
Andra bangun setelah mendengar alarm ponsel Zara berdering.
Dengan malas ia raba permukaan nakas di mana ponsel tersimpan.Matanya mengerjap cepat setelah tangannya meraba kasur yang ternyata Zara masih terlelap di balik selimut.
Tak biasanya Zara tak bangun setelah alarm ponselnya berbunyi nyaring, biasanya sedikit saya suara pasti terdengar oleh telinganya.
"Sayang apa kau sakit?" tanya Andra panik lalu menempelkan tangannya di kening sang istri.
Alis Andra mengerut, rak ada yang salah dengan Zara karena suhu keningnya normal.
"Sayang..sstt bangunlah sudah siang" bisik Andra sambil mencubit pipi Zara lembut.
"Ehmmm, sudah pagi ya" Zara membeo dengan wajah bantalnya tersembul dari selimut.
"Heum, bangunlah."
Andra bangkit lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan sang istri ia biarkan masih bermalasan di bawah selimut.
Biarlah mungkin ia sedang tak enak badan, ia membatin.
Dan benar saja, setelah keluar dari kamar mandi, Andra mendapati sang istri yang masih betah di dalam selimutnya.
Tok tok tok.
"Den Andra...di panggil Nyonya suruh sarapan sama Non Zara" panggil pelayan dari balik pintu.
"Iya Bi..." jawab Andra.
"Sayang ayo kamu mandi dulu, kita di panggil Mommy untuk sarapan" ucap Andra sambil menarik selimut Zara.
"Aku belum lapar Babe, dan ...aku lagi malas mandi" ucap Zara dengan wajah lesu.
Andra tersenyum gemas lalu mengacak rambut sang istri.
"Untung kau cantik, mandi ataupun tidak, kau tetap menawan" ujarnya lirih.
Tok tok tok.
"Den...kata Nyonya suruh sarapan sekarang, Nyonya mau berangkat pagi."
Kembali pelayan mengetuk pintu.
"Iya Bi, aku ke sana sekarang" ujar Andra lalu bergegas memapah Zara untuk bangun.
"Ayo sayang, nggak usah mandi, cuci muka lalu sikat gigi aja, kasihan Mommy sudah nunggu dari tadi."
"Ehm kau dulu turun nanti aku akan menyusul...aku nggak akan lama" ujar Zara laku bergegas ke kamar mandi.
Andra tersenyum gemas lalu melangkah keluar.
"Mana Zara, Joy..?"
__ADS_1
"Belum selesai mandi Mom, nanti dia nyusul."
Karena sedang di buru waktu Maharani pun mendahului menyelesaikan sarapannya, beberapa hari ini kegiatannya meningkat, dan Andra pun merasa bersalah karena belum bisa menggantikan tigas sang mommy.
"Maaf Mom, aku belum bisa menjadi yang Mommy harapkan" ucap Andra lirih.
"Apa maksudmu nak?" Maharani mengrenyitkan alisnya penuh tanda tanya.
"Seharusnya di usia Mommy saat ini, Mommy sudah tak perlu lagi bekerja keras, harusnya Mommy duduk santai di rumah dan menimang cucu, tapi Mommy masih saja sibuk bekerja, sedangkan aku...."
"Hmm kalau kau memang ingin Mommy bahagia, maka cepatlah kau buatkan Mommy seorang cucu yang lucu, tak akan ada lagi yang bisa membuat Mommy bahagia selain kehadiran seorang cucu, rasanya sudah lengkap hidup Mommy" Maharani memandang sang putra dengan wajah penuh harap.
Andra tersenyum masam, sudah sebulan lebih sejak pernikahannya, tak ada tanda-tanda Zara sedamg hamil, mungkin memang belum saatnya ia membahagiakan Mommynya, batinnya lirih.
Tak tok tak.
Langkah Zara cepat menuju ruang makan.
"Maaf Mom, Babe....kalian nunggu aku lama" sesal Zara lirih lalu menarik kursi di samping Andra.
"Pagi Ra, ...kau sakit nak?" tanya Maharani.
Zara menggeleng pelan.
"Tapi wajahmu pucat."
Andra pun memandang wajah sang istri, tak ada yang aneh, semua terlihat biasa saja, pikirnya.
"Hmm syukurlah, makanlah yang banyak dan maaf Mommy harus segera berangkat"Maharani bangkit dari kursinya lalu mencium kening Zara lembut.
"Makan yang banyak biar Mommy cepat dapat cucu" bisik Maharani lirih.
