap wajah para karyawan,pengusaha yang membooking restoran memberi tip pada mereka dengan jumlah yang lumayan.
Tatapan Andra terpaku pada seorang wanita yang tengah duduk sambil mencium amplop pemberian pengusaha tadi seraya isak tangisnya terdengar lirih.
"Ssst To, kenapa dia?" bisik Andra yang merasa aneh karena wanita tersebut malah menangis.
"Dia mba Meta, bagian kasir yang tengah hamil dan terpaksa masih bekerja karena suaminya yang di PHK."
"Hah, hamil?" ucap Andra tak percaya, tubuh Meta yang tengah duduk membuat perut buncitnya tersamar.
"Lalu kenapa tidak ambil cuti hamil?"
"Sebenarnya Nyonya besar juga sudah memintanya untuk cuti Den, tapi mbak Meta nya yang memaksa untuk tetap masuk kerja , untuk nambah biaya persalinan katanya."
"Tapi itu terlalu ber resiko tinggi To, akan sangat membahayakan janin dan dirinya sendiri, bagaimana kalau sedang melayani pembeli terus perutnya kontraksi, coba lu bayangin."
"Ya mana bisa saya bayangin Den, saya masih bujang dan belum punya bini."
"Ish, bukan bayangin enak-enak nya semprul" hardik Andra sambil berlalu dari karyawan songongnya itu.
"Den mau ke mana?"
"Ya pulang lah cape gue, mau tidur."
"Saya ikut nebeng ya Den, sekarang sudah malam, angkot yang ke kontrakan saya sudah nggak ada, mau ngojek mahal Den kalau malam tarifnya dua kali lipat."
Wanto menatap juragannya dengan wajah melas, berharap ada sedikit rasa iba untuknya.
"Dah yuk naik."
"Yess, terima kasih Den, Den Joy memang debez lah pokokna mah"
__ADS_1
"Ck, gaya lu sok nginggris, muke lu jauuh."
Wanto hanya menggaruk kepalanya yang gatal.
Andra melirik ke karyawannya yang tatapannya lurus ke jalan raya, jika di restoran pria itu akan selalu ramai dengan celotehnya namun kini kenapa bersikap bagai kodok yang tercekik, tanpa suara sepatah kata pun.
"To lu kesambet apa? Kok jadi kalem gitu?"
"Ah t tidak Den, saya teh cuma sedang menghayati rasanya duduk di kursi mobil mewah, mungkin ini pengalaman pertama sekaligus terakhir bagi saya Den, tak pernah saya naik mobil sebagus ini, paling banter angkot jurusan ke gang di depan kontrakan saya Den."
Andra tersenyum masam, kebahagiaan yang tampak sederhana baginya, meski hidup dalam kesederhanaan namun pemuda di sampingnya selalu mengatakan kejujuran yang jarang orang lain miliki.
"Elu di sini ngontrak ama siapa To, rumah lu emang di mana?"
"Saya ngontrak bareng dua teman saya dari kampung Den, tapi mereka bekerja di sebuah apartemen sebagai OB, rumah saya di xx, dua jam dari sini Den."
"Terus lu pulang tiap bulan?"
"Tidak Den, kalau tiap bulan pulang ya habis lah duitnya buat ongkos di jalan, saya pulang setahun sekali Den, kalau habis dapat THR he hee" jelas Wanto polos.
Ada rasa nyeri di dada Andra, jarak tempuh dua jam perjalanan, masih terlalu berat jika di pakai untuk ongkos mudiknya.
"Eh di gang depan berhenti ya Den."
"Ehm itu kontrakan lu?"
"Bukan Den itu gang masuk ke kontrakan saya."
"Kenapa nggak langsung saja berhenti di depan kontrakan lu?"
"Gangnya kecil Den, nggak bisa buat mobil masuk."
Andra terdiam lalu menepikan mobilnya.
"Terima kasih Den."
"Lu besok berangkat jam berapa?"
"Biasanya jam tujuh lima belas menit Den."
"Lha kenapa pagi banget lu berangkatnya, bukanya resto buka jam sembilan."
"Ya takut macet di jalan Den, juga angkotnya suka susah kalau pagi, pada penuh semua."
"Ya udah besok lu tunggu di sini, gue jemput jam delapan."
"Hah, nggak usah Den, biar saya naik angkot saja."
"Halaah, sok jual mahal lu, kita kan sejalur lagian lumayan lu bisa ngirit ongkos, gue berangkat sendiri sepi, nggak ada temen ngobrol."
__ADS_1
"B baik Den, besok saya akan tunggu di depan gang, t terima kasih Den, hati-hati di jalan Den."
"Yo i .." Andra membalas lambaian Wanto lalu kembali melajukan mobilnya.