
Andra dan Zara bersamaan memalingkan wajah ke arah datangnya suara.
Fitri dengan pengawalan dua penjaga berlari kecil ke arah Andra.
"Huuh hahh kau ternyata di sini, aku sudah mencarimu di mansion, juga ke butik, ternyata berjumpa di sini?"
Fitri mengatur nafasnya, setelah penuh semangat berlari dari parkir menuju ke dalam resto membuat nafasnya tersengal.
"Ayo Ndra tolong temenin aku beli kado untuk ulang tahun temenku."
Fitri bergelayut manja di lengan Andra, sambil sesekali melirik ke gadis di sebelahnya, gadis yang menurutnya tak pantas berada di samping Andra, sementara Zara memandang jengah ke arah mereka dan berusaha mengalihkan fokus fikirannya, lalu kembali di ruang kasir.
"Tapi aku sibuk Fit, kau berangkatlah sendiri."
"Ish kan temenku cowok dan aku mau beli sesuatu untuk di pakainya dan tubuhmu memiliki ukuran yang sama dengannya" alasan Fitri kuat.
Oh Tuhan, kenapa kau kirimkan ondel-ondel ini ke dekatku saat ini Tuhan, ucap Andra dalam hati.
Andai ia tak berjanji pada Pak Menteri, sudah pasti ia akan langsung menolak mentah-mentah ajakan gadis itu.
"Ra, Bosmu pergi dulu sama aku ya" ucap Fitri dengan seringai licik yang samar.
Zara hanya mengangguk malas.
"Tuh kan Ndra, karyawanmu juga ijinin kamu pergi sama aku" Fitri sengaja menekan kata 'karyawanmu' dengan mata melirik ke Zara.
"Tapi janji, tak ada lagi para wartawan yang ikutin kamu, jika sampai aku melihatnya nanti, maka jangan salahkan aku jika aku pergi meninggalkan kamu" ancam Andra saat tangannya di tarik Fitri ke mobilnya.
"Iyaa aku janji" senyum penuh kemenangan tersungging di bibir merah Fitri.
Dari sudut matanya, Zara hanya bisa memandang kepergian sang kekasih dengan dada berdenyut nyeri.
Sepanjang perjalanan Andra tak bersemangat meladeni pembicaraan Fitri.
Entah kenapa sekarang sahabatnya itu begitu cerewet dan membosankan.
Di sebuah mall besar mereka berhenti, Andra menatap sekeliling takut jika ada awak media yang mencium kedatangan mereka.
Ia tak mau lagi jadi topik berita sebagai calon menantu Pak Menteri.
Zara berhenti di sebuah toko yang khusus menyediakan dasi dari berbagai merk dan bahan premium.
Senyumnya merekah memasuki toko mewah tersebut, anggukan hormat para karyawan tak di hiraukannya.
Sebagian dari mereka menatap Fitri jengah, sikapnya yang angkuh dan sombong sudah mereka kenal.
Sepasang mata menatap geram ke arah mereka, Manu yang kebetulan di mall itu matanya memanas melihat Andra tetap diam dan pasrah saat Fitri menggandeng tangannya.
Cih dasar lelaki murahan, kau buang berlian hanya untuk kerikil tak berharga seperti itu, umpatnya kesal.
Manu datang ke mall untuk mengambil pesanan Gunawan.
Dan perhatiannya teralih saat banyak pengunjung saling berbisik dan menatap ke dalam toko dasi tersebut.
__ADS_1
Buat apa kau pertahankan pria itu Ra, sambungnya lagi namun hanya di ucap dalam hati, ia pun melangkah untuk kembali ke perusahaan, ingin rasa hatinya menemani Zara, meski terlihat tenang dan tegar, tapi dalamnya hati orang, siapa tahu, pikir Manu.
Sambil menyelam minum air, beralasan menemani di kala sepi, jika kesembatan datang, siapa yang akan menolak, bukan hal mustahil jika suatu saat Zara berpaling dari putra desainer itu dan berjalan mendekat ke arahnya.
Tentu saja dengan tangan terbuka dan hati yang tulus, Manu akan merentangkan tangan untuk menerima kedatangannya.
Andra yang merasa tak nyaman dengan Fitri tampak gelisah, hati dan fikirannya selalu tersita pada Zara.
Tak sengaja tadi Andra melihat pria setengah bule yang tempo hari bersama Zara, pria yang di kenali dari foto yang di kirim oleh nomor tak di kenal.
Sebenarnya hari ini Andra berniat menanyakannya pada sang kekasih perihal siapa pria itu dan apa hubungan di antara mereka.
Kedatangan Fitri membuyarkan semua niatnya, andai Zara bersikap manja dan menolak Fitri untuk mengajaknya pergi, Andra akan sangat bahagia.