"He hee i iya Mom" jawab Zara dengan senyum masam, mana ada hubungan antara makan yang banyak dengan kehamilan, ucapnya membatin.
"Kenapa kau murung Babe?" tanya Zara, Andra sudah menghabiskan makannya tapi tatapannya kosong pada piring di hadapannya.
"E hm tidak Sayang, aku hanya berfikir, entah kapan aku bisa membahagiakan Mommy, di usianya yang sudah mulai senja tapi masih saja sibuk dengan urusan bisnis yang seharusnya sudah aku yang menanganinya."
"Kalau begitu, ayo kita ke resto,gantiin Mommy, sambil belajar lama-lama kau pun akan menjadi ahli dalam bidangmu" Zara menyemangati Andra.
"Apa kau mau menemaniku bekerja di resto?" tanya Andra ragu.
"Tentu saja aku mau, aku sangat bosan di sini, tak ada aktifitas membuatku jenuh Babe, ayo kita berangkat."
Andra menatap sang istri, wajahnya berbinar dengan api semangat menyala, berbeda dengan pagi tadi, terlihat lesu dan pucat.
"Hmm hayokk."
Zara bergegas bangkit dan lari ke kamar, rasanya hatinya begitu riang akan kembali bertemu banyak orang.
Dan benar saja, di sepanjang perjalanan Zara tak henti bersenandung lirih, bagai seorang bocah yang hendak pergi bertamasya.
__ADS_1
"Sayang apa kau sangat senang?"
"Heum aku senang bisa bertemu banyak orang nanti di resto, mereka ramah dan baik, aku juga bisa belajar nanti sama chef" jawab Zara penuh semangat.
Andra menganggukan kepalanya, rupanya selama ini sang istri merasa jenuh di mansion, tak ada aktifitas dan tak bertemu dunia luar memang sangatlah membosankan.
Seakan tak sabar Zara pun keluar dari mobil lalu melangkah dengan riang memasuki resto.
"Halo To apa kabar" sapa Zara ramah.
"Ah kabar baik Non Zara, wah rasanya sudah lama kita tidak bertemu, kau semakin cantik saja Non" ujar Wanto hangat.
"Ah kau bisa aja To, bagaimana resto nya sejak aku nggak ada" sambung Zara.
"Sejak Non nggak ada, rasanya saya teh nggak ada semangat lagi Non, pokoknya tak ada Non Zara saya bekerja di resto ini tidak ada semangatnya, ibarat Non Zara itu adalah matahariku yang selalu menyinari hari-hari ku non dan..."
"Ehmm hmm.....Matahari siapa tadi To?" Wanto langsung diam membisu, suara Andra bagai sapa'an malaikat maut yang berada di belakangnya.
"Ehm T tidak Bos, saya teh hanya menyapa Non Zara saja kok" Wanto membela diri.
"Sudah sana kerja lagi, nggak usah obral gombalan palsu."
Wanto pun melangkah pergi dengan senyum masam, lupa bahwa Zara kini sudah memiliki pawang.
Zara mengendus-endus kan cuping hidungnya saat tercium harum wangi masakan.
Langkahnya pasti menuju dapur resto, karena pastilah dari sana sumber harum itu berasal.
Beberapa koki tampak sibuk sedang memasak pesanan.
"Halo Chef ...apa boleh saya ganggu dikit"sapa Zara lembut membuat sang koki menoleh.
"Ah hai Nona, di sini kau rupanya, bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik chef...apa kau sibuk Chef?" tanya balik Zara.
"Hm ya beginilah pekerjaan kami Non."
"Boleh aku bantu Chef?" tanya Zara dengan penuh harap.
"Ehm apa anda sudah mendapat surat ijin dari Bos Muda" Andra yang Chef itu maksud.
"Tenang, aku sudah ijin Chef dan suamiku setuju kok, lagian sekarang aku kan sebagai seorang istri harus bisa masak, dan hanya Chef lah yang bisa mengajariku" terang Zara dengan mimik wajah menggemaskan.
"Baiklah Non, untuk pemula Non Zara hanya bisa di perbolehkan untuk mengiris dan mengupas sayuran dan buah."
"Oke siap Chef."
Chef tersebut pun tersenyum, Zara melangkah ke bagian meja sayuran untuk memotong dan mencuci sayuran.
Area tempat sayuran dan mencuci yang cukup licin apa lagi Zara yang belum terbiasa dengan area dapur resto membuat langkahnya berjingkat dan itulah yang membuat tubuhnya hilang ke seimbangan dan akhirnya.
__ADS_1
Bruukkk.