Tapi Zara bukanlah gadis manja seperti itu, Zara sudah terbiasa mandiri dan tegar, kepergianku tidak ada arti baginya.
Ahh memikikannya saja membuat dadaku sesak.
Kapan gadis itu sangat membutuhannya, kapan perasaannya tercurah seutuhnya hanya untuk dirinya, bahagia rasa hati Andra jika hati Zara utuh hanya miliknya.
Sementara Fitri dengan sikap manjanya selalu bersikap sangat menjengkelkan, dia begitu posesif dan mengekang, sedangkan di antara mereka tak ada hubungan lebih dari sekedar teman.
Fitri tampak asik memilih dasi untuk bingkisan kado hadiah, Andra duduk di sofa yang di sediakan pihak toko agar pelanggan bisa duduk istirahat.
"Ra, pulang tunggu aku ya" pesan yang Andra kirim ke Zara.
Menunggu jawaban dari Zara lebih dari empat puluh menit namun belum juga ada respon.
Apa kau begitu sibuk Ra?, Andra membatin.
Masih tak ada balasan membuat Andra kesal.
Sementara Fitri masih asik di sana dengan duniannya.
"Fit, apa masih lama?"
"Ah bentar lagi Ndra" ujarnya cepat.
Pria tampan itu kini bisa bernafas lega setelah Fitri menyudahi kegiatannya, mereka pun kembali pulang.
"Akan ku antar kau langsung pulang oke?" Andra tak ingin mendengar Fitri protes dan langsung melajukan mobilnya.
"Tapi aku masih ingin sama kamu Ndra."
"Aku sibuk Fit" jawab Andra tegas.
"Tapi kalau nanti malam kamu bisa temani aku kan?"
"Maaf Fit, aku ada acara."
Fitri mencebikan bibirnya kesal.
Andra bergegas langsung menjalankan mobil setelah mengantarkan Fitri ke rumahnya, sedangkan kedua pengawal pun tak lagi mengikutinya.
__ADS_1
"Huaaahh" ia mengambil nafas panjang, betapa tak nyaman kalau kemana-mana selalu di kawal, ujarnya.
Di lihatnya layar ponsel dan notifikasi yang ia tunggu tak juga datang.
Kapan aku menjadi prioritasmu Ra?,rutuk Andra lirih.
Sesampainya di resto, sosok pertama yang ia cari adalah Zara, dan ia hanya bisa tersenyum masam, Zara saat ini memang tengah sibuk, mana mungkin ia sempat membalas pesannya, batin Andra.
Jadilah miliku Ra, menikahlah denganku, tak akan ku biarkan kau bekerja seperti ini, semua yang kau ingin dan cita kan akan ku wujudkan, harap Andra.
"Sibuk Ra?"
"Heum" jawab Zara singkat padat namun mampu membuat pria tampan itu ketar ketir.
"Kamu marah sayang?" bisiknya.
Zara menggeleng kecil.
Andra menghempaskan pantatnya di dekat Zara, matanya melihat satu bungkusan cantik yang terletak di atas meja kasir.
"Apa itu sayang?" tanyanya sambil mengedikan dagunya ke arah Kado.
"Tadi ada yang kasih dari pelanggan."
Jawab Zara enteng, ia mana mungkin menjelaskan bahwa itu adalah bungkusan dari Manu, yang datang ke resto hanya untuk memberikan hadiah tersebut untuknya.
Besar rasa penasaran Andra namun ia masih bisa berfikir jernih, ia masih tak ada hak untuk mengetahui isi kado tersebut.
Andra dengan semangat empat lima segera bangun dan meminta Zara untuk bersiap pulang.
"Ayo pulang bareng aku" ucapnya.
Zara tak bisa berkutik saat Andra membawa tasnya.
"Aku kan bawa mobil Kak."
"Ia tauuk" ucap Andra singkat, ia tak mau ada penolakan dari Zara, ia akan meminta anak buahnya untuk menjemputnya nanti di apartement Zara.
Sepanjang perjalanan keduanya tetap hening.
"Kenapa tidak baca pesanku?" tanya Andra datar.
"Hm aku sibuk mana sempat buka ponsel."
"Ya, tapi kan buka pesan cuma butuh berapa detik sayang."
Andra sedikit kesal, jika para pasangan kekasih tentu akan gembira mendapat pesan dari kekasihnya, tapi Zara tetap terlihat biasa dan itu membuat Andra tak senang.
"Kapan kau sisakan waktumu untuku sayang" ujar Andra lembut.
Zara hanya menatap Andra sekilas.
Kau inginkan waktuku, sedangkan dirimu bersama orang lain, ujarnya lirih dalam hati.
__ADS_1
Di saat ia ingin benar-benar melabuhkan hatinya namun ternyata tak semudah yang ada dalam pikirannya, apakah benar Andra adakah pria yang tepat untuknya, Zara membatin